Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, MERAUKE—Papua Paradise Center (PPC), Komunitas Menoken AnimHa, The Samdhana Institute dan Para Guru Penutur Bahasa Malind melakukan kegiatan Tur Sekolah dalam rangka menoken atau berbagi isi noken dan memperkenalkan Buku Saku Bahasa Malind menggunakan Dialek Onggari (Wanggali Milah), Dialek Duh Milah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Tim Penyusun Buku Saku Bahasa Malind adalah Kristina Balagaize (Penutur Wanggali Mayan), Ramla Winoto (Penutur Duh Milah Mayan) dan Gloria Damayanti Rumetna (Penerjemah Bahasa Inggris).
Kegiatan berlangsung di Aula SD YPPK Santo Johanes Don Bosco, Kampung Onggari, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Jumat (16/8/2024).
Siswa-siswi SD YPPK Santo Johanes Don Bosco Onggari menyanyi bersama Jingle Menoken Salam Menoken dan mengumandangkan yel yel “Utamakan Bahasa Indonesia Lestarikan Bahasa Daerah Kuasai Bahasa Asing”.

Siswa-siswi SD YPPK Santo Johanes Don Bosco Onggari mengumandangkan yel yel Utamakan Bahasa Indonesia Lestarikan Bahasa Daerah Kuasai Bahasa Asing, ketika kegiatan tur sekolah memperkenalkan Buku Saku Bahasa Malind di Aula SD YPPK Santo Johanes Don Bosco, Kampung Onggari, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Jumat (16/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Kepala SD YPPK Santo Johanes Don Bosco, Onggari, Jakobus Samderubun, SAg menyambut positif kegiatan menoken dan perkenalkan Buku Saku Bahasa Malind.
Jakobus mengatakan, pelajaran Bahasa Malind sangat penting bagi anak-anak, agar mereka lebih mengenal adat itiadat dan budayanya sediri.
Oleh karena itu, tuturnya, pihaknya sepakat menggunakan Bahasa Malind mulai Senin (19/8/2024) mendatang.
“Anak-anak setidaknya bisa saling menyapa selamat datang, selamat pagi dan lain-lain dalam Bahasa Malind,” ujar Jakobus.

Nokeners dari Mamta Piter Roki Aloisius, menjelaskan filosofi tas noken berupa rajutan di Aula SD YPPK Santo Johanes Don Bosco, Kampung Onggari, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Jumat (16/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Nokeners dari AnimHa, June Angel Rumateray mengatakan, Buku Saku Bahasa Malind dipersiapkan para penutur kurang lebih 2 bulan ini bertujuan untuk mempertahankan dan melestarikan Bahasa Malind.
June menjelaskan, berdasarkan survey dari Balai Bahasa Provinsi Papua, Bahasa Malind sudah berada di ambang kepunahan, karena minimnya para penutur aktif.
Selain itu, ucapnya, generasi Z pun sudah tidak fasih dalam menuturkan Bahasa Malind, sehingga PPC mengupayakan terbitnya buku saku ini, agar menjadi bahan ajar di sekolah formal.
Dikatakan SD YPPK Santo Johanes Don Bosco, Onggari menjadi salah satu sekolah yang menindaklanjuti kegiatan bersama Balai Bahasa Provinsi Papua “Revitalisasi Bahasa Ibu” yang dilakukan beberapa waktu lalu di Merauke.
“Kami mengunjungi sekolah tersebut, untuk memperkenalkan Buku Saku Bahasa Malind ini dan menyumbang, untuk inventaris sekolah,” kata June.
Ia berharap kedepannya baik pemerintah daerah bahkan dinas terkait dapat melihat persoalan ini sebagai masalah yang serius.
Sementara itu, Perempuan Malind Sang Pelopor Dimulainya Pengajaran Bahasa Ibu di Sekolah Alam Paradise, Mujina Kaize, SPd mengatakan, pihak Balai Bahasa Provinsi Papua mendukung penuh bahan ajar Bahasa Malind di sekolah-sekolah di seluruh Kabupaten Merauke, untuk melindungi dan melestarikan Bahasa Marind, yang terancam punah.

Perempuan Malind Sang Pelopor Dimulainya Pengajaran Bahasa Ibu di Sekolah Alam Paradise, Mujina Kaize, SPd, didampingi suami Duce Dinolek menunjukan salam menoken. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Menurutnya, Pemerintah Daerah Merauke merencanakan mensahkan Perda tentang Mulok Bahasa Marind pada September atau Oktober 2024.
Sebelumnya, kegiatan tur sekolah dalam rangka menoken dan memperkenalkan Buku Saku Bahasa Malind menggunakan Dialek Onggari (Wanggali Milah), Dialek Duh Milah, Indonesia dan Inggris digelar SD Inpres Polder Merauke, Senin (12/8/2024) dan di SMP YPK Merauke Selasa (13/8/2024) lalu. **











