Wamenpar dan Wamendagri Dipastikan Hadiri FBLB

Penampilan tari tradisional pada Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (30/7/2026). FBLB ke-34 dijadwalkan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026. (Foto: Istimewa)

Oleh: RF  I

PAPUAINSIDE.ID, WAMENA—Wamenpar Ni Luh Puspa dan Wamendagri Ribka Haluk, dipastikan menghadiri pembukaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada 7 Agustus 2026.

Festival budaya tahunan tertua di Papua itu akan berlangsung selama dua hari, 7–8 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan juga akan diramaikan dengan Wamena Kopi Festival pada 7–9 Agustus di kawasan Tugu Salib serta ditutup Carnaval Budaya Nusantara pada 10 Agustus 2026 dengan rute dari halaman Kantor Bupati Jayawijaya.

Wakil Ketua Pelaksana FBLB ke-34, Naftali Rumbiak, memastikan dua pejabat pemerintah pusat tersebut telah mengonfirmasi kehadiran pada pembukaan festival.

“Tamu dari pemerintah pusat, dua tamu ini sudah pasti hadir,” kata Naftali kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

Menurut Naftali, panitia juga masih menunggu kepastian kehadiran Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Ia dijadwalkan mengunjungi Jayapura untuk menyerahkan benda-benda arkeologi Papua ke Museum Universitas Cenderawasih (Uncen), sebelum kemungkinan melanjutkan perjalanan ke Wamena.

FBLB tahun ini menghadirkan konsep baru. Atraksi perang-perangan yang selama ini menjadi ikon festival tidak lagi ditampilkan dan digantikan dengan pertunjukan sosiodrama yang mengangkat kisah kehidupan masyarakat adat Lembah Baliem.


Wakil Ketua Pelaksana FBLB ke-34 Tahun 2026, Naftali Rumbiak. (Foto: Papuainside.id/RF)

Selain sosiodrama, pengunjung tetap dapat menyaksikan tari-tarian tradisional, Sikoko Puradan, Karapan Babi, serta pertunjukan Tiup Pikon. Enam sanggar akan tampil selama dua hari dengan cerita yang berbeda pada setiap pertunjukan.

Panitia juga mempertahankan sejumlah perlombaan. Lomba Karapan Babi menyediakan total hadiah Rp 20 juta, sedangkan Lomba Tiup Pikon yang terbuka untuk umum memperebutkan hadiah total Rp 5 juta.

Naftali mengatakan salah satu sosiodrama yang dipentaskan akan mengangkat prosesi pernikahan adat masyarakat Lembah Baliem sebagai upaya memperkenalkan nilai-nilai budaya yang mulai jarang diketahui generasi muda.

“Kalau datang ke festival, masyarakat akan mengetahui bagaimana tradisi dan prosesi pernikahan adat di Lembah Baliem yang sakral dan penuh makna,” ujarnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *