Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAKARTA—Rangkaian kegiatan Capacity Building Wartawan Jayapura 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Papua, kami berkesempatan menggelar wisata edukasi ke Museum Bank Indonesia (MUBI).
Wisata edukasi ini berlangsung seru, keren dan menyenangkan di kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Kami dipandu Nia, Edukator MUBI yang dengan semangat menjelaskan perjalanan panjang lembaga keuangan tertua di Indonesia ini.
Kami memasuki areal bangunan megah bergaya arsitek kolonial itu dulunya adalah kantor De Javasche Bank (DJB), Bank Sentral Hindia Belanda sebelum berdirinya Bank Indonesia. Kini, bangunan yang masih kokoh dan terawat ini menjadi saksi perjalanan sejarah ekonomi bangsa. MUBI menyimpan tak kurang dari 175.000 koleksi numismatik dan non numismatik dari masa kerajaan nusantara hingga era kemerdekaan.
“Kalau ingin memahami kejayaan ekonomi Indonesia di masa lalu, datanglah ke MUBI,” kata Nia membuka penjelasan. Di museum ini, sejarah bukan sekadar kisah masa silam, melainkan cermin perjalanan bangsa dalam membangun sistem keuangan yang kokoh dan berdaulat.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian kami adalah Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) 75 Tahun RI. Meski termasuk uang baru, desainnya merefleksikan semangat Indonesia yang telah 75 tahun berdiri tegak di tengah dinamika global. “Setiap gambar di uang ini mewakili daerah dari seluruh Indonesia. Desainnya bukan sekadar indah, tapi sarat makna kebangsaan,” ujar Nia.

Contoh uang tertua dari masa Kerajaan Nusantara, yang dikenal sebagai uang ma, terbuat dari emas seukuran biji kacang hijau. (Foto: Istimewa)
Koleksi Uang Ma
MUBI juga menyimpan koleksi uang tertua dari masa Kerajaan Nusantara, yang dikenal sebagai uang ma, terbuat dari emas seukuran biji kacang hijau. Pada masa itu, uang disimpan dalam kantong kecil seperti pot tanah liat. Jauh sebelum masa Hindu-Buddha, masyarakat Nusantara sudah mengenal alat tukar sederhana—kulit kerang di wilayah Papua, manik-manik di Bengkulu dan Pekalongan, hingga belincung (kapak batu kecil) di Bekasi.

Nia, Edukator Museum Bank Indonesia (MUBI), saat menjelaskan perjalanan panjang sejarah Bank Indonesia kepada peserta wisata edukasi. (Foto: Humas Bank Indonesia Papua)
Ruang Hijau
Perjalanan kami berlanjut ke Ruang Hijau, tempat yang dulu digunakan Dewan Gubernur Hindia Belanda bermusyawarah. Nama “Ruang Hijau” berasal dari ornamen keramik asli Venesia yang memberi nuansa adem dan elegan. Di ruangan ini, kami seolah dibawa kembali ke masa kolonial, ketika keputusan penting ekonomi negeri masih ditentukan di ruang-ruang berpendingin udara alami itu.

Contoh uang kertas rupiah pada masa “Gunting Syafruddin”, kebijakan moneter yang diberlakukan tahun 1950 oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara untuk menstabilkan ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan. (Foto: Istimewa)
“Gunting Syafruddin”
Kami juga menjumpai deretan foto-foto tokoh penting dalam sejarah Bank Indonesia, termasuk Syafruddin Prawiranegara, Pendiri dan Gubernur BI pertama (1953–1958). Namanya kini diabadikan sebagai salah satu gedung di kantor pusat BI Jakarta.
Dari Nia, kami kembali diingatkan pada kebijakan bersejarah “Gunting Syafruddin”, yang ditetapkan pada 10 Maret 1950 saat beliau menjabat Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II.
Kebijakan ini memotong uang kertas pecahan Rp 5 ke atas menjadi dua—bagian kiri bernilai setengah, bagian kanan diganti dengan obligasi negara. Tujuannya: menekan inflasi, menertibkan peredaran tiga jenis uang yang beredar (ORI, uang DJB, dan uang NICA), serta mengisi kas negara yang saat itu kosong. Meski kontroversial, “Gunting Syafruddin” menjadi langkah tegas yang menandai lahirnya kedaulatan moneter Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Faturachman, menyampaikan keterangan di sela kegiatan Capacity Building Wartawan Jayapura 2025 di Hotel Sari Pasific Jakarta, Kamis (9/10/2025). (Foto: Humas Bank Indonesia Papua)
Sejarah dan Peran BI
Kepala Perwakilan BI Papua, Faturachman, mengatakan kegiatan ini untuk mempelajari sejarah dan peran BI, memperkuat pemahaman terhadap kebijakan dan peran strategis BI dalam menjaga stabilitas ekonomi, ajang silaturahmi sekaligus sarana meningkatkan wawasan wartawan terhadap isu-isu moneter, sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial.
“Kami berharap kegiatan ini mempererat hubungan BI dengan media dan membantu wartawan memahami peran BI secara utuh,” ujar Faturachman.
Dari MUBI kami menuju Perum Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia) di Karawang, Jawa Barat, untuk melihat langsung proses pencetakan uang kertas dan logam. **













