Cerita dari Menoken Tano Batak di Samosir

Upacara adat penyambutan teman-teman saat Menoken Tano Batak. (Foto: Noken Mamta)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, JAYAPURA–Menoken Tano Batak  berlangsung tanggal 7-12 Oktober 2023 di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara masih menyisahkan cerita, terutama buat rekan-rekan dari perwakilan wilayah adat Mamta.

Turut hadir Menoken Tano Batak antara lain, BPAN Tano Batak, BPAN Pengurus Kampung Sihaporas, Gubuk Kreasi Bolang Toba, Solu, Komunitas Sekolah Alam Paradise Merauke, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Pemuda Yotoro, The Samdhana Institute Bogor dan Jakarta, Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Jakarta.

Saat pembukaan Menoken Tano Batak dilakukan upacara adat  oleh  Ketua Adat setempat sekaligus penyerahan ulos atau salah satu jenis kain khas masyarakat Batak sebagai tanda teman-teman diterima, untuk Menoken Tano Batak.


Ketua Kebun Tuli Yotoro, Anton Marweri mengalungkan noken kepada teman-teman saat pembukaan Menoken Tano Batak. (Foto: Noken Mamta)

Fasilitator Lokal The Samdhana Institute Papua, Lusia Langowuyo menyampaikan saat Menoken Tano Batak mereka berbagi cerita dan berbagi isi noken bersama teman-teman, yang selama ini mereka lakukan di wilayah adat Mamta.

Setidaknya, ada dua kegiatan, yakni usaha Kebun Tuli Yotoro kolaborasi Pemuda Yotoro dan Komunitas Tuli Jayapura (KTJ).

Ketua Kebun Tuli Yotoro,  Anton Marweri mengatakan pihaknya melakukan penanaman jagung super BISI-18 diatas lahan seluas 2 ha di Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Sekda Jayapura Hana Hikoyabi didaulat melakukan penanaman perdana jagung, Senin (25/9/2023).

“Teman-teman semangat sekali, untuk bekerja di kebun,” ujar Anton.


Petronela Giay dari Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) berbagi cara belajar bahasa isyarat saat Menoken Tano Batak. (Foto: Noken Mamta)

Petronela Giay mewakili teman-teman KTJ berbagi cara belajar bahasa isyarat dan belajar cara membuat kopi.

Nela adalah seorang barista, yang beberapa kali ikut pameran UKMK, diantaranya  Festival Negeri Seribu Ombak di Sarmi 19-23 September 2023.

Festival ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan pendukung Sail Teluk Cenderawasih (STC) 1-7 November 2023.

“Teman-teman sangat antusias belajar bersama membuat dan menyeduh kopi,” tutur Nela.

Nela juga seorang pengrajin noken atau tas khas masyarakat  Papua Pegunungan, yang bahannya  menggunakan kulit kayu.

Keseharian Nela ikut membantu orang tuanya merajut noken, untuk pemasukan ekonomi rumah tangga.

Lusia Langowuyo menuturkan, ia dan teman-teman mendapat hiburan dari anak-anak muda menyanyi menggunakan bahasa daerah Batak, untuk mengkomunikasikan satu sama lain salah satunya lewat lagu dan musik tradisionil.

“Sepertinya salah-satu tradisi yang sudah hilang di Papua, karena kita sudah lebih ke lagu dan musik modern, sehingga kita anggap bahwa itu kayak jadul istilahnya,” terang Lusia. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *