Menembus Badai, Menjaga Harapan: Srikandi PLN Terangi Ujung Timur Indonesia

Manager PLN ULP Manokwari Kota, Sirante Banne Ringgi (kiri), memimpin apel tim pelayanan teknik sebelum bertugas di Manokwari. Ia menekankan keselamatan kerja dan pelayanan empatik kepada pelanggan. (Foto: PT PLN UIW Papua dan Papua Barat)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan lagi sekadar sejarah di Tanah Papua. Semangat Kartini kini diwujudkan nyata oleh para perempuan tangguh yang menjaga listrik tetap menyala hingga ke pelosok. Jika dulu Kartini identik dengan kebaya anggun, para “Kartini” di PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat saat ini tampil beda dengan helm pelindung dan sepatu safety demi memastikan setiap rumah warga menikmati terangnya listrik.

Melalui keberanian teknis dan mengedepankan empati kemanusiaan, Margaret Mirino yang merupakan Manager PLN Unit Layanan Pelanggan Kurik dan Sirante Banne Ringgi seorang Manager PLN Unit Layanan Pelanggan Manokwari Kota, berhasil mengubah pandangan tentang kepemimpinan perempuan sekaligus mematahkan stigma bahwa sektor kelistrikan bukan hanya didominasi oleh laki-laki.

Bagi Margaret Mirino, memimpin ULP Kurik yang merupakan wilayah lumbung pangan di Kabupaten Merauke adalah pengabdian tanpa batas waktu. Sebagai putri asli Papua, ia mewarisi semangat pengorbanan Kartini yang ia terjemahkan ke dalam aksi nyata, menyusuri jalanan berlumpur dan persawahan terisolasi demi memastikan aliran listrik tak terputus.

Ketangguhannya teruji saat badai menerjang pada suatu dini hari di musim panen. Margaret dan timnya menembus medan licin untuk memperbaiki jaringan yang tertimpa pohon, memastikan proses penggilingan padi warga tidak terhenti.

“Bagi saya, ini bukan sekadar tugas teknis. Ini adalah perjuangan menjaga harapan masyarakat agar hasil panen mereka tetap terjaga. Di PLN, kami tidak hanya mengalirkan listrik, tapi juga mengalirkan masa depan,” kenang Margaret.

Ia memegang teguh prinsip keberanian tanpa batas gender. “Tong bisa karena tong biasa,” ujarnya bangga. Menurutnya, rasa hormat dari tim akan tumbuh dengan sendirinya saat seorang pemimpin berani turun langsung mencari solusi di lapangan.

Di sisi lain Papua, Sirante Banne Ringgi menghadapi tantangan yang berbeda. Sebagai Manager ULP Manokwari Kota, ia berada di pusat dinamika pemerintahan Provinsi Papua Barat dengan tekanan pelanggan perkotaan yang tinggi.

Memimpin tim Pelayanan Teknik yang mayoritas laki-laki, senjata utama Sirante bukanlah gaya otoriter, melainkan komunikasi yang mengayomi. Ia memahami bahwa pemadaman bukan hanya masalah kabel, melainkan masalah kepercayaan.

“Gangguan teknis bisa diatasi, namun menjaga kepercayaan masyarakat adalah tantangan sebenarnya. Saya selalu menekankan kepada tim untuk mengutamakan keselamatan dan meredam emosi pelanggan dengan empati,” jelas Sirante.

Baginya, pemimpin perempuan memiliki insting alami untuk merangkul dan menenangkan situasi krisis. Hal inilah yang menjadi kekuatan utamanya dalam membina tim operasional teknis agar tetap solid.

General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menegaskan bahwa kehadiran pemimpin perempuan adalah bukti nyata integritas perusahaan dalam memberikan ruang bagi kapabilitas, bukan sekadar memenuhi kuota.

“Srikandi PLN memiliki kombinasi unik, ketelitian teknis yang tajam dan empati yang tinggi. Di bawah kepemimpinan mereka, tantangan seberat apa pun di lapangan dapat diselesaikan dengan hati dan dedikasi luar biasa,” pungkas Roberth melalui Siaran Pers, Jumat (1/5/2026).

Kiprah Margaret dan Sirante adalah representasi semangat Kartini Modern. PLN UIW Papua dan Papua Barat terus berkomitmen mendukung lingkungan kerja inklusif, memastikan cahaya pembangunan terus benderang dan berkelanjutan di seluruh Tanah Papua. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *