Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Di ujung timur Indonesia, Rupiah memiliki perjalanan yang tidak sederhana. Untuk sampai ke tangan masyarakat Papua yang tinggal di pulau-pulau kecil, uang negara harus melewati laut yang luas, jarak yang jauh, dan tantangan geografis yang tidak mudah.
Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, Rupiah bukan sekadar alat pembayaran. Rupiah hadir dalam setiap transaksi kecil, menggerakkan perdagangan, membantu usaha masyarakat, dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi sehari-hari.
Karena itu, menjaga Rupiah berarti menjaga denyut ekonomi masyarakat. Bank Indonesia tidak hanya memastikan uang tersedia, tetapi juga menjaga kualitas uang yang beredar, menarik uang tidak layak edar, serta memberikan edukasi agar masyarakat memahami dan mencintai Rupiah.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Marlison Hakim, menjelaskan penyediaan Rupiah di seluruh wilayah Indonesia merupakan bagian dari tugas Bank Indonesia.
“Uang yang beredar harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus tetap terjaga kualitasnya,” ujar Marlison Hakim.
Upaya menghadirkan Rupiah hingga wilayah terpencil dilakukan melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB). Bersama TNI Angkatan Laut, Bank Indonesia menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan terpencil yang sulit diakses melalui jalur darat.
Pada ERB Papua 2024 menggunakan KRI Mata Bongsang-873, perjalanan Rupiah menjangkau Pulau Pai, Pulau Owi, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, dan Pulau Bras.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Faturachman, mengatakan ERB merupakan bentuk pelayanan agar masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh Rupiah layak edar sekaligus memahami pentingnya menjaga mata uang negara.
“Masyarakat di wilayah 3T selain memperoleh uang Rupiah dalam kondisi baik, juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mengenali dan menjaga mata uang negara,” kata Faturachman.
Bagi warga pulau, kedatangan layanan kas keliling membawa arti lebih besar dari sekadar penukaran uang. Masyarakat dapat mengganti uang yang sudah lusuh dengan uang layak edar tanpa harus menempuh perjalanan jauh menuju pusat ekonomi.
Anggota DPRK Waropen, Kaleb Woisiri, melihat langsung manfaat kegiatan tersebut bagi masyarakat.
“Rangkaian kegiatan ERB ini sangat bermanfaat dan membantu masyarakat memperoleh uang Rupiah layak edar,” ujar Kaleb.
Di balik lembaran Rupiah yang sampai ke tangan masyarakat Papua, terdapat cerita tentang pedagang kecil, nelayan, dan keluarga yang terus menjalankan aktivitas ekonomi. Rupiah menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat dan roda ekonomi di kampung-kampung pesisir.
Pemerintah Provinsi Papua juga memberikan apresiasi terhadap upaya menghadirkan Rupiah hingga wilayah terluar. Penjabat Sekretaris Daerah Papua, Derek Hegemur, menilai edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah (CBP Rupiah) penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang negara.
“Jangan sampai ada uang kertas lain yang diyakini sebagai uang di tengah masyarakat,” ujar Derek.
Perjalanan Rupiah di Papua tidak dapat dilakukan sendiri. Dukungan TNI Angkatan Laut menjadi bagian penting dalam membuka akses pelayanan hingga wilayah yang sulit dijangkau.
Danlantamal X Jayapura, Brigjen TNI (Mar) Ludi Prastyono, menegaskan keterlibatan TNI Angkatan Laut dalam ERB merupakan bentuk dukungan terhadap tugas negara.
“Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa harus kita jaga sebagai wujud nyata bela negara,” ujar Ludi.
Perjalanan panjang Rupiah di Papua adalah cerita tentang menjaga kepercayaan. Dari pusat kota hingga pulau terdepan, Rupiah terus bergerak merawat ekonomi masyarakat dan memperkuat kehadiran negara.
Sebab ketika Rupiah hadir, ekonomi bergerak. Dan ketika ekonomi bergerak, harapan masyarakat tetap tumbuh hingga ujung timur negeri. **













