Menoken: dari Papua untuk Nusantara dan Dunia

Suasana menoken peringatan HUT III Menoken Mamta di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (11/3/2024) petang. (Foto: Alexander Ratulangi)

Oleh: Makawaru da Cunha I

PAPUAinside.id, SENTANI—Peringatan HUT III Menoken Mamta,  diselingi kegiatan menoken di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (11/3/2024) petang.

Kegiatan menoken mengusung Tema “Menoken dari Papua untuk Nusantara dan Dunia”.

Nokeners diajak mendengar kembali “Janji Yotoro”, yang dibacakan Kepala Program LLS Ambrosius Ruwindrijarjo melalui tape recorder.

Gerakan menoken tak hanya dilakukan Komunitas Menoken Mamta, tapi juga komunitas di wilayah budaya lain di Tanah Papua, seperti di Animha, Saireri dan Domberai.

Kilas Balik  Menoken

Yuniken Mayangsari, Nokeners dari Bogor menyampaikan kilas balik  kegiatan menoken, yang berawal dari inisiasi The Samdhana Institute, Non Government Organisation  atau NGO yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat.

Ambrosius Ruwindrijarjo, yang memberikan ide mengenai filosofi menoken.

Niken menjelaskan, kegiatan menoken pertama dilakukan di Jawa tahun 2020 di saat pandemi Covid-19.

“Kita dari Jawa Barat sampai Jawa Tengah, untuk  sosialisasi menoken,” ujar Niken.  

Ambrosius Ruwindrijarjo mendapatkan ide menoken, setelah pertemuan bersama teman-teman dari Papua.

Kemudian waktu bergulir tibalah saatnya mengembalikan kegiatan menoken ke Tanah Papua.

“Jadi disitulah pertama kali kami membawa noken tersebut, karena dari noken untuk Nusantara. Tapi kami kembangkan lagi jadi noken untuk dunia, yang dimulai dari tanah Papua,” jelas Niken.

Tentu saja kegiatan menoken tak hanya di Jawa, tapi juga di beberapa tempat lainnya mitra The Samdhana Institute, yang ada di Indonesia Timur dan di seluruh kegiatan di tempat  mitra.

Niken mengatakan, ia mengikuti kegiatan menoken sejak launching Menoken Mamta I  di Bukit Yotoro 12 Maret 2021 lalu.

“Saya ikut menoken sudah beberapa kali dan saya  ingin terus-terusan ikut. Saya pingin tahu nanti untuk mengungkapkan kenapa pingin ikut menoken terus menerus, ” ungkap Niken.  

Belajar Bahasa Isyarat

Selain itu, Niken mengharapkan semua teman-teman Komunitas Menoken Mamta bisa menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI).

“Belajar bahasa isyarat yang paling efektif adalah dari teman-teman tuli. Dan mereka bersedia mengajar bahasa isyarat Indonesia atau Bisindo, untuk teman-teman dengar,” tukasnya.

Niken menambahkan, Komunitas Tuli Jayapura ingin membangun akses, agar semua orang bisa berkomunikasi dengan mereka.

Koordinator Samdhana Institut Papua, Piter Roki Aloisius, ketika memberikan sambutan. (Foto: Alexander Ratulangi)

Mesti Muncul Dalam Diri Komunitas

Koordinator Samdhana Institut Papua, Piter Roki Aloisius mengatakan, gerakan menoken selama tiga tahun ini terus tumbuh dan berkembang.

Menurut Roki, jika dinilai dari kwalitas dan kwantitas memang belum sepenuhnya terjangkau, tapi setidaknya ada pergerakan menoken, yang dapat menjalin kerjasama dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Hal ini sebagaimana sudah dilakukan di Pusat Pembelajaran Komunitas Hena Uwakhe Imea atau Hena Uwakhe Imea Community Learning Center (CLC) di RT 6 Hena, Jalan Ifar Gunung, Kelurahan Sentani Kota, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.   

Rumah Pengeringan Vanili Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Namblong, Kampung Nimbokrangsari, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.   

Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dan penanaman pohon kelor di Bukit Yotoro.   

Bahkan gerakan menoken di Sarmi lebih kuat. “Setiap pertemuan apapun mereka saling mengajak ayo mari menoken. Jika menoken dianggap memberi manfaat silakan lalukan,” terang Roki. 

Roki mengharapkan gerakan menoken ini mesti muncul dalam diri komunitas-komunitas setempat, untuk terus bergerak dan berkembang secara mandiri.  

Menurut Roki, pihak mencoba untuk model kolaborasi antara teman-teman dengar dengan teman-teman difabel dalam hal ini Komunitas Tuli Jayapura.

Di Kebun Tuli Yotoro, ujar Roki, sudah menghasilkan dan menjadi pembelajaran dalam kegiatan penanaman jagung dan sayuran-sayuran.

Komunitas Pemuda Yotoro sebelumnya tak berkecimpung dalam bidang pertanian, tapi kini sudah mulai mengetahui bercocok tanam.

Begitu juga dengan teman teman Komunitas Tuli Jayapura, akhirnya mengetahui menanam jagung, ternyata dengan bertani dan bercocok tanam juga bisa memberikan manfaat ekonomi.

Roki mengatakan, kegiatan menoken ini turut dihadiri Novela Yumte, Anggota BUMMA Mare, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya.

“Kebetulan mereka ada kegiatan di Jayapura dan bertepatan juga dengan kegiatan ini mereka sempatkan untuk hadir, sehingga mereka bisa lihat kegiatan disini dan semoga kegiatan kegiatan yang baik disini  bisa mereka pulang untuk bisa juga lakukan disana,” katanya.   

Tanissa Puti Rahmadiva, Nokeners dari Purwakarta menyampaikan pesan kepada Komunitas Menoken Mamta, agar tetap semangat, tetap menjaga alam dan cintai lingkungan.  

“Dari situ akan bermanfaat untuk lingkungan di sekitar kita, walaupun dalam hal kecil,” katanya.

Refleksi Perjalanan Tiga Tahun

Ketua Komunitas Tuli Jayapura Stephany Chrisma Lidya Woen menyampaikan suka cita bersama teman-teman ikut hadir memperingati HUT III Menoken Mamta.

“Peringatan HUT III Menoken Mamta ini tentunya digunakan, untuk refleksi perjalanan selama tiga tahun,” kata Stephany.

“Saya bahagia, karena bisa menoken dan camping bersama teman-teman,” katanya.   

Anggota Komunitas Pemuda Yotoro, Marlyn Marweri mengatakan ia mengikuti kegiatan menoken sejak 2021.

“Saya sudah belajar banyak hal dari menoken dan mengenal banyak teman-teman menoken Mamta,” tutur Marlyn.

Mengaduk Pupuk Negentropi

Di akhir kegiatan menoken dilakukan pelatihan singkat mengaduk pupuk negentropi difasilitasi Lusia Langowuyo.

Peringatan HUT III Menoken Mamta diawali sesi perkenalan.

Nokeners membangun beberapa camping ground, untuk menginap semalam. 

Peringatan HUT III Menoken Mamta ini terasa istimewa, karena bertepatan dengan ibadah puasa.

Teman-teman yang ikut sahur disediakan makanan instan, seperti roti, pop mie, biscuit dan lain-lain.

Selain Komunitas Menoken Mamta, turut hadir juga komunitas lainnya, seperti  Komunitas Vespa Jayapura, Komunitas Jalan Jalan Sore, Komunitas Rumah Bakau, Earth Hour Jayapura, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Pemuda Yotoro, BUMMA Mare, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, Nokeners dari Bogor, Nokeners dari Purwakarta dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya.

Hadir pula JBI Alin Sharina, yang bertugas menterjemakan Bisindo, untuk teman-teman dengar. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *