Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, MERAUKE—Papua Paradise Center (PPC), Komunitas Menoken AnimHa, The Samdhana Institute dan Para Guru Penutur Bahasa Malind, menggelar kegiatan tur sekolah dalam rangka memperkenalkan buku saku Bahasa Malind kepada siswa SD Inpres Polder, Merauke, Papua Selatan, Senin (12/8/2024)
Buku Saku Malind meliputi Dialek Wanggali Milah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Tim Penyusun Buku Saku Bahasa Malind adalah Kristina Balagaize (Penutur Wanggali Mayan), Ramla Winoto (Penutur Duh Milah Mayan) dan Gloria Damayanti Rumetna (Penerjemah Bahasa Inggris).
Nokeners dari AnimHa Yune Angel mengatakan, Buku Saku yang digarap oleh para penutur kurang lebih 2 bulan ini bertujuan untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa Malind, karena berdasarkan survey dari Balai Bahasa Provinsi Papua, Bahasa Malind sudah berada di ambang kepunahan, karena minimnya para penutur aktif.
Selain itu, ujarnya, Generasi Z pun sudah tidak fasih dalam menuturkan Bahasa Malind. Sehingga PPC mengupayakan terbitnya buku saku ini, agar menjadi bahan ajar di sekolah formal.

Siswa SD Inpres Polder, Merauke, Papua Selatan, menunjukan salam menoken, usai menoken dan memperkenalkan buku saku Bahasa Malind, Senin (12/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Yune mengutarakan, SD Inpres Polder menjadi salah satu sekolah yang menindaklanjuti kegiatan bersama Balai Bahasa Provinsi Papua “Revitalisasi Bahasa Ibu” yang dilakukan beberapa waktu lalu di Swiss-Belhotel Merauke, sehingga pihaknya mengunjungi sekolah tersebut untuk memperkenalkan buku saku ini dan menyumbang sejumlah buku saku menjadi inventaris sekolah.
Yune mengharapkan kedepannya baik pemerintah daerah bahkan dinas terkait dapat melihat persoalan ini sebagai masalah yang serius.
“Jangan sampai Merauke menuju Indonesia emas di tahun 2045 dengan tangisan para leluhur bangsa Malind, karena bahasa Malind hanya menjadi cerita bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Penyerahan Buku Saku Bahasa Marind di SD Inpres Polder, Merauke, Papua Selatan, Senin (12/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Guru Bahasa Malind SD Inpres Polder, Merauke Mariana Margaretha Nussy mengatakan, pelajaran Bahasa Malind dimulai sejak 2023 lalu, diikuti 29 siswa.
“Saya merasa terpanggil, untuk melestarikan Bahasa Malind,” tuturnya.
Menurut Mariani, SD Inpres Polder beberapa kali ikut lomba mendongeng Bahasa Malind antar SD se Kabupaten Merauke.
“Kami dua kali ikut, masing-masing tahun 2023 meraih juara pertama dan tahun 2024 juara kedua,” tandas Mariani.
Siswa Kelas V C SD Inpres Polder, Merauke, Keren Atek mengatakan ia dan teman-temannya senang dan bangga bisa belajar Bahasa Malind.
“Kami ingin gunakan Bahasa Malind sehari-hari,” tandas putri asal Suku Muyu ini.

Papua Paradise Center (PPC), Komunitas Menoken AnimHa, The Samdhana Institute dan Para Guru Penutur Bahasa Malind, berpose bersama usai menoken dan memperkenalkan buku saku Bahasa Malind di SD Inpres Polder, Merauke, Papua Selatan, Senin (12/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Pelopor Pengajaran Bahasa Ibu di Sekolah Alam Paradise, Mujina Kaize mengatakan pihaknya terus berupaya melatih anak-anak mendongeng, membaca puisi, bercerita, nyanyian rakyat menggunakan Bahasa Malind.
Mujina menerangkan, pada Festival Tunas Bahasa Ibu di Merauke, ternyata tujuh anak didiknya semua mendapat juara.
Menurutnya, pemerintah daerah merencanakan membahas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Bahasa Malind pada September atau Oktober 2024 mendatang.**













