Peringati HUT III Menoken Mamta, Yotoro Panggil Pulang

Nokeners menanam pohon kelor, ketika memperingati HUT III Menoken Mamta di Bukit Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (12/3/2024). (Foto: Alexander Ratulangi)

Oleh: Makawaru da Cunha I

PAPUAinside.id, SENTANI—HUT III Menoken Mamta diperingati di Bukit Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (12/3/2024).

HUT III Menoken Mamta ini didukung The Samdhana Institute mengusung Tema “Yotoro Panggil Pulang” dengan puncak kegiatan penanaman 100 pohon kelor.

Nokeners berangkat dari Kebun Tuli Yotoro menuju Dermaga Paathouw berjarak 1 km. Lalu naik speed boat selama 5 menit menuju ke Bukit Yotoro. Tiba di Bukit Yotoro dilanjutkan berjalan kaki naik ke Bukit Yotoro.

Di Puncak Bukit Yotoro, Nokeners disambut angin sepoi basah dan menyaksikan pemandangan alam indah dan eksotik yang terbentang diatas Danau Sentani.     

Nokeners menanam di 75 lubang yang telah disiapkan. Sebelum menanam ditabur pupuk organik atau negentropi sebanyak 50 kg produksi Komunitas Menoken Mamta.

Nokeners menanam pohon kelor, ketika  memperingati HUT III Menoken Mamta di Bukit Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (12/3/2024). (Foto: Alexander Ratulangi)

Janji Yotoro

Sebagaimana diketahui, gerakan menoken di Tanah Papua pertama kalinya dilaksanakan di Jayapura, yaitu di Bukit Yotoro, 12 Maret 2021 Pukul 23.30 WIT, dilauching Mathius Awoitouw, yang saat itu menjabat  Bupati Jayapura, sekaligus lahirnya Janji Yotoro, yang saat itu dibacakan langsung Kepala Program LLS Ambrosius Ruwindrijarjo.

Para pemuda yang hadir saat itu bertekad untuk kembali menghijaukan Bukit Yotoro dan menjadi prinsip-prinsip toleransi, keterbukaan, konektifitas dengan merajut kebersamaan.

Nokeners bersama mengumandangkan kembali Janji Yotoro dipimpin Lusia Langowuyo.   

Pertama, kami akan membangun berdasarkan nilai-nilai adat. Kami akan turut membangkitkan perjuangan masyarakat adat. Kami akan melapor pada para tetua adat meminta restu atas segala yang akan kami lakukan di tanah adat ini. Kedua, kami akan bergotong-royong dengan semangat dengan niat kuat membangun tempat ini.

Ketiga, mulai malam ini kami akan tegas kepada diri sendiri dan kepada siapapun bahwa tempat ini akan bersih dari sampah. Keempat,  kami akan segera memulai penanaman bukit ini dengan royong gotong royong dan semangat kebersamaan.

Kelima, kami akan menghayati dan melaksanakan nilai-nilai filosofi Noken kasih kerahiman kelenturan dalam kekuatan keterbukaan merajut persaudaraan merawat kehidupan.

Lahan Kritis

Koordinator Samdhana Institut Papua, Piter Roki Aloisius mengatakan, kegiatan penanaman pohon di Bukit Yotoro sudah dilakukan beberapa kali, tapi  kenyataannya Bukit Yotoro memiliki kondisi tanah kritis dan miskin hara.

“Jadi keberhasilannya memang sangat kecil, tapi setidaknya ada beberapa tanaman kelor dan casuarina tumbuh berkembang,” ungkap Roki.  

Roki menjelaskan, pihaknya menanam kelor untuk uji coba minimal bisa tumbuh-kembang, sebagaimana saran dari teman ahli tanaman bahwa kelor berfungsi memperbaiki unsur hara dan daunnya dikonsumsi, karena memiliki kandungan protein tinggi, khusus untuk anak anak, ibu hamil dan menyusui.

“Kami kedepan rencana membuat tumpangsari dengan tanaman siri,” ungkapnya.  

Pengikisan Air

Adanya keprihatinan terjadi pengikisan air atau erosi di Bukit Yotoro, jelas Roki, keprihatinan ini sudah disampaikan melalui Janji Bukit Yotoro.

Dikatakan, jika tak ada upaya yang lebih kuat untuk menyelamatkan lokasi ini, maka 10 atau 20 tahun kedepan Bukit Yotoro akan hilang dan tenggelam, lantaran pengaruh perubahan iklim sebagaimana beberapa pulau di Indonesia yang sudah tenggelam.

“Kita sudah beberapa kali melakukan penanaman di Bukit Yotoro, tapi pertumbuhannya sangat lama. Bahkan sebagian besar mati, karena kondisi tanah sangat kritis,” ucap Roki.

Meski demikian, ujarnya, penanaman terus dilakukan sembari melakukan perawatan menggunakan pupuk negentropi  dan monitoring, untuk memastikan tanaman tumbuh dan berkembang.

Roki menerangkan, pihaknya mengharapkan peran para pemuda secara mandiri atau merasa bahwa menjaga lingkungan adalah tanggungjawab bersama.

“Kita juga pakai pupuk organik atau negentropi, untuk memperbaiki unsur hara Bukit Yotoro,” tuturnya.

Menurut Roki, Bukit Yotoro sebenarnya tinggal di poles sedikit bisa memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat, untuk pengembangan wisata.  Sebagaimana Bukit Tungku Wiri, yang kini menjadi destinasi wisata andalan di Kabupaten Jayapura.

Bukit Yotoro jika dibangun fasilitas seperti dermaga, tangga naik, gazebo, camping groud, cafe, kamar mandi toilet, maka akan berkembang menjadi potensi wisata untuk dijual dan dinikmati wisatawan.

Terasering

Salah satu upaya untuk mengatasi erosi di Bukit Yotoro, Roki mengusulkan agar dibuat terasering, untuk menahan laju air. Tapi tentunya membutuhkan biaya yang tak kecil, seperti mobilisasi alat berat memanfatkan dana kampung.

Tapi bisa juga dilakukan secara bersama atau gotong royong. Hanya saja keaslian Bukit Yotoro mesti terus dijaga dan dipelihara, seperti dibuat arsitek lokal pasti menarik.

Berdampak ke Danau Sentani

Tanissa Puti Rahmadiva, Nokeners dari Purwakarta, mengatakan Bukit Yotoro adalah bukit yang gersang dan tandus. Tapi kini mulai tumbuh tanaman hasil penanaman yang terus berlanjut oleh Komunitas Menoken Mamta dan juga masyarakat adat sekitarnya.

Kegiatan penanaman di Bukit Yotoro itu akan berdampak ke Danau Sentani. Kenapa, jika misalnya kurangnya resapan air melalui akar-akar pohon, maka tanahnya akan mengalami degradasi kebawah danau dan akan membuat danau menjadi dangkal.

“Dan kita bisa lihat di pinggiran danau sudah mulai dangkal dan ekosistem didalamnya terganggu otomatis danaunya akan makin menyusut. Ini akan berdampak pada lingkungan dan juga masyarakat yang tentunya nota bene sebagai nelayan,” ujar Tanissa.

Tanissa menjelaskan, masalah utama di Bukit Yotoro adalah tak ada resapan air hujan dengan penahan pohon. Jadi tanah akan terus tergerus kebawah, sehingga perlu menanam pohon.

Disamping itu, ujarnya, Bukit Yotoro memiliki potensi besar untuk pariwisata, seperti pemandangan alam, gugusan pulau dan bukit yang indah dan eksotik.

“Pemandangannya tak kalah dengan negeri lain. Kalau diketahui orang luar itu pasti pada mau kesana dan saya jamin begitu,” tuturnya.

Obyek Wisata

Kepala Kampung Kwadeware, Markus Tungkoye menjelaskan pihaknya ingin kawasan Bukit Yotoro menjadi salah-satu obyek wisata di Kabupaten Jayapura.

Dalam Musrenbang 2024, terangnya, telah disetujui pembangunan dermaga Paathouw dan tangga trap naik ke Bukit Yotoro.

Kedepan, katanya, pihaknya merencanakan membangun fasilitas pendukung obyek wisata, yakni  air bersih, listrik, kamar mandi/toilet dan lain-lain.

“Kami rencana mengadakan pipanisasi, untuk pengadaan air bersih dan bak penampungan air bersih,” ujarnya.

Sebagai pemilik Bukit Yotoro, tukasnya, pihaknya  memberikan keleluasaan dan sebebas-bebasnya, untuk apapun kegiatan Komunitas Menoken Mamta mulai hari ini dan kedepan, untuk pengembangan wisata Bukit Yotoro. 

Dikatakan  Kampung Kwadeware adalah salah-satu kampung peradaban dan sejarah sebagai lokasi pemukiman pertama di sekitar danau Sentani, yang terdiri dari  tiga kampung. Masing-masing di Timur ada Kampung Asei,  di Tengah kampung Sere dan di Barat kampung Kwadeware.

Dari Pulau Yotoro ini penduduk menyebar ke Doyo, Sosiri, Yakonde, Dondai.

Tanissa Puti Rahmadiva, Nokeners dari Purwakarta, didampingi  Koordinator Samdhana Institut Papua, Piter Roki Aloisius bersama Kepala Kampung Kwadeware, Markus Tungkoye. (Foto: Alexander Ratulangi)

Lestarikan Budaya

Anggota BUMMA Mare Novela Yumte mengatakan,  kegiatan menoken di Kebun Tuli Yotoro dan penanaman pohon kelor di Bukit Yotoro sangat menyenangkan.  

“Kita sebagai anak-anak muda harus mempertahankan kita lestarikan kita punya budaya, menjaga dan melindungi alam kita,” kata Novela.

Anggota Earth Hour Jayapura, Beatriks Wambrauw menuturkan menyambut baik peringatan HUT III  Menoken Mamta, yang diisi dengan kegiatan menoken dan penanaman pohon kelor, untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

“Saya bisa belajar menoken dan bahasa isyarat bersama teman-teman,” ujar mahasiswa Universitas Ottow Geissler Papua ini.

Anggota Komunitas Pemuda Yotoro, Marlyn Marweri mengatakan ia terlibat aktif kegiatan menoken sejak 2021 bertepatan dengan launching Menoken Mamta  di Bukit Yotoro.   

“Itulah alasan saya dan teman-teman kembali ke Bukit Yotoro, karena Yotoro panggil pulang,” ujar Marlyn.

Turut hadir di HUT III Menoken Mamta, selain Komunitas Menoken Mamta, juga hadir komunitas lainnya, seperti  Komunitas Vespa Jayapura, Komunitas Jalan Jalan Sore, Komunitas Rumah Bakau, Earth Hour Jayapura, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Pemuda Yotoro, Nokerners dari Bogor, Nokeners dari Purwakarta, BUMMA Mare, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya dan beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya.

Hadir pula Juru Bahasa Isyarat (JBI) Alin Sharina, yang bertugas menterjemakan bahasa isyarat, untuk teman dengar. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *