JendraNath Promosi Ekowisata Jayapura ke Manca Negara

Tim JendraNath, ketika trekking hutan, untuk melihat goa sejarah tempat kelelawar di Kampung Berap, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: Komunitas Noken Mamta/Naomi Waisimon)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—JendraNath ikut  mempromosikan ekowisata di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua ke manca negara. Ekowisata tersebut dikelola komunitas adat dan komunitas lokal setempat.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara JendraNath, Samdhana Institute dan Mitra BUMMA (Badan Usaha Milik Masyarakat Adat), digelar 5-12 September 2023, masing-masing Dibiarma Darmawan dari Denpasar, Bali, dan Asima Rahtu Yunida dari Jakarta.

Sedangkan Bahrul Septian dari Tim Mitra BUMMA Mare, bergabung bersama di Jayapura.

Pengelola JendraNath, Dibiarma Darmawan, ketika dikonfirmasi, Selasa (12/9/2023) menjelaskan JendraNath melakukan kegiatan menoken, berdiskusi dan bertukar pikiran bersama komunitas adat dan komunitas lokal di Jayapura.

Tim JendraNath bersama Komunitas Noken Mamta, Glori Norotumilena dan Naomi Waisimon, mengunjungi sejumlah komunitas adat dan komunitas lokal sekaligus menyaksikan dari dekat destinasi wisata, yang dikelola komunitas adat dan komunitas lokal setempat

Antara lain, Kampung Hena di  Distrik Sentani Kota, Kampung Abar di Distrik Ebungfao, Kampung Berap di Distrik Nimbokrang, Kampung Kwadeware di Distrik Waibu, Kampung Nimbongkrasari di Distrik Nimborkrang dan Kampung Rhepang Muaif di Distrik Nimbokrang.


Anggota Komunitas Noken Mamta, Glori Norotumilena, menunjuk produk gerabah, ketika mengunjungi Kampung Abar di Distrik Ebungfao, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: Komunitas Noken Mamta/Naomi Waisimon)

Di Kampung Hena terdapat Pusat Pembelajaran Komunitas Hena Uwakhe Imea, yang menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang pariwisata, kebudayaan dan konservasi lingkungan.

Di Kampung Abar, Tim JendraNath  menyaksikan tradisi pembuatan gerabah, sekaligus ke lokasi pengambilan jenis tanah yang halus, untuk pembuatan gerabah.

Kampung Abar adalah produksen gerabah satu-satunya di Kabupaten Jayapura, yang masih aktif hingga saat ini, yakni Kelompok Gerabah Titian Hidup, yang diketuai dan diorganisir oleh Naftali Felle bersama pengrajin gerabah kampung Abar.

Kampung Abar memiliki agenda tahunan yakni Pesta Makan Papeda di Sempe “Helay Mbay Hote Mbay” setiap tahunnya diadakan tanggal 28-30 September sejak tahun 2017.

Hingga kini telah terlaksana 3 kali dan mendapatkan respon yang sangat baik dari masyarakat.

Pesta Makan Papeda ini sempat terhenti, akibat pandemi Covid-19. Tahun ini menjadi tahun ke-4 digelar pesta makan papeda.

Dibiarma mengatakan, Tim JendraNath menikmati papeda yang disajikan menggunakan sempe atau tempat makan papeda tradisional Suku Sentani, yang terbuat dari gerabah dan hote atau piring ikan.

Di Kampung Abar juga ada Situs Khulutiyauw, yang merupakan jalan arwah peninggalan dari masa megalitik.

 

Tim JendraNath, ketika berkunjung ke lokasi pemantauan burung cenderawasih kuning di Isyo Hill’s Ecotourism,  Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: Komunitas Noken Mamta/Naomi Waisimon) 

Kemudian, Tim JendraNath menikmati paket wisata 3 hari 2 malam di Kampung Berap, yang dikelola BUMMA Namblong.

“Pengalaman yang menyenangkan, kami menikmati pangan lokal serta menginap di rumah warga,” kata Dibiarma.

Tim JendraNath dipandu Tim Ekowisata Kampung Berap melakukan trekking hutan, untuk melihat goa sejarah tempat kelelawar, pemantauan burung cenderawasih kuning, air terjun cenderawasih, legenda Kali Biru ditutup dengan menikmati keasrian Kali Biru dengan pengalaman naik benen selama 40 menit.

Dilanjutkan menikmati pemantauan burung cenderawasih 12 kawat dan cenderawasih kuning di Isyo Hill’s Ecotourism di Kampung Rhepang Muaif.

Terakhir, mereka mengunjungi lokasi pengembangan vanili di Kampung Nimbokrangsari yakni Rumah Pengeringan Kebun Vanila, yang dikelola BUMMA Namblong bersama petani di Wilayah Adat Namblong.

Dibiarma menuturkan, JendraNath ingin mendorong komunitas masyarakat, untuk mengelola sendiri destinasi wisata yang ada.

“Kita coba bantu dan benar-benar bottom-up atau dari bawah ke atas, karena merekalah pemilik atau pengusaha destinasi wisata tersebut,” ujarnya.

Selain promosi wisata, tuturnya, JendraNath juga  mendorong promosi produk-produk  komunitas adat dan komunitas lokal di Papua, untuk dikembangkan sebagai usaha.

Dikatakan promosi wisata dan produk komunitas adat dan komunitas lokal, sebagaimana dilakukan di Bali, seperti makanan, minuman, kerajinan tangan dan lain-lain untuk cinderamata. Bahkan hal ini sudah jadi pekerjaan tetap, yang menguntungan.

“Jadi nanti anak-anak muda di Papua juga bisa mencoba untuk promosi destinasi wisata dan produk komunitas adat dan komuntas lokal. Mudah-mudahan mereka bangga dengan desanya, kampungnya, alamnya dan lain-lain, yang bisa mendatangkan income,” ucapnya.

Tim JendraNath, ketika berkunjung ke Rumah Pengeringan Kebun Vanila milik BUMMA Namblong di Kampung Nimbrokrangsari di Distrik Namblong (Foto: Komunitas Noken Mamta/Naomi Waisimon).

Saat mengunjungi persiapan penanaman jagung Super BISI-18 di Kebun Tuli di Kampung Kwadeware, Tim JendraNath menoken bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Yotoro.

Menurutnya, produk komunitas adat dan komunitas lokal, yang dihasilkan harus benar-benar rama lingkungan, berkwalitas, sehat dan berasal dari bahan organik tanpa kimia. Itu dilakukan mulai dari menanam, merawat, pasca panen hingga pengolahan.

Dibiarma membawa contoh produk komunitas mitra kerja JendraNath di Bali, seperti Mawaka Balinese Coffee, teh beras merah.

Kemudian produk Tresna Nadi macam abon ayam, teri kriuk, keripik belut, kacang kapri atau kacang bawang.

“Cara olahnya pun dijaga kwalitasnya, dipilih satu-satu dan benar-benar terbaik. Jadi yang beli juga senang. Kalau kita kasih hadiah buat orang juga kita nggak malu, karena rasanya enak dan sehat,” katanya.

Dikatakan produk komunitas adat dan komunitas lokal di Papua sendiri cukup banyak dan bahan-bahannya ada  disekitar untuk diolah, seperti kue sagu, kopi, abon ikan, abon ayam, keripik ubi, keripik pisang, keripik jagung, mie instan sagu. Juga kerajinan tangan, seperti noken, topi, kalung, gelang, dompet dan lain-lain.

“Produk komunitas adat dan komunitas lokal di Papua itu bisa dibuat cinderamata dengan kemasan yang cantik, indah dan ringan, yang aman dibawa kemana-mana,” ucapnya.

Sementara itu, Naomi Waisimon mengharapkan Tim JendraNath bisa mengembangkan menjadi alat promosi ekowisata dan produk komunitas masyarakat, untuk disajikan kepada wisman dan wisnu.

“Kita hanya bantu promosi, sedangkan komunitas masyarakat setempat mengorganisir dan mengelola sendiri menjadi kegiatan usaha mandiri,”ungkap Naomi.

Tim JendraNath selanjutnya menuju Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, 12 September 2023.

Tim JendraNath, ketika melihat persiapan penanaman jagung Super BISI-18 di Kebun Tuli, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu. (Foto: JendraNath).

Sebagaimana diketahui, JendraNath resmi berdiri lewat pertemuan dari 30 lebih komunitas, yang kemudian bersepakat untuk membangun sebuah simpul perdagangan dan pengetahuan tentang produk-produk komunitas.

JendraNath diresmikan tanggal 5 November 2019 bertempat di Yayasan Wisnu, Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali.

JendraNath menyediakan diri sebagai simpul pemasaran, perdagangan dan pengetahuan produk komunitas adat dan komunitas lokal di seluruh Nusantara agar dikenal luas oleh publik, dan berfokus pada jaringan perdagangan produk-produk ramah lingkungan dan berdampak sosial di tingkat nasional dan internasional.

Pengelolaan JendraNath sebagai sebuah badan usaha akan berdasarkan pada prinsip-prinsip kolektivitas, saling berbagi, saling terhubung dan memelihara ruang kehidupan. Nilai-nilai yang dianut oleh JendraNath adalah keterbukaan, keadilan, keseimbangan dan inklusif. (Advetorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *