Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, SENTANI—Tak banyak orang yang mengetahui bahwa seorang pemimpin hotel pernah memulai kariernya dari pekerjaan yang sering berada di balik layar.
Sebelum duduk di ruang kerja sebagai Manager Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi Gobel pernah berdiri di sudut-sudut bangunan hotel untuk memastikan area tetap bersih, rapi, dan nyaman bagi tamu.
Ia pernah menjadi cleaning service.
Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi justru menjadi pintu awal bagi perjalanan panjangnya memahami industri perhotelan.
Dari pekerjaan itu, Dedi belajar bahwa sebuah hotel tak hanya berjalan melalui meja resepsionis, kamar yang nyaman, atau restoran yang menarik. Ada banyak tangan yang bekerja di balik pengalaman seorang tamu.
Kini, setelah melewati perjalanan hampir dua dekade, pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia dipercaya memimpin Grand Cartenz Hotel Sentani.
Bagi Dedi, perjalanan dari posisi paling bawah hingga menjadi seorang pemimpin bukan sekadar kisah kenaikan jabatan.
Itu adalah proses belajar memahami manusia.
“Saya mulai dari cleaning service, kemudian menjadi room boy atau petugas kebersihan kamar. Dari situ saya belajar semua bagian hotel, mulai dari restoran, pelayanan kamar sampai bagaimana pekerjaan di bagian resepsionis,” ujar Dedi.
Belajar dari Pekerjaan Paling Dasar
Dedi mengenal dunia perhotelan pada 2006 ketika bergabung dengan Hotel Tirta Mandala Jayapura.
Saat itu, latar belakang pendidikannya bukan berasal dari sekolah perhotelan. Ia merupakan lulusan STM Kotaraja Jayapura jurusan Otomotif.
Namun perjalanan hidup membawanya memasuki dunia yang berbeda.
Sebagai petugas public area, Dedi mulai memahami bahwa industri hotel dibangun dari kerja sama banyak bagian.
Kebersihan ruangan, pelayanan restoran, penerimaan tamu, hingga pengelolaan operasional memiliki hubungan yang saling berkaitan.
Ia tak hanya menjalankan tugas, tapi juga memperhatikan bagaimana setiap bagian bekerja.
Bagaimana seorang resepsionis menyambut tamu.
Bagaimana seorang pelayan restoran membangun komunikasi.
Bagaimana seorang petugas kamar memastikan kenyamanan pengunjung.
Semua pengalaman itu perlahan membentuk pemahamannya tentang standar pelayanan.
“Semua bagian saya pelajari supaya memahami bagaimana hotel berjalan,” katanya.
Menurut Dedi, pengalaman berada di posisi bawah justru memberikan pelajaran paling berharga bagi seorang pemimpin.
Sebab seseorang tak akan memahami pekerjaan orang lain jika tak pernah melihat dan merasakan prosesnya.
Menempuh Jalan Panjang di Industri Hotel
Setelah sekitar tujuh tahun membangun pengalaman di Hotel Tirta Mandala Jayapura, Dedi melanjutkan perjalanan kariernya ke sejumlah daerah.
Pada 2014, ia bergabung dengan Golden Hotel Manado (Sulawesi Utara). Pengalaman bekerja di luar Papua membuka pandangannya mengenai standar pelayanan dan pengelolaan hotel dengan karakter tamu yang berbeda.
Ia juga pernah bergabung dengan The Belagri Hotel Sorong pada 2015.
Setelah itu, ia kembali ke Jayapura dan melanjutkan perjalanan profesionalnya bersama At Home Abepura by Horison pada 2016.
Berpindah dari satu hotel ke hotel lain membuat Dedi memahami bahwa setiap tempat memiliki tantangan berbeda.
Ada karakter tamu yang berbeda.
Ada budaya kerja yang berbeda.
Ada cara pelayanan yang harus terus disesuaikan.
Namun satu hal yang tetap sama, menurutnya, adalah kebutuhan untuk memberikan pelayanan terbaik.
“Yang penting dalam dunia hotel adalah kemauan untuk belajar. Karena industri ini terus berkembang dan kita harus terus menyesuaikan diri,” ujarnya.
Memimpin dengan Pengalaman dari Bawah
Ketika akhirnya dipercaya menjadi Manager Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi membawa satu prinsip yang dibentuk dari perjalanan panjangnya.
Seorang pemimpin harus memahami orang-orang yang bekerja bersamanya.
Ia tak ingin melihat karyawan hanya sebagai bagian dari sistem operasional.
Bagi Dedi, setiap karyawan memiliki peran penting dalam membangun pengalaman tamu.
Petugas kebersihan memiliki peran.
Pelayan restoran memiliki peran.
Petugas keamanan memiliki peran.
Begitu juga seluruh bagian lain yang bekerja setiap hari di hotel.
“Kalau kita pernah berada di posisi bawah, kita bisa lebih memahami pekerjaan setiap bagian dan menghargai proses yang mereka jalani,” katanya.
Cara pandang itulah yang kemudian ia terapkan dalam membangun tim kerja di Grand Cartenz Hotel Sentani.
Membangun SDM Lokal Papua
Selain mengembangkan pelayanan hotel, Dedi juga memberikan perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal.
Sejak awal beroperasi 10 April 2025, Grand Cartenz Hotel Sentani membuka ruang bagi putra-putri Papua untuk menjadi bagian dari industri perhotelan.
Menurut Dedi, hotel tak hanya membutuhkan fasilitas yang baik, tapi juga manusia yang memiliki kemampuan dan karakter pelayanan.
Sebelum hotel beroperasi, para karyawan mengikuti pelatihan selama tiga bulan.
Mereka belajar mengenai standar operasional prosedur (SOP), tugas setiap departemen, komunikasi dengan tamu, hingga budaya kerja dalam industri hospitality.
Bagi Dedi, membangun hotel berarti membangun orang-orang yang ada di dalamnya.
Sebab pelayanan yang baik tak lahir secara otomatis.
Ia dibentuk melalui proses, latihan, dan pengalaman.
Pelayanan sebagai Warisan Perjalanan
Hari ini, Dedi Gobel berada di posisi yang berbeda dari awal kariernya.
Namun pengalaman sebagai cleaning service tak pernah ia lupakan.
Justru dari pekerjaan itulah ia memahami arti sebuah pelayanan.
Ia tahu bahwa tamu mungkin tak selalu melihat siapa yang bekerja di balik layar.
Tapi mereka akan merasakan hasil dari pekerjaan tersebut.
“Kami melayani dengan sepenuh hati, ramah kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Yang paling penting adalah tamu merasa nyaman dan puas,” ujarnya.
Perjalanan Dedi menunjukkan bahwa sebuah karier besar dapat dimulai dari pekerjaan sederhana.
Dari seorang petugas kebersihan, ia belajar disiplin.
Dari berbagai hotel, ia belajar profesionalisme.
Dan dari posisi sebagai pemimpin, ia belajar tanggung jawab untuk mengembangkan orang lain.
Di Grand Cartenz Hotel Sentani, perjalanan itu belum selesai.
Sebab bagi Dedi, hotel bukan hanya tentang gedung dan fasilitas.
Hotel adalah tentang manusia yang bekerja di dalamnya.
Dan setiap manusia memiliki cerita perjuangan yang layak dihargai. **













