Bukit Hena yang Dulu Tandus Kini Berubah Hijau Berkat Gerakan Menoken

Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M), Piter Roki Aloisius, didampingi Pengelola Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC), Agustha Kopeuw, ketika menanam anakan pohon di kawasan Bukit Hena, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (7/5/2026). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Dalam hampir tiga tahun terakhir, kawasan Bukit Hena di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, yang sebelumnya tandus dan rawan kebakaran kini mulai berubah hijau berkat gerakan penanaman anakan pohon oleh Komunitas Menoken Mamta bersama Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M).

Berbagai jenis tanaman seperti petai, cemara, merbau, gaharu, matoa, mahoni, alpukat, mangga, hingga nenas kini mulai tumbuh di kawasan yang sebelumnya didominasi alang-alang.


Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M), Piter Roki Aloisius, didampingi Pengelola Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC), Agustha Kopeuw, ketika menanam anakan pohon di kawasan Bukit Hena, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (7/5/2026). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Berawal dari Lahan Kritis

Pengelola Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC), Agustha Kopeuw, mengatakan penghijauan dimulai sejak 2021 melalui penanaman petai bersama masyarakat setempat.

“Awalnya banyak tanaman tidak bertahan, karena kondisi tanah sangat tandus dan cuaca panas,” kata Agustha, Kamis (7/5/2026).

Peran Pupuk Negentropi

Perubahan mulai terlihat setelah komunitas mendapatkan pelatihan pengolahan pupuk negentropi dari praktisi pertanian asal Bogor, Agus Mulyana, pada 2022.

Sejak itu, kesuburan tanah meningkat dan tingkat keberhasilan tanaman lebih baik.

“Setelah menggunakan pupuk negentropi, pertumbuhan tanaman jauh lebih stabil,” ujarnya.


Anakan nanas Bogor tumbuh subur di kawasan Bukit Hena, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (7/5/2026). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Tantangan Kebakaran Lahan

Selain kondisi tanah, tantangan lain adalah kebakaran lahan yang sebelumnya kerap terjadi di Bukit Hena. Untuk mengatasi hal itu, masyarakat kini menerapkan sanksi adat bagi pelaku pembakaran.

“Sejak gerakan ini berjalan, kasus kebakaran mulai berkurang,” kata Agustha.

Pusat Kegiatan Komunitas

Selain penghijauan, kawasan Hena juga menjadi pusat kegiatan Hena Uwakhe Imea CLC, mulai dari sekolah alam, pelatihan bahasa, kerajinan noken, hingga pengolahan pupuk organik.


Pengelola Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC), Agustha Kopeuw, didampingi Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M), Piter Roki Aloisius, menyampaikan salam menoken ketika menanam anakan pohon di kawasan Bukit Hena, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (7/5/2026). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Mulai Bernilai Ekonomi

Direktur Y3M, Piter Roki Aloisius, mengatakan perubahan Bukit Hena menunjukkan hasil nyata dari kerja komunitas yang dilakukan secara konsisten.

“Dulu kawasan ini sangat gersang, sekarang sudah mulai hijau karena dirawat secara rutin, bukan kegiatan sesaat,” ujarnya.

Menurut dia, ke depan kawasan ini akan dikembangkan dengan pola tumpang sari agar tetap produktif secara ekonomi tanpa mengganggu penghijauan, kedepannya bukit Hena dapat dijadikan lokasi penanaman pohon bagi siapa saja, baik itu komunitas, lembaga ataupun perorangan yang berniat untuk melakukan aksinya bagi bumi dengan menanam pohon.

Apresiasi untuk Komunitas

Roki juga menilai keberhasilan komunitas tersebut layak mendapat perhatian pemerintah, termasuk diusulkan menerima penghargaan lingkungan seperti Kalpataru.

“Ini contoh nyata kerja komunitas yang berhasil mengubah lahan kritis menjadi produktif,” katanya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *