Befa Yigibalom: Para Tokoh Intelektual Papeg Harus Duduk Bersama Selesaikan Konflik Woma

Befa Yigibalom, Tokoh Intelektual Papua Pegunungan. (Foto: Istimewa)

Oleh: RF  I

PAPUAINSIDE.ID, WAMENA–Menyikapi konflik antar dua suku di wilayah Woma, Wamena, Papua Pegunungan (Papeg), yang telah berlangsung selama kurang lebih seminggu ini, Befa Yigibalom, selaku Tokoh Intelektual Papua Pegunungan, mengajak semua pihak para tokoh masyarakat, tokoh intelektual, pemerintah, dan semua pihak untuk duduk bersama guna membahas penyelesaikan konflik yang terjadi.

Hal ini disampaikannya melalui sebuah video pendek yang beredar luas di grup-grup media sosial, Jumat (15/5/2026).

“Kepada semua tokoh masyarakat, intelektual, terutama dari kabupaten Lanny Jaya yang ada di mana saja terutama di Wamena dan sekitarnya, saya pagi ini setuju dengan apa yang sudah diedarkan oleh saudara Briur Wenda, agar tokoh-tokoh Lani Jaya kumpul,” katanya.

Dirinya berharap pertemuan dapat dilakukan secepatnya untuk mulai membangun komunikasi, agar dapat mengendalikan situasi yang terjadi saat ini di Wamena.

Dalam video pendek yang beredar, mantan bupati Lanny Jaya dua periode itu juga mengingatkan pemerintah baik provinsi Papua Pegunungan maupun para bupati untuk merespon situasi yang terjadi.

“Kepada pemerintah daerah, terutama bupati dan gubernur agar respon, karena sebenarnya masyarakat itu butuh komunikasi dari kita. Jadi mari kita menyelesaikan semua situasi yang ada itu dalam satu minggu ini,”ujarnya.


Aparat keamanan saat berupaya meredam konflik antar warga di Woma, Wamena, Papua Pegunungan, Jumat (15/5/2026). (Foto: Istimewa)

Befa mengajak semua pihak untuk saling mendoakan agar konflik atau perang suku yang terjadi dapat segera reda dan bedamai.

“Saya lihat ini situasi yang sulit, tapi saya berharap ini menjadi situasi terakhir tidak boleh ada lagi perang di Wamena dan seluruh Papua Pegunungan.

Ia juga menilai, kewenangan yang ada ditangan para pemimpin dapat ditetapkan dengan sebuah aturan, sehingga hal-hal seperti ini tidak terulang.

“Sebagaimana beberapa waktu lalu sudah ada aturan tapi aturan-aturan yang sudah kita tetapkan itu tidak dilaksanakan. Jadi mari kita kumpul untuk menyelesaikan, dan kita berharap pertemuan kali ini dan perang ini perang terakhir, dan tidak boleh ada lagi perang antara keluarga besar di Papua Pegunungan,” pungkasnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *