Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, SENTANI—Nokeners dari Purwakarta Tanissa Puti Rahmadiva memperkenalkan kerajinan tangan eceng gondok di sela-sela HUT III Menoken di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (11/3/2024).
Tanissa adalah Founder PT Bumi Kreasi Jatiluhur, perusahaan yang membina 20 pengrajin eceng gondok di sekitar Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia dengan luas genangan 7.780 hektar dan menjadi objek vital nasional. Waduk itu tentunya memiliki peranan penting khususnya dalam Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Tanissa mengatakan, kunjungan ke Jayapura antara lain melakukan sharring bersama Komunitas Menoken Mamta, untuk memanfaatkan potensi alam sekitar dan potensi masyarakat adat, pemuda-pemudi untuk menjaga budaya, menjaga lingkungan, menjaga tradisi dan juga mengikat tali persaudaraan yang lebih erat lagi, sebagaimana filosofi menoken.
Tanissa menuturkan, saat menoken di Purwakarta tahun 2021 ia bersama kaum wanita dan masyarakat sekitar Waduk Jatiluhur mencetuskan ide, untuk mengelola eceng gondok menjadi kerajinan rumah tangga atau home industry.
Menurut Tanissa, eceng gondok yang tak dimanfaatkan seketika diubah menjadi barang yang bernilai ekonomis, yakni aneka produk baik furniture maupun fashion.
Furniture, seperti perabotan rumah, vas bunga, home decoration, keranjang, tempat tisu. Sedangkan fashion, seperti tas, topi, sandal dan lain-lain.
Kemudian tersedia juga makanan oleh-oleh Purwakarta seperti gula aren/gula semut asli Sukasari.
Penjualan Bumi Kreasi Jatiluhur sudah tembus ke Eropa. Ekspor kerajinan adalah sandal dan tas eceng gondok. Mereka juga pernah ikut serta dalam pagelaran di Brunei Darussalam.
PT Bumi Kreasi Jatiluhur kini sudah memiliki gallery/lokakarya, yang berlokasi di pinggir Waduk Jatiluhur tepatnya di seberang Jatiluhur Water World.
Dikatakan PT Bumi Kreasi Jatiluhur terus berupaya meningkatkan SDM masyarakat setempat mulai dari pelatihan menganyam dan pemasaran produk eceng gondok.

Nokeners dari Purwakarta, Tanissa Puti Rahmadiva, ketika memperkenalkan kerajinan enceng gondok. (Foto: Alexander Ratulangi)
Solusi Waduk Jatiluhur
Kerajinan eceng gondok, ujar Tanissa, adalah suatu solusi dari permasalahan yang ada di Waduk Jatiluhur, karena eceng gondok yang tumbuh menjalar, ternyata menghalangi mobilitas perahu, yang biasa digunakan nelayan juga ojek perahu, untuk mengantar wisatawan keliling Waduk Jatiluhur.
“Akibatnya, wisatawan tak mau naik perahu, kwatir terjebak tumpukan eceng gondok di sekitar Waduk Jatiluhur,” ujar Tanissa.
Alhasil, PT Bumi Kreasi Jatiluhur sejak 2021 lalu memanfatkan dan mengelola eceng gondok menjadi kerajinan masyarakat sekitarnya.
Eceng gondok sebenarnya terus datang, karena masuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Jadi akan selalu ada kiriman, kadang pasang, kadang surut, kadang banyak, kadang sedikit tergantung kondisi alam sekitarnya.
Tanissa menerangkan, masyarakat sekitar Waduk Jatiluhur mulai paham akan potensi eceng gondok dapat menghasilkan dan meningkatkan perekonomian keluarga.
Pelatihan Eceng Gondok di Papua
Tanissa menerangkan, pihaknya membuka diri, apabila Komunitas Menoken Mamta mengundang para pengrajin eceng gondok mengadakan pelatihan di Papua.
“Ya bagusnya pengrajin yang kesinilah, karena kita akan langsung lihat eceng gondok disini, karena berbeda dan kita bisa buat kerajinan sesuai dengan jenis eceng gondoknya. Jadi kalau misalnya eceng gondok di Papua ukurannya pendek-pendek itu kita bisa buat teknik anyamannya lebih simpel ya misalnya membalut aja. Kita bisa kolaborasi materialnya dengan bambu dan akar-akar di Papua banyak,” tandasnya.

Founder PT Bumi Kreasi Jatiluhur Tanissa Puti Rahmadiva bersama pengrajin (Foto: Dokumen Pribadi)
Aksi Nyata Bela Negara Award 2023
Sebagaimana dikutip dari Lensanesia.Com, Tanissa Puti Rahmadiva lantaran kepeduliannya terhadap lingkungan ia berhasil menerima penghargaan Aksi Nyata Bela Negara Award 2023 dari Kementerian Pertahanan RI, Kategori Aksi Nyata Bela Negara Perseorangan Lingkup Kerja.
Tanissa menjelaskan, ia sebenarnya tak berharap mendapat penghargaan, tapi tujuan utamanya adalah untuk daerah sendiri, untuk kampung sendiri, agar lebih maju lagi dan lebih dikenal lagi oleh orang terhadap produk kerajinan eceng gondok.
“Jadi kita ini anak muda itu banyak ide kita bisa realisasikan dan kita nggak perlu takut untuk memulai sesuatu hal yang baru atas ide kita asal niatnya positif itu pasti akan banyak jalan menuju kesana. Seperti saya akhirnya dapat dukungan sana-sini juga dan dapat penghargaan itu hanya bonus saja, tapi yang utamanya kaum wanita disana berdaya bisa mengrajin dan dia bisa untuk turun ke anaknya dan begitu seterusnya,” tandas Tanissa.
Tanissa mengharapkan agar kerajinan eceng gondok jadi turun-temurun dan anak muda juga nggak perlu malu untuk mengajak, karena merupakan warisan budaya leluhur bangsa.
Tanissa menyaksikan di Papua banyak sekali kerajinan noken atau anyaman dari kulit kayu, yang mempunyai terknik khusus, untuk mengajam,” tandasnya.
Nilai Ekonomis
Koordinator Samdhana Papua, Piter Roki Aloisius mengapresiasi kerajinan eceng gondok, jika suatu saat dilakukan di Papua.
Dikatakan eceng gondok tumbuh cukup banyak di wilayah Papua, hanya saja masalahnya tumbuhan dapat mematikan biota yang ada di danau, waduk maupun perairan laut.
“Tapi baik juga, jika eceng gondok dijadikan barang kerajinan yang bernilai ekonomi di Papua,” jelas Roki.
Anggota Pemuda Yotoro, Marlyn Marweri mengatakan enceng gondok sangat bagus, jika diubah menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomi.
Marlyn menuturkan, selama ini ia cuma tahu tentang kerajinan noken dari bahan kulit kayu dan benang. Tapi ternyata ada bahan lain, seperti eceng gondok, yang bisa dijadikan perabot rumah tangga dan lain-lain.
“Saya sangat tertarik dan mungkin nanti saya akan belajar mengajam dari bahan eceng gondok,” terang Marlyn. **













