Komunitas Tuli Jayapura Belajar Menanam Jagung di Kebun Tuli Yotoro

Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) dan Komunitas Pemuda Yotoro (KPY) bersama Tim Proyek Permata- Samdhana di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (26/2/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) dan Komunitas Pemuda Yotoro (KPY), menyambut suka cita kunjungan kerja Tim Proyek Permata- The Samdhana Institute di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (26/2/2024).

Lokasi ini jauh sebelumya adalah hamparan lahan tidur berupa rerumputan tempat sapi dan babi hutan mencari rumput.

KTJ dan KPY kemudian termotivasi untuk mengembangkan lahan tidur ini menjadi lahan produktif.

Mereka akhirnya membentuk Kebun Tuli Yotoro, didukung The Samdhana Institute dan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Jayapura.

KTJ dan KPY melakukan penanaman perdana bibit jagung Super BISI-18 diatas lahan seluas 2 hektar sejak September 2023 lalu.

Di Kebun Tuli Yotoro, selain penanaman jagung juga ada tanaman tumpang sari, antara lain, kelor, kangkung cabut, singkong.

Penanaman jagung perdana oleh Sekda Kabupaten Jayapura Hana Hikoyabi, Senin (25/9/2023) lalu.

Panen jagung perdana dilakukan sejak awal Januari 2024 sebanyak 540 kg dan dilepas ke pasar Rp 5.000/kg.

Ketua KTJ Stephany Chrisma Lidya Woen, mengatakan ia dan rekan-rekan KTJ dan KPY datang ke Kebun Tuli Yotoro, untuk mempersiapkan kebun, membabat rumput, membajak lahan, membuat pagar keliling, menanam dan memanen jagung.

“Kalau di rumah saja rekan-rekan tak mendapatkan apa-apa. Jadi rekan-rekan semangat dan enjoy datang berkebun dan tentu mendapatkan pengalaman baru,” tutur Stephany.

“Jadi kami mulai paham tentang penanaman jagung. Dulu kami tak paham, sehingga acapkali terjadi miss communication dengan teman dengar,” tandasnya.

Stephany menuturkan, pihaknya berupaya mengajak rekan-rekan untuk belajar bahasa isyarat bersama. Alhasil, rekan-rekan dengar sudah bisa bahasa isyarat.


Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) dan Komunitas Pemuda Yotoro (KPY) bersama Tim Proyek Permata- Samdhana di Kebun Tuli Yotoro, Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Senin (26/2/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Anggota KTJ David Samuelinto Rumbewas mengatakan pasca panen ia dan rekan-rekan dengar selain memipil jagung menggunakan mesin, juga menggunakan tangan.

“Tangan terasa sakit dan capek, tapi kami tetap kerja,” tukas David.

David menyampaikan awalnya rekan-rekan belum mengetahui cara memipil jagung menggunakan mesin, sehingga cukup banyak jagung yang berhamburan keluar dari mesin.

Oleh karena itu, rekan-rekan menggunakan terpal, agar jagung tak berhamburan lagi. Kemudian mengisi jagung kedalam karung siap dipasarkan.

Ketua Pemuda Yotoro, Anton Marweri mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan untuk penanaman jagung tahap kedua.

“Kami harus menyewa kembali traktor, untuk membajak dan mengolah lahan dalam waktu dekat ini,” terang Anton.

Anton menuturkan, pihaknya belajar dari pengalaman pertama, agar penanaman tahap kedua mendapatkan produksi yang lebih maksimal.

“Kami kurang puas dengan hasil panen pada penanaman perdana. Maklum baru pertama kali menanam jadi,” ungkapnya.

Pada penanaman perdana, terangnya, pihaknya menjaga dan memelihara tanaman dari serangan hama tanpa pestisida atau bahan kimia.

“Kami gunakan daun bawang direndam air kemudian hambur ke tanaman jagung,” tandasnya.

Penanaman jagung kedua ini, ucapnya, pihaknya berupaya mencari bibit jagung yang lebih bermutu, membangun rumah pembuatan pupuk Negentropi, toilet dan melibatkan kaum wanita setempat bersama-sama menanam jagung.

Koordinator Proyek Permata-Samdhana, Tony Hutabarat mengatakan untuk penanaman jagung tahap kedua harus ada penguatan antara KTJ dan KPY.

“Apa yang mereka kerjakan ini adalah hal yang baru. Jadi apabila ada hambatan dan kekurangan diharapkan masing-masing  belajar dari sana. Kalau bisa mereka menemukan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut,” pungkasnya.

Tony menerangkan, rekan-rekan juga bisa berkomunikasi atau minta advis dari para petani sukses bagaimana cara menanam jagung, pembibitan dan pemupukan tanaman.

“Tapi yang saya tangkap terpenting semangat rekan-rekan, untuk bisa memulai segala sesuatu hasilnya pasti memerlukan proses. Sebab, tak mungkin orang berhasil dalam sehari dua hari atau semalam. Tapi melakukannya secara bertahap. Kalau proses ini dilalui pasti mereka akan berhasil,” tegas Tony. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *