Penanganan 12 Pasien Kemoterapi di RSUD Dok II Jayapura Tertunda, Ada Apa?

Dokter spesialis bedah RSUD Dok II Jayapura, dr. Jan Siauta, SpB (K) Onk. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.com)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Sebanyak 12 pasien kemoterapi yang kini dirawat di RSUD Dok II Jayapura, terpaksa penanganannya ditunda, dikarenakan alat dan obat kemo habis.

“Pasien dengan penyakit kanker harus kemoterapi tepat waktu. Jika tidak, maka sel kankernya akan lebih ganas dan secara tidak langsung rumah sakit sudah membunuh pasien dengan keadaan ini,” tegas  Anggota Komite Medik RSUD Dok II Jayapura dr. Jan Siauta, SpB (K) Onk, ketika keterangan pers di Aula RSUD Jayapura, Senin (17/10/2022).

Padahal, tukas Jan, RSUD Dok II Jayapura adalah rumah sakit terbesar di Papua dan menjadi rumah sakit rujukan untuk Papua dan Papua Barat. ternyata minim SDM dan fasilitas penunjang.

Dokter spesialis bedah ini menjelaskan, pengalamannya saat melakukan operasi pasien tanpa lampu penerangan dan ketiadaan pisau bedah.

“Saat itu, kami sedang operasi pasien, tiba-tiba listrik padam. Ini kan parah sekali. Kami melakukan tindakan operasi, apakah harus pakai pisau dapur? Jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan di meja operasi, siapa yang bertanggungjawab?” terang Jan.

Menurut Jan, jika tiba-tiba lampu padam saat operasi, seharusnya lampu langsung bisa dinyalakan dalam hitungan detik. kenyataanya, lampu di ruang operasi baru kembali menyala 15 menit kemudian.

Tak hanya itu, air bersih di rumah sakit tersebut juga minim. “Yang saya tahu, air mengalir di rumah sakit itu pada Senin dan Kamis. Sisanya tak mengalir. Seharusnya untuk pelayanan publik, terlebih rumah sakit, air harus mengalir 24 jam tanpa henti,” ujarnya.

Jan juga menyebutkan belum lagi sejumlah obat-obatan dan bahan habis pakai sering habis, seperti benang jahit dan beberapa item lainnya, serta alat pelindung diri, mulai sarung tangan hingga masker medis.

Yang terbaru, tandasnya, RSUD Dok II Jayapura juga kehabisan alat pembiusan dari hidung. Padahal semua obat-obat dan barang habis pakai ini sudah dihitung dalam pengadaan. Kalau pun habis, pengadaannya sangat lama.

“Saaya berharap ke depan ada perbaikan dari manajemen RSUD Dok II Jayapura, agar pelayanan lebih baik lagi,” imbuhnya. **