Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAInside.id, SENTANI—Menyambut Pesta Makan Papeda dalam Sempe “Helay Mbay Hote Mbay” 28-30 September 2023 di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kampung Abar merupakan satu dari 24 Kampung yang membentang di pinggiran Danau Sentani, merupakan salah-satu destinasi wisata di Papua, yang dikenal sebagai produsen gerabah tradisionil atau warga setempat menyebutnya dengan nama sempe.
Untuk memperkenalkan sempe, Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar berkolaborasi dengan Komunitas Noken Mamta (KNM), membuka Kelas Gerabah Membuat Sempe dimulai 23-27 September 2023.
Diketahui sempe adalah tempat makan papeda suku Sentani yang terbuat dari tanah liat, sejak zaman nenek moyang telah diturunkan sebanyak delapan generasi.

Kelas gerabah membuat sempe terbuka untuk umum, dengan biaya pendaftaran Rp 175.000/orang harga termasuk tanah liat, kelas selama 1 jam, snacks dan makan siang.Harga ini tidak termasuk speed boat johnson dari Dermaga Yahim menuju Kampung Abar.
Kelas sempe periode 1, Sabtu (23/9/2023), diikuti tujuh peserta, 5 perempuan dan 2 laki-laki.
Anggota KNM, Lusia Langowuyo mengatakan tujuan pembukaan kelas gerabah membuat sempe, antara lain menyebarkan semangat melalui kelas sempe kepada masyarakat, untuk tetap mempertahankan dan menjaga warisan budaya, yang masih tersisa dalam bentuk apapun salah satu contohnya sempe.
Pendiri Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup Kampung Abar, Naftali Felle, Sabtu (23/9/2023) mengatakan, pesta budaya makan papeda di sempe digelar pertama kali tahun 2017, selanjutnya tahun 2018 dan 2019 digelar setiap 30 September.
Pesta makan papeda selama tahun 2020-2021 absen, karena pandemi Covid-19.

Di tahun 2022, panitia pelaksana sudah terbentuk, tapilantaran Dermaga Kampung Abar tengah direnovasi, akhirnya ditunda hingga 2023 ini.
Helay Mbay Hote Mbay adalah salah-satu kegiatan pesta budaya yang diangkat dari latar belakang budaya suku Sentani, khususnya dan Papua umumnya.
Helay Mbay Hote Mbay Ini menjadi kalender tahunan di Kabupaten Jayapura, selain Festival Danau Sentani (FDS).
“Kita sekarang makan papeda bukan di sempe lagi, tapi karena adanya intervensi benda-benda buatan pabrik, sehingga mereka ganti dengan bokor,” ujar inisiator
Felle menjelaskan, hal itu yang menjadi ide utama kegiatan pesta budaya makan papeda di sempe.
“Kita tunjukan ke generasi yang ada sekarang bahwa makan papeda yang sebenarnya itu bukan di bokor, tapi di sempe,” jelasnya.
Felle menjelaskan, tanggal 28-29 September 2023 adalah pameran hasil kerajinan dari gerabah dan kuliner, dimana semua bahan bakunya dari sagu, seperti sagu bakar, papeda bungkus, ulat sagu dan jamur.
Sedangkan tanggal 30 September 2023 puncak pesta budaya makan papeda dalam sempe.
“Kita makan papeda empat orang satu sempe. Habis makan bawa pulang sempe,” katanya.
Felle mengatakan, panitia sudah menyiapkan sekitar 100 sempe, yang dibeli dari masing-masing pengrajin dua sempe.
“Pengrajin sempe punya kewajiban putar papeda terlepas dari yang disiapkan panitia. Jadi kita siapkan dalam jumlah yang mencukupi,” terangnya.
Felle menjelaskan, masyarakat asli suku Sentani memiliki empat benda yang bernilai budaya atau sejarah, yakni sempe untuk tempat makan papeda, belangga ikan, kedanggalu atau cetakan sagu bakar dan tempayan untuk tempat simpan sagu.
Karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan Kampung Abar sebagai warisan budaya nusantara di provinsi Papua.
Penetapan ini disampaikan di Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua di Waena, Kota Jayapura tahun 2021. Namun demikian, pihaknya hingga kini belum menerima Surat Keputusan (SK) penetapan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Selain itu, pemerintah daerah setempat memberikan pendampingan berupa pelatihan-pelatihan, sehingga ada anggota yang trampil membuat sempe berupa pot bunga, asbak dan lain lain.
Di seluruh areal Kampung Abar terdapat tanah liat hanya digali 30 centimeter muncul tanah hitam tebal.
Ada lima warna tanah liat di Kampung Abar, yakni merah, coklat, hitam, putih dan kekuning-kuningan. Masing masing memiliki kwalitas berbeda-beda, tapi warna hitam yang terbaik dan paling bagus.
Timotius Marweri, seorang peserta kelas gerabah membuat sempe menuturkan ia tertarik ikut kegiatan ini, karena merupakan bagian dari budaya.
“Sebagai anak-anak Sentani wajib mengetahui. Jangan bercerita tentang budaya saja, tapi harus belajar tentang prosesnya seperti apa,” terang PNS di Pemkab Jayapura ini.
Sementara itu, Koordinator Program Papua Samdhana Institute, Piter Roki Aloisius mengatakan pihaknya terus berupaya melakukan perlindungan terhadap hak cipta gerabah dari tanah liat milik masyarakat Kampung Abar. **














