Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.com, ILAGA—Ada yang menarik dan sempat membuat terharu Bupati Puncak Papua Willem Wandik, SE, MSi dan Forkompinda Kabupaten Puncak Papua, yang hadir dalam pembukaan perlombaan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-77 di Ilaga, ibu kota Puncak Papua, Selasa (16/8/2022).
Saat itu, seorang anak SD menyampaikan permintaannya kepada Bupati Puncak Papua, agar segera mengembalikan para guru-guru di kabupaten Puncak Papua, untuk kembali mengajar mereka.
Mendengar itu, Bupati Puncak Papua Willem Wandik pun terharu, dirinya berjanji kepada anak-anak SD tersebut, bahwa dirinya memastikan dalam waktu yang tak terlalu lama, para guru akan kembali ke Ilaga, Beoga, Sinak, Doufo, Gome, untuk melaksanakan tugasnya seperti biasa.
Untuk diketahui, para guru di Puncak Papua bersama dengan PNS, terutama para guru pendatang, sempat mengungsi keluar dari Puncak Papua, sejak April hingga Mei lalu, pasca penyerangan maupun teror yang dilakukan Kelompok Sipil Bersenjata (KSB), berimbas pada keamanan di Puncak Papua yang kurang kondusif, dampaknya adalah pendidikan sempat tak beraktivitas beberapa waktu lalu.
Salah satu anak SD di Ilaga Julpen Kogoya, yang sempat berdialog dengan bupati, menyampaikan permintaanya, agar bupati segera mendatangkan kembali para guru di Puncak Papua, sehingga bisa mengajar mereka kembali seperti awalnya, karena mereka sudah sangat merindukan bisa sekolah lagi.
“Kami minta bapak bupati bisa bawa kembali kami punya guru-guru, sehingga mereka bisa ajar kami lagi, kami mau sekolah,” ungkap Julpen, diikuti teman-temannya yang lain.
Terkait dengan permintaan anak-anak SD tersebut, Bupati pun berjanji akan dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan segera mendatangkan para guru kembali bertugas di Puncak Papua, karena dirinya sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan TNI/Polri, bahkan para tokoh masyarakat, kepala suku, semua mengingingkan agar pendidikan harus segera beraktivitas seperti biasanya.
“Kami pemerintah sudah siapkan gedung sekolah, bawa guru ke sini, tapi karena tak ada jaminan keamanan, maka guru semua mengungsi, yang rugi adalah anak-anak kita ini, masa depan mereka kita hancurkan, ini merupakan pelanggaran HAM terbesar yang telah kami buat kepada mereka,” bebernya.
Kata Bupati, ketika pendidikan di Puncak Papua tak berjalan dengan baik, maka itu sudah merupakan bagian dari pelanggaran HAM terbesar, karena dampak dari keamanan yang tak kondusif, membuat proses belajar-mengajar tak bisa berjalan, sehingga anak-anak tak sekolah, masa masa depan mereka akan hancur.
“Kita hancurkan masa depan anak-anak, ini merupakan pelanggaran HAM terbesar yang kita sudah lakukan untuk anak-anak ini, masa depan genearsi ini, hanya lewat pendidikan, tidak ada cara lain, sehingga saya minta semua pihak, orang tua, kepala suku, TPM-OPM, semua kita jaga keamanan,untuk anak-anak kita ini, generasi kita ini, sekali lagi kita jaga keamanan, sehingga proses belajar-mengajar bisa jalan seperti biasanya,” tegasnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Puncak Papua, Alfons Newegalen, SPak, MM mengatakan kondisi terakhir di Puncak Papua, terutama di Ilaga, Beoga, hampir 3 bulan terakhir ini, memang proses belajar-mengajar agak terhambat, ini dikarenakan guru-guru banyak yang memilih mengungsi keluar dari Ilaga,karena kondisi keamanan, yang tinggal adalah guru-guru anak asli.
“Terpaksa anak-anak diajar anggota TNI-Polri, meski begitu sesuai dengan instruksi dari bupati, maka kami akan segera mengembalikan para guru, dalam minggu besok, apalagi sudah ada jaminan keamanan dari TNI-Polri, sehingga guru-guru jangan takut untuk kembali ke tempat tugas,”ungkapnya. (Diskominfo Puncak Papua)














