Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, TOLIKARA—Ketua NasDem Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, Benny Kogoya, sekaligus Tim Pemenangan Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan Nomor Urut 2, Befa Jigibalom-Natan Pahabol (Befa-Natan) menyebut, ada kondisi darurat politik di Tolikara saat ini, sejak usai pelaksanaan pemungutan suara Pilkada 27 November lalu.
Benny yang berbicara pada wartawan, Jumat (13/12/2024), mengungkapkan, hingga saat terus terjadi intimidasi oleh para paslon bupati, yang berkonstestasi, terutama dari Paslon Gubernur, yang sangat merugikan tim Befa-Natan.
Dia menjelaskan, secara keseluruhan di Tolikara, sejak hari pemungutan suara hingga saat ini, kotak suara ditahan oleh tim sukses paslon John Tabo-Ones Pahabol. Bahkan, mereka bahkan mengusir dan mengintimidasi saksi Paslon Befa Jigibalom-Natan Pahabol yang ingin hadir dalam tiap pleno tingkat distrik.
“Ada saksi kami yang dikejar dengan senjata tajam saat akan datang ke lokasi. Ini jelas terjadi dihadapan semua pihak yang berkepentingan. Kami sangat dirugikan,” tegas Benny.

Ketua NasDem Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, Benny Kogoya. (Foto: Istimewa)
BENNY Benny yang mengaku sempat nyaris diamuk massa, saat berada di Kantor Distrik Karubaga, untuk mengecek hasil penghitungan dan perolehan suara tingkat distrik, yang lebih membuat suasana seakan mencekam dan dikhawatirkan terjadi perang suku, karena hingga kini belum dilakukan pleno penghitungan suara tingkat KPU Kabupaten Tolikara. Padahal KPU Kabupaten Tolikara sendiri saat ini sudah diambil alih KPU Provinsi Papua Pegunungan sejak tanggal 6 Desember lalu.
“Mereka menjaga suara dan tidak membiarkan saksi paslon Befa-Natan Pahabol, untuk ikut dalam proses rekapitulasi di tingkat manapun. Kami diancam bahkan dikejar dengan alat tajam akan dibunuh jika berani datang,” sesalnya.
Benny berharap kondisi darurat politik yang terkait di Tolikara ini segera disikapi pihak terkait, terutama KPU Papua Pegunungan, agar mengambil sikap tegas melakukan pleno rekapitulasi suara.
“Harus segera dilakukan pleno agar jangan terus berlarut seperti ini. Kami juga meminta agar pleno itu dilakukan diluar dari Tolikara ini atau tempat netral, supaya kita meminimalisir hal yang kita semua tidak inginkan,” tegasnya.
Hal senada Usman Wanimbo selaku Ketua Tim Pemenangan Paslon Befa-Natan di Tolikara, yang meminta semua pihak bisa menghormati proses demokrasi yang berlangsung.
“Tolikara ini bukan punya satu orang saja. Mari kita hargai proses dan pilihan masyarakat. Kita tunggu pleno KPU. Jangan dengan cara intimidasi dan klaim sepihak seperti saat ini,” tutup Usman. **














