Terampilnya, Perempuan Kokoda Merajut Noken dan Tikar

Kaum perempuan menunjuk noken, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id).

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, KOKODA—Perempuan Suku Kokoda memiliki keterampilan, salah-satunya adalah merajut noken dan tikar. Selain penyangga ekonomi keluarga juga ikut menjaga, merawat dan melestarikan budaya leluhur.  

Hal ini terungkap di sela-sela Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024) dan Kampung Birawako, Selasa (17/12/2024).

Kampung Migori dan Kampung Birawako terletak Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Nokeners menoken bersama pengrajin noken dan tikar Suku Kokoda. Masing-masing Ida Simurut, Daksi Kemiore, Saiba Erare dan Jamilah Tagate. Sedangkan di Kampung Birawako, Nokeners menoken bersama Amuaya Tanebe, seorang pengrajin nolen dan tikar.   

Nokeners yang hadir masing-masing Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) Sorong, Komunitas Menoken di beberapa wilayah adat Domberai, Mamta, Mitra BUMMA (Badan Usaha Milik Masyarakat Adat), BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dan Komunitas Menoken Lintas Budaya dari luar Papua, seperti Bogor, Yogyakarta dan Jakarta.

Kaum perempuan, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Lintas Generasi

Ida Simurut mengatakan, sebagian kaum perempuan Suku Kokoda dari lintas generasi mulai dari anak-anak hingga orang tua, memiliki keterampilan merajut noken dan tikar.   

Kitong (kita) semua sudah tahu merajut noken dan tikar. Ketong belajar dari orang tua secara turun-temurun,” ujar Ida.

Ida mengungkapkan, pihaknya merajut noken dan tikar memanfaatkan bahan-bahan lokal, yang ada disekitarnya, seperti tunas daun sagu, dan bahan pewarna, yang dibeli di pasar.

Ida mengatakan, tunas sagu diiris hingga halus dan rapi, dibelah dan mulai merajut noken dan tikar. Kemudian dikasih motif dan warna merah, kuning dan biru sesuai kebutuhan.

Ida menuturkan, pihaknya merajut noken dan tikar, untuk dijual di sekitar kampung hingga ke distrik Kokas menggunakan speed boat. Kadang-kadang juga dipakai untuk rumah tangga.

Kitong rajut noken dan tikar sehari selesai, kuat dan tahan lama,“ kata Ida.

Menurut Ida, pihaknya menjual noken dengan harga variatif sesuai ukuran noken. Ukuran kecil Rp 50.000, ukuran sedang Rp 100.000 dan ukuran besar Rp 150.000-Rp 200.000. 

“Kalau di kampung sini kitong jual tikar panjang Rp 100.000 dan tikar pendek Rp 50.000. Kalau di Kokas kitong jual tikar panjang Rp 150.000-Rp 200.000, dan tikar pendek Rp 100.000,” ucap Ida.

Selain merajut noken dan tikar, terang Ida, pihaknya juga merajut rumbai, untuk tari-tarian dalam pesta budaya dan lain-lain, diiringi tifa gong.

Nokeners belajar merajut noken bersama pengrajin, Amuaya Tanebe, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Birawako, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Nilai Ekonomis

Koordinator The Samdhana Institute Papua, Piter Aloisius Roki mengatakan, noken dan tikar memiliki nilai ekonomis. Selain untuk penyangga ekonomi keluarga juga ikut menjaga, merawat dan melestarikan budaya leluhur.      

Untuk itu, Roki mendorong kaum perempuan Suku Kokoda, untuk terus-menerus mengembangkan keterampilan merajut noken dan tikar dan lain-lain.  

“Jika ditekuni dan dilakukan secara rutin, maka orang bisa mengetahui ada produksi noken dan tikar di Suku Kokoda.

“Kedepan ada orang yang tertarik, untuk pesan lebih banyak lagi dengan aneka model dan motif,” tandas Roki.

“Saya lebih senang tidur di tikar, karena lebih hangat,” ungkap Roki, yang sempat membeli tikar panjang.

Direktur BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Yohana Tarkuo menyambut gembira kreatifitas kaum perempuan suku Kokoda merajut noken dan tikar. 

Ana panggilan akrab Yohana Tarkuo menuturkan, bahan-bahan untuk merajut noken dan tikar praktis tak beda di pelbagai kampung di Tanah Papua.

“Kalau di wilayah adat Namblong, Kabupaten Jayapura, pengrajin noken memanfaatkan daun genemo, sue atau mahkota dewa, untuk bahan merajut noken sekaligus menggunakan bahan pewarna alamia,” tandas Ana. 

Noken buah tangan Amuaya Tanebe siap dipasarkan. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Wariskan ke Anak Perempuan

Begitu pula saat Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Birawako, sejumlah Nokeners berusaha merajut noken, dan membeli noken, buah tangan Amuaya Tanebe, pengrajin noken.

Amuaya menuturkan, ia merajut noken memanfaatkan daun tamo, yang banyak tumbuh di hutan di wilayah Kokoda.

Ia pun menunjuk daun tamo yang dipetik lalu dijemur hingga kering, dibelah-belah dan ujungnya dipotong untuk mulai merajut noken.

“Sedangkan untuk tali noken digunakan ujung sagu yang masih mentah, dipotong dan dipisahkan, maka jadilah tali noken,” ujar Maya, panggilan akrabnya.

Maya ditemani anak perempuannya saban hari membawa dan menjual noken di sekitar kampung hingga Teminabuan dan Sorong. “Saya wariskan ke anak Perempuan, agar dia juga terampil merajut noken dan tikar,” tuturnya.  

Maya menjual noken kecil Rp 20.000 dan noken besar Rp 50.000. Sedangkan tikar ukuran panjang Rp 50.000 dan ukuran panjang Rp 100.000.

“Saya harap setiap anak Kokoda wajib merajut noken dan menjaga nilai-nilai budaya tetap lestari,” imbuhnya.

Nokeners dan warga menyampaikan salam menoken, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Birawako, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

3 M

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di sejumlah kampung di wilayah Suku Kokoda, antara lain, Migori, Kasuweri, Birawako, Arbasina, Nebes dan Tarof di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya 13-20 Desember 2024.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 adalah bagian dari program 3 M Samdhana Institute, yang berkolaborasi dengan Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) Sorong. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Ketua KOMPIPA Triantoro mengatakan, pihaknya ingin pulang kampung ke Kokoda 2024, untuk bertemu, silaturahmi, melihat dari dekat dan berinteraksi dengan keluarga di suku Kokoda.

Menurut Triantoro, KOMPIPA sejak berdiri 18 Maret 2017, tapi belum pernah mengunjungi Kokoda. Oleh karena itu, KOMPIPA menyambut baik gagasan The Samdhana Institute melakukan kegiatan Menoken Domberai, khususnya kegiatan Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024.

The Samdhana Institute, merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait dengan lingkungan hidup.

Sedangkan KOMPIPA adalah sebuah organisasi/komunitas yang  sejak lebih dari 5 tahun terakhir ini melakukan pendampingan berupa kegiatan sosial dan lingkungan hidup kepada warga asal suku Kokoda, yang berdomisili di sekitar Kabupaten Sorong, antara lain, di Kampung Kurwato, Maibo, Usili dan Warmon. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *