Street Campaign Jaga Iklim, Peringati hari Sumpah Pemuda

Aksi pemuda peduli iklim yang mengkampanyekan isu perubahan iklim dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Kamis (28/10/2021) di Taman Imbi Kota Jayapura. (foto: istimewa)

PAPUAInside.com, JAYAPURA— Pulau Papua menyimpan berbagai keanekaragaman hayati dan memiliki lebih dari 33 Juta Ha tutupan hutan atau lebih dari 80 persen total luas lahan di Papua (Cifor). Dengan begitu, Pulau Papua mempunyai peran yang sangat penting dalam mencegah adanya perubahan iklim dunia dan sekaligus merupakan benteng terakhir yang harus dijaga.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus kepedulian bagi anak-anak muda di Jayapura akan adanya isu perubahan iklim yang disebabkan langsung oleh aktifitas manusia. Laju perubahan iklim yang cepat dapat dipicu oleh perubahan alih fungsi lahan hutan untuk perkebunan sawit yang saat ini menjadi ancaman bagi hutan Papua, penggunaan energi yang tidak terbarukan (fosil), sampah yang dapat menyebabkan GRK (gas rumah kaca), dan kegiatan manusia lainnya.

Maka dari itu, kumpulan pemuda yang tergabung dalam koalisi pemuda jaga iklim mengadakan aksi street campaign sekaligus memperingati hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Aksi ini diadakan pada 28 Oktober 2021 dan bertempat di Taman Imbi / Yos Sudarso Kota Jayapura. Aksi dimulai pukul 16.00 WIT dan diakhiri pukul 17.00 WIT.

Kampanye selamatkan lingkungan oleh Koalisi Pemuda Jaga Iklim di Taman Imbi Kota Jayapura, Kamis (28/10/2021). (foto: istimewa)

Aksi dimulai dengan seluruh individu memegang papan yang berisi tulisan atau pesan mereka terhadap isu perubahan iklim. Ditengah kegiatan juga hadir sosok yang mengenakan topeng Salvador Dali. Salvador dali merupakan tokoh yang terkenal sebagai simbol penegak keadilan dan sempat terkenal melalui serial Netflix : Money Heist/ La Casa De Papel. Sosok tersebut hadir di kegiatan ini sebagai simbol untuk mendorong kembali komitmen Indonesia dalam menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi perubahan iklim dunia. Selain itu, pesan yang disampaikan dalam kampanye ini juga yaitu agar pemerintah  dapat menciptakan keseimbangan antara pembangunan dan juga menjaga alam di Indonesia sesuai dengan Tujuan dari Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal’s). Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan teks “Sumpah Pemuda Jaga Iklim” yang bersama-sama dibacakan oleh seluruh peserta street campaign ini.

Disini pemuda juga menyinggung soal krisis iklim yang tak lepas dari  banyaknya perijinan setelah 1 tahun berlakunya UU Cipta Kerja. Ini dikatakan seperti memberi karpet merah kepada para perusahaan yang masuk ke Papua untuk mengeksploitasi hutan Papua yang berdampak pada rusaknya ekosistem dan perubahan iklim.

Tak hanya itu, ada juga kelompok pemuda yang menyinggung soal perusahaan yang ikut menjadi actor dibalik pencemaran lingkungan khususnya soal plastic. Dari hasil produksi yang berjalan selama ini nyata ikut berkontribusi dalam krisis iklim. yang utama adalah produk Coca Cola dari The Coca Cola Company. Coca cola adalah satu produk yang paling banyak menghasilkan plastic, dimana berdasarkan laporan merek Break Free From Plastic’s (BFFP) 2020 lebih dari 5.000 merek yang dimiliki oleh sekitar 3.000 perusahaan induk telah menyumbang sampah plastic diberbagai tempat di seluruh dunia.

Berdasarkan analisis BFFP, Coca Cola menempati urutan utama sebagai produsen penyumbang sampah plastik terbanyak, diikuti oleh Pepsi dan Nestle. Berikutnya adalah Unilever, Mondelez, Mars, P&G, Philip Morris International, Colgate-Palmolive, dan Perfetti Van Melle. Dari hasil survei disebutkan hasilnya adalah The Coca-Cola Company (51 kota, 13.834 plastik), Pepsico (43 kota, 5.155 plastik), Nestle (37 kota, 8.633 plastik),  Unilever (37 kota, 5.558 plastik) dan  Mondelez (34 kota, 1.171 plastik). ** (redaksi/ist)