Sikapi Gejolak Papua Pegunungan, Papua Muda Progresif Rumuskan Tiga Rekomendasi

Papua Muda Progresif menggelar Diskusi Publik bertema “Mendorong Dialog, Perlindungan Masyarakat Sipil, dan Jalan Damai Menuju Papua yang Aman, Bermartabat, dan Berkeadilan” di Wamena, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Papuainside.id/RF)

Oleh: RF  I

PAPUAINSIDE.ID, WAMENA–Papua Muda Progresif merumuskan tiga rekomendasi dari Diskusi Publik bertema “Mendorong Dialog, Perlindungan Masyarakat Sipil, dan Jalan Damai Menuju Papua yang Aman, Bermartabat, dan Berkeadilan” yang berlangsung di Wamena, Papua Pegunungan, Sabtu (26/9/2026).

Tiga rekomendasi tersebut berkaitan dengan penguatan perlindungan hak masyarakat sipil dan masyarakat adat, pembukaan ruang dialog untuk penyelesaian berbagai konflik, serta seruan penghentian konflik yang berdampak pada masyarakat sipil.

Diskusi yang berlangsung sehari di salah satu hotel di Wamena itu menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, tokoh gereja, Majelis Rakyat Papua (MRP), Dewan Adat Papua (DAP), pegiat HAM, dan perwakilan legislatif. Kegiatan tersebut juga dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan tokoh perempuan di Papua Pegunungan.


Para peserta Diskusi Publik bertema “Mendorong Dialog, Perlindungan Masyarakat Sipil, dan Jalan Damai Menuju Papua yang Aman, Bermartabat, dan Berkeadilan” yang digelar Papua Muda Progresif di Wamena, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Papuainside.id/RF)

Dorong Pemerintah Buka Ruang Dialog

Inisiator Diskusi Publik, Yops A. Itlay, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi situasi keamanan di Papua serta rentetan peristiwa yang terjadi di Papua Pegunungan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Yops, persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka, terutama oleh pemerintah, agar dapat ditemukan jalan keluar secara damai.

“Konflik yang terjadi di Papua ini harus dibicarakan, terutama pemerintah harus bicara, agar bisa mencari jalan keluar damai. Jangan kita biarkan konflik ini terus terjadi, tetapi tidak ada yang bicara,” ungkap Yops.

Ia mengatakan rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, baik warga non-Papua maupun Papua.

“Tidak ada pemerintah bicara bagaimana mencari jalan keluar atau solusi yang terbaik agar konflik ini berakhir. Itu yang kita harapkan,” tegasnya.


Papua Muda Progresif menggelar Diskusi Publik bertema “Mendorong Dialog, Perlindungan Masyarakat Sipil, dan Jalan Damai Menuju Papua yang Aman, Bermartabat, dan Berkeadilan” di Wamena, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Papuainside.id/RF)

Bahas Berbagai Persoalan Papua

Diskusi tersebut membahas berbagai persoalan Papua, mulai dari sejarah bergabungnya Papua dan NKRI, kehidupan sosial budaya masyarakat, hingga berbagai gejolak yang terjadi di Tanah Papua.

Yops berharap dialog ilmiah tersebut melahirkan poin-poin penting yang dapat direkomendasikan kepada pihak legislatif, yudikatif, MRP, dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan untuk ditindaklanjuti.

Menurut dia, rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah mendorong perdamaian di Papua.

“Sebenarnya ada banyak jalan untuk menyampaikan aspirasi, di mana teman-teman bisa turun jalan dan lain sebagainya, tetapi kami memilih menyampaikan aspirasi dengan jalan yang lebih intelektual. Kalau pemerintah provinsi mendukung untuk menyampaikan rekomendasi ini ke pusat, kami bersyukur.”


Inisiator Diskusi Publik, Yops A. Itlay. (Foto: Papuainside.id/RF)

Tiga Rekomendasi Papua Muda Progresif

Hasil diskusi merumuskan tiga rekomendasi, yakni: Pertama, mendesak dan mendorong DPRP/DPRD dan MRP membuat regulasi berupa peraturan daerah (perda) serta memperkuat perlindungan terhadap hak-hak masyarakat sipil dan masyarakat adat.

Kedua, mendesak eksekutif, legislatif, dan yudikatif membuka ruang serta melibatkan tokoh adat, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat untuk berdialog bersama dalam menyelesaikan persoalan kekerasan, konflik sosial, konflik politik, dan konflik antarsuku di Papua Pegunungan secara adil dan bermartabat.

Ketiga, menyerukan kepada seluruh pihak yang berkonflik agar segera menghentikan konflik, terutama tindakan yang berdampak pada pengorbanan masyarakat sipil, serta memegang teguh nilai-nilai ajaran agama Kristen. **

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *