Raih Kalpataru, Petronela Merauje Bertekad Buat Terebosan Perlindungan Hutan Perempuan

Senyum bahagia Petronela Meraudje membawa Kalpataru yang dianugerahkan negara kepadanya karena kepedulianya melindungi Hutan Perempuan di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. (foto: Faisal Narwawan)

Oleh : Faisal Narwawan|

PAPUAinside. Id, JAYAPURA – Mama Petronela Merauje, Penerima penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) diarak mengelilingi Kabupaten dan Kota Jayapura hingga finish ke Pantai Cibery, Sabtu (10/6/2023) pagi.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri LHK Siti Nurbaya kepada Mama Petronela pada 5 Juni 2023 di Manggala Wanabakti, Jakarta.

Ini membuktikan dirinya sebagai tokoh perempuan yang berpengaruh dalam perlindungan hutan perempuan (Tonotwiyat) di Teluk Youtefa.

Mama Nela, sapaan akrab Petronela Merauje tiba di Bandara Sentani pada Sabtu (10/6) pagi yang kemudian diarak menuju Pantai Cibery.

Petronela Merauje peraih Kalpataru 2023 saat penyambutan di Pantai Cibery, Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. (Foto: Faisal Narwawan)

Di Cibery dilangsungkan penyambutan penerima penghargaan dan  penyerahan Mama Nela kepada adat oleh Pemerintah Provinsi Papua diwakili Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Jan. Jap. L. Ormuseray.

Dalam kesempatan itu, Mama Nela mengatakan bahwa  capaian itu  bukanlah hal yang gampang.

“Kalpataru ini menjadi motivasi buat saya, juga bagi kita semua, perempuan di Kampung Enggros dan juga seluruh masyarakat Papua untuk sama-sama kita menjaga, merawat hutan Papua, ” ungkap Mama Nela di Pantai Cibery, Sabtu (10/6/2023).

Meski sudah menjadi panutan, Petronela Merauje merasa capaian yang ia dapatkan bukanlah karena perjuangannya semata.  “Melainkan juga karena bantuan dari teman-teman pemerhati lingkungan, dinas terkait yang juga membantu saya menyuarakan bahwa hutan perempuan itu ada, ” katanya.

Peraih Kalpataru 2023 Petronela Meraudje bersama Kadias Kehutanan dan LH Provinsi Papua Jan Jap Ormuseray didampingi Ketua DWP KLH Provinsi Papua Ny Ida Ormuseray saat penyambutan di Pantai Cibery Kota Jayapura, Papua. (foto: Faisal Narwawan)

Ia mengharapkan, tak hanya dirinya yang melakukan dan mencapai hal tersebut, melainkan ada pecinta lingkungan lain yang juga hadir dan ikut memperjuangkan alam Papua.

“Ketika saya mendapat penghargaan itu, saya berpikir akan ada satu terobosan yang saya lakukan dengan pemerintah agar kita membuat regulasi khusus untuk hutan perempuan dan hutan mangrove di Teluk Youtefa. Tidak ada lagi penjualan, penebangan hutan oleh pihak manapun dan akan tetap menjadi hutan adat di teluk ini, tidak bisa dan tidak boleh dijual oleh siapapun,” jelasnya.

Ia pun mengharapkan tokoh adat di Enggros dan Tobati   bersaama-sama  turut serta dalam mendorong regulasi tersebut.  “Sehingga  sama-sama menjaga dan melarang siapapun untuk menebang satu pohon pin di hutan bakau yang ada di Teluk Youtefa, ” tegasnya.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Jan. Jap. L. Ormuseray pada kesempatan itu mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menganugerahi 412 kalpataru sejak dimulai pada Tahun 1.980 silam.

Pada tahun 2023,  terdapat 368 peserta baik individu maupun kelompok  yang berjuang meraih Kalpataru.  “Terpilih 10 orang dan salah satunya Mama Nela, ” katanya.

Ia mengapresiasi Petronela Merauje dalam usahanya yang memang bukan termotivasi untuk menerima Kalpataru.  Melaikan telah mengabdi untuk hutan mangrove sejak 10 tahun lamanya.

“Apa yang dilakukan mama Petronela bukan muncul saat mau terima Kalpataru, tapi sudah dimulai sejak 10 tahun lebih. Dan Kalpataru adalah penghargaan untuk dirinya, kesehariannya memang hidup dalam hutan bakau, jadi kalau setelah menerima Kalpataru alkan redup kegiatannya, saya rasa tidak, karena ia sendiri telah mengabdikan hidupnya untuk magrove,” katanya lagi.

Ia pun mengharapkan, keterlibatan semua pihak termasuk warga Kota Jayapura. Kata dia, perlu ada komitmen untuk menjaga Teluk Youtefa.  “Jangan jadikan teluk ini sebagai tempat sampah raksasa. Karena itu mari kita sadar, sampah di Teluk Youtefa ini banyak mengalir dari warga di kota, sehingga menyebabkan laut tercemar. Masih dalam suasana hari lingkungan hidup, kesadaran kita untuk memilah sampah itu penting. Apa yang sudah dimulai dari mama Petnorela dan juga komunitas lain harus kita contohi untuk menjadi gaya hidup kita, karena tak bisa dipungkiri bahwa bumi semakin panas, maka mari kita jaga, ” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *