Oleh: Faisal Narwawan I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA–Puluhan siswa berbagai tingkat satuan pendidikan di Depapre, Kabupaten Jayapura, mendadak mengeluh pusing, mual hingga sakit perut, setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (4/8/2026).
Para siswa terpaksa dilarikan ke puskesmas setempat setelah keluhan yang dirasakan semakin parah. Pasien dengan keluhan yang sama terus beberdatangan, hingga mereka harus dirujuk ke RSUD Yowari.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua mencatat sebanyak 65 pasien dirujuk ke RSUD Yowari. Selain itu, delapan pasien juga saat ini ditangani Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura. Data ini belum final mengingat korban keracunan ini tersebar di beberapa fasilitas kesehatan dan masih terus berdatangan.
Dinkes Provinsi Papua menyebutkan, data pasti mengenai total keseluruhan korban saat ini masih dihimpun Health Command Center Dinkes Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Berry I.S. Wopary, menyatakan bahwa kondisi para pasien yang dirawat di RSUD Yowari kini sudah berangsur membaik dan memasuki fase pemulihan (recovery). Gejala yang dialami pasien masuk dalam kategori diare ringan hingga sedang akibat dehidrasi.
“Rata-rata tingkat kesadaran pasien baik dan responsif. Pemberian cairan pendamping serta terapi antibiotik dari tim medis sangat efektif mempercepat pemulihan. Sebagian pasien sudah mulai bisa makan dan berjalan,” ujar dr. Berry saat ditemui wartawan di RSUD Yowari, Sentani, Rabu (5/8/2026).
Terkait dugaan keterkaitan dengan program MBG, investigasi menyeluruh mengenai alur pengolahan makanan hingga distribusi saat ini tengah dilakukan oleh pihak berwenang di tingkat kabupaten, provinsi, hingga struktur Badan Gizi Nasional (BGN).
Sementara itu, tim medis memfokuskan penanganan pada keselamatan dan pemulihan penuh para korban.
Pantauan Papuainside.id di RSUD Yowari, pasien yang menjalani pengobatan berangsur-angsur pulih.
Sementara itu, keluhan dan desakan datang dari warga setempat. Benselina Demetow, seorang kader Posyandu Depapre sekaligus orang tua korban, menuturkan bahwa insiden ini menimbulkan keresahan mendalam bagi masyarakat setempat.
“Jadi yang kami tahu, korban itu ada ibu menyusui, balita, dan tentu siswa-siswi,” kata Benselina saat ditemui di RSUD Yowari.
Menanggapi kejadian tersebut, ia berharap program MBG di wilayahnya dihentikan.
“Harapan masyarakat itu semua, program ini ditutup. Tidak perlu ada lagi, kalau mau bantu, bantu uang saja,” tegasnya.
Di sisi lain, Kuasa Hukum Yayasan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Depapre, Yansen Marudut, menyatakan pihaknya bertanggung jawab penuh dan bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan warga yang diduga mengalami keracunan makanan di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.
Yayasan saat ini masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan dari Dinkes dan Puskesmas setempat untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
“Segala bentuk biaya pengobatan korban yang diduga keracunan kami bersedia menanggungnya. Kami juga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada pihak kepolisian Polres Jayapura dan Badan Gizi Nasional (BGN),” ujar Yansen Marudut saat memberikan keterangan kepada awak media.
Yansen menjelaskan, dari total 2.200 porsi makanan yang didistribusikan hari itu ke sejumlah sekolah dan Posyandu, diperkirakan sekitar 10 persen atau 200 penerima manfaat yang terdampak Kejadian tersebut.
Beberapa korban sempat dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk perawatan intensif, di antaranya RSUP Kemenkes dan RSUD Yowari. Sebagian pasien yang kondisinya membaik dilaporkan sudah diperbolehkan pulang.
Terkait operasional dapur SPPG Depapre, Yansen membenarkan adanya penghentian sementara kegiatan pelayanan. Penghentian operasional ini dilakukan guna mendukung proses penyelidikan dan investigasi yang sedang berjalan hingga ada keputusan resmi dari BGN Pusat.
Selain penyelidikan kepolisian dan evaluasi internal BGN, sejumlah karyawan dapur juga telah dimintai keterangan oleh penyidik untuk mendalami berbagai kemungkinan, mulai dari alur pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga tenggat waktu distribusi makanan.
Yansen menegaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan selama ini telah mengikuti standarisasi gizi dan operasional yang ditetapkan oleh BGN serta didampingi oleh tenaga ahli gizi.
Sesuai prosedur standar, pihak pengelola juga selalu menyisihkan dua sampel makanan setiap harinya untuk kepentingan pengujian laboratorium jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Menu yang disajikan pada hari kejadian terdiri dari nasi, telur, tempe, sayur pakcoy dan jagung, serta buah semangka, yang porsinya telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing tingkatan usia, mulai dari Posyandu, PAUD, SD, SMP, hingga SMK di wilayah Depapre dan sekitarnya.
Pihak yayasan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi uji laboratorium serta hasil investigasi kepolisian. **













