Pesan Damai Ibunda dari Kulonprogo untuk Papua 

Nokeners mengunjungi rumah orang tua Ambrosius Ruwindrijarto, sekaligus bertemu Ibunda Katharina Sumanah di Dusun Mbajing, Desa Pagerharjo, Samigaluh Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: (Foto: Azima Rahtu Yunida/Mitra BUMMA)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, KULON PROGO—Kabupaten Kulon Progo menjadi salah-satu lokasi rangkaian kegiatan Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2020-2024. Nokeners tiba dan menginap di Kota Menoreh julukan Kulon Progo, 25 November 2024. 

Menoken di Kulon Progo adalah napak tilas, untuk mengingat kembali jejak menoken  pertama pada November 2020 di sejumlah lokasi di Pulau Jawa pada masa pandemi Covid-19, yakni Garut, Banten, Batang, Magelang, dan Yogyakarta.

Lokasi menoken di Desa Pagerharjo tersebut adalah di Pasar Sempulur, yang juga pernah menjadi lokasi Temu Mitra Samdhana tahun 2019 dan juga lokasi menoken 2020.

Yuniken Mayangsari, Nokeners yang berdomisili di Bogor mengalungkan noken kepada Katharina Sumana, ibunda Ambrosius Ruwindrijarto. (Foto: Azima Rahtu Yunida/Mitra BUMMA)

Saat kembali kegiatan Menoken Kembali Mula Baku Belajar November 2024, Pasar Sempulur telah dipugar dengan nama Pancer Menoreh Pagerharjo atau Plono Camp Ground.

Keesokan harinya 26 November, Nokeners berkesempatan mengunjungi rumah orang tua Ambrosius Ruwindrijarto di Dusun Mbajing, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Provinsi DIY.

Ambrosius Ruwindrijarto adalah pengagas Gerakan Menoken dengan filosofi tas noken bentuk jaring dan juga penggagas Mitra BUMMA sebagai pendamping untuk penguatan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA).

Suasana kegiatan Menoken pada November 2020 di Pasar Sempulur Pagerharjo, Kulon Progo.  (Foto: The Samdhana Institute)

Ambrosius Ruwindrijarto dengan sapaan akrabnya Mas Ruwi, bersama para Nokeners disambut langsung oleh Katharina Sumana, ibunda Mas Ruwi.

Mas Ruwi langsung memeluk dan mencium kening ibunda tercinta, disusul satu persatu para Nokeners menyapa dan bersalaman juga mencium tangan ibunda. Suasana begitu damai, adem dan penuh suka cita.

“Saya sudah sepuh usia 81 tahun,” tutur Ibunda sambil tersenyum, yang rupanya wajah khas Mas Ruwi adalah menurun dari ibunda.

Ambrosius Ruwindrijarto adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara pasangan Almarhum Isidorus Rubingan Rubyartoatmodjo dan Katharina Sumana.

Mas Ruwi kemudian memperkenalkan kepada ibunda bahwa kehadiran Nokeners dari sejumlah wilayah adat di Tanah Papua, untuk kegiatan menoken di Pulau Jawa. Salah-satunya di Kulon Progo. Nokeners pun bergiliran memperkenalkan diri.

Manajer Vanila BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Ribka Waibro berbincang dengan Ibunda Katharina Sumana di Dusun Mbajing, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Manajer Vanila BUMMA PT Yombe Namblong Nggua Ribka Waibro, yang akrab dipanggil Mama Ribka mengawali membuka dan dilanjutkan semua Nokeners.

Sebagai tanda kasih, Nokeners menyerahkan cinderamata berupa tas noken kepada Katharina Sumana, ibunda Ambrosius Ruwindrijarto.

“Kami berikan untuk Mama cinderamata sebagai tanda kasih kami masyarakat Papua,” ucap Ribka sembari memeluk erat Ibunda.

 “Kami akan ke Sinogo terus ke kopi Mbajing, untuk melihat tanaman vanila dan kopi lanjut ke Bukit Ngisis,” ujar Mas Ruwi kalem.

Nokeners mencium tangan Ibunda Katharina Sumana, didampingi Ambrosius Ruwindrijarto di Dusun Mbajing, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Yuniken Mayangsari, Nokeners yang berdomisili di Bogor menyampaikan kepada ibu Katharina, bahwa Mas Ruwi sangat mendukung pengelolaan potensi masyarakat adat dan komunitas lokal di Tanah Papua. Apalagi mas Ruwi memiliki pengetahuan mengenai vanila selama ini, dan rupanya di Suku Namblong juga banyak membudidayakan vanila.

“Jadi ilmunya Mas Ruwi disambungkan dengan ilmu Nokeners Namblong, untuk bersama membudidayakan vanila dan mengoptimalkan kualitas, juga peluang pemasaran dan penjualannya,” ungkap Niken sapaan akrab Yuniken Mayangsari.

Ibunda pun menjawab “Amin” sembari menunjukan jemarinya seperti mengingatkan mengenai suasana yang tak aman disana. Ibunda kemudian menambahkan dan mendoakan semoga ke depan Papua lebih aman dan lebih tenteram.

“Kami ikut berdoa, agar Papua menjadi wilayah yang aman dan damai,” imbuh Ibunda.

Nokeners menyampaikan salam menoken, ketika kunjungan ke rumah orang tua Ambrosius Ruwindrijarto, sekaligus bertemu Ibunda Katharina Sumana di Dusun Mbajing, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Azima Rahtu Yunida/Mitra BUMMA) 

Makawaru da Cunha, Nokeners yang berdomisili di Kota Jayapura menuturkan pertemuan bersama Ibunda Mas Ruwi, adalah untuk saling memperkenalkan diri, bersilaturahmi, khususnya meminta doa restu dari ibunda untuk mendukung kasih dan cinta mas Ruwi bersama para Nokeners, untuk terus saling mendukung dalam gerakan menoken, menanam dan mem-BUMMA.

“Kalau tak kenal, maka tak sayang. Kalau tak sayang, maka tak cinta,” ungkap Makawaru lembut.  

Nokeners pun menghibur ibunda dengan menyanyikan lagu “Tanah Papua” lewat petikan gitar ukulele dari Piter Roki Aloisius, Nokeners yang berdomisili di Kota Jayapura.

Ibunda terdiam sejenak lalu dengan mata berkaca-kaca mendengarkan alunan lagu wajib warga di Tanah Papua itu. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *