Penoken Mambesak Mengunjungi Work Shop di Kampung Ampas, Keerom

Pengelola Work Shop Laurensius Mofus dan sejumlah kaum wanita menunjukan noken. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, JAYAPURA—Menoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, 6-7 Agustus 2024, diisi dengan  mengunjungi Work Shop atau tempat seni, budaya  dan kerajinan tangan, seperti noken, pakaian tradisional, topi, tifa, jubi, anting-anting, gelang dan lain-lain.

Pengelola Work Shop Laurensius Mofus sekaligus Sekretaris Adat Suku Fermanggem menuturkan, pihaknya memproduksi  benda-beda seni, budaya  dan kerajinan tangan, selain untuk dijual juga digunakan untuk mengikuti festival di Arso maupun Jayapura.

Kampung Ampas terletak di wilayah perbatasan RI-Papua New Guinea (PNG), berdiam Suku Fermanggem, salah suku besar di Kabupaten Keerom, yang terdiri dari 11 marga atau keret. 

Pengelola Work Shop Laurensius Mofus sekaligus Sekretaris Adat Suku Fermanggem, menunjukkan  benda-beda seni, budaya dan hasil kerajinan tangan. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Sebelumnya, sejumlah kaum perempuan menunjukan cara merajut noken di sela-sela Menoken Mambesak.

Dua Perajut Noken, Yani Mofus dan Catharina Yoron mengatakan, merajut noken merupakan budaya turun-temurun Suku Fermanggem.

“Sejak dari nenek moyang sudah ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki membuat tifa, jubi, topi dan lain-lain. Sedangkan perempuan merajut noken,” ujar Yani.   

Yani mengatakan, ada dua jenis noken yang dirajut, yakni noken kecil dan noken besar atau bai.

Noken kecil digunakan untuk mengisi sirih pinang, kapur, rokok, dompet dan lain-lain. Sedangkan bai untuk mengisi hasil-hasil pertanian, seperti sayuran, umbi-umbian, kayu potong, binatang buruan, menggendong anak dan juga untuk mengisi barang-barang dagangan ke pasar.

Dua Perajut Noken Kampung Ampas, Yani Mofus dan Catharina Yoron, menunjukan cara merajut noken di sela-sela kegiatan Menoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 6-7 Agustus 2024 lalu. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Yani menjelaskan, bahan-bahan untuk merajut noken dan bai berasal dari serat kulit kayu nibung atau swits, yang disebut kayu multi fungsi.

Batang kayu nibung digunakan untuk balok dan papan, daun pelepah untuk atap rumah, serat untuk merajut noken dan bai, dan buah untuk bahan pewarna.   

“Satu batang kayu nibung menghasilkan tiga serat kayu, untuk merajut satu noken. Sedangkan bai membutuhkan lebih banyak serat kayu nibung,” ucap Yani. 

Dijelaskan serat kulit kayu nimbung kemudian dipotong dan dijemur. Setelah kering digulung menjadi seutas tali. Tali tersebut dicelup bahan pewarna alami, yang diambil dari buah nibung.

Sedangkan buah nibung, digunakan untuk bahan pewarna alami untuk merajut noken atau bai, seperti merah (endrepetige), hitam (ketam), biru (sum), kuning (wer).

“Untuk pemakaian warna untuk noken dan bai tergantung kita suka warna mana,” terang

Sementara itu, Catharina Yoron mengatakan, setelah semua bahan sudah terkumpul lalu menggunakan jarum dari tulang kaswari mulai merajut noken dan bai.

Perempuan saat pergi mencari hasil hutan, membawa noken dan bai sekaligus yang diletakan di depan dan bai dililit di kepala.

Suasana Menoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, 6-7 Agustus 2024. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Diketahui, Menoken Mambesak adalah rangkaian kegiatan peringatan HUT Mambesak ke-46 Tahun 2024 di Pelataran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura 5 dan 9 Agustus 2024, sekaligus peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024.

Manoken Mambesak digelar di dua kampung, masing-masing di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua 2024.

Dilanjutkan di Kampung Pupehabu, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua 8-9 Agustus 2024.

Turut hadir puluhan penoken, mewakili Komunitas Menoken Mamta, Komunitas Pemuda Yotoro, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Menoken Samdhana, Komunitas EcoDefender Jayapura dan Komunitas Rumah Bakau Jayapura. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *