PAPUAInside.com, KAIMANA— Tidak seperti beberapa hari terakhir yang turun hujan, hari ini cuaca cerah sejak matahari beranjak naik. Ada pemandangan tak biasa di lingkungan Hotel Grand Papua, Kaimana.
Terdapat 30 orang anggota pramuka tingkat Penggalang dari Gugus Depan 03/04 SD Yapis Kaimana hadir mengisi ruang kelas pelatihan yang sebelumnya hanya diisi oleh para pembina pramuka.
Pelatihan dimaksud adalah Pelatihan untuk Pelatih PLH kepada Pembina Pramuka dari Kwarcab 3306 Kaimana yang diselenggarakan oleh Kwartir Ranting Kaimana dengan dukungan Conservation International Indonesia. Pelatihan berlangsung 3 hari, 15- 17 Februari 2021.
Kak Lambert Rumi, Ketua Panitia Pelatihan untuk Pelatih PLH ini bercerita bagaimana mereka harus bekerja lebih keras dari biasanya karena harus menyiapkan dan menerapkan protokol Kesehatan dengan sangat ketat selama kegiatan berlangsung. Bahkan sebelum kegiatan, sebanyak 45 orang yang terlibat langsung selama kegiatan wajib menjalani test swap antigen terlebih dahulu, dengan hasil negative untuk 45 sampel yang diambil.

Panitia juga menyiapkan 1 orang petugas medis, yang khusus ditugaskan mengawal penerapan protokol kesehatan dan pengecekan suhu badan peserta pada setiap hari. Bahkan panitia juga menyiapkan inform consent untuk ditandatangani peserta dan tata tertib untuk memastikan kegiatan berjalan aman.
Hari ini, 17 Februari 2021 merupakan hari dimana para pembina yang telah mengikuti pemaparan materi selama 2 (15-16 Februari) akan mempraktekkan penggunaan modul PLH dan tehnik pembelajarannya kepada 30 anggota pramuka tingkat penggalang yang didatangkan panitia dari gugus depan 03/04 SD Yapis Kaimana.
“Saya biasa menjadi panitia dalam berbagai kegiatan pramuka, tapi baru kali ini yang sangat-sangat repot karena dilaksanakan saat Covid-19 masih membayangi segala aktifitas manusia. Syukur, semua bisa berlangsung dengan baik,’’ tegas kak Lambert.
Sementara itu, di sayap barat Hotel yang biasanya menjadi lokasi dilangsungkannya acara resmi, dengan kehadiran 30 anak Penggalang ini justru hiruk pikuk menjadi arena Proses Belajar Mengajar bagi Pembina Pramuka yang telah menerima materi dan modul Pendidikan Lingkungan Hidup selama 2 hari kelas, 15 – 16 Februari 2021.
“Hari ketiga ini (17 Februari 2021 – red) memang diagendakan setiap pembina/guru dapat mempraktekkan penggunaan modul PLH langsung kepada anak pramuka dari tingkat Penggalang, serta pelaksanaannya akan berlangsung di lokasi, dimana topik pembelajaran itu berada. Misalnya modul mangrove, akan langsung ke habitat mangrove. Ini agar, proses belajar mengajarnya langsung terjadi di alam,” terang Kak Warda, Kak Mery, Kak Menas secara bergantian. Mereka adalah pelatih PLH di Conservation International Indonesia (CII) yang memfasilitasi proses Pelatihan untuk Pelatih ini.
Persiapan praktek pembelajaran mulai nampak sibuk, dimulai dari anak pramuka penggalang yang sedang diarahkan baris bebaris dalam kelompok yang sebelumnya telah ditentukan Pelatih dan Panitia.
Di sudut lain, para pembina sedang menjalani pengarahan dan pembagian kotak bekal modul bahan ajar serta alat peraga Pendidikan Lingkungan Hidup. Tak lupa bekal masker, tumbler (botol air) dan alat tulis pun dibagikan kepada kelompok pramuka Penggalang. Terlihat semua antusias dan bersemangat belajar bersama dalam kelompok belajar.
Penyelenggaraan Pendidikan Lingkungan Hidup pada hakikatnya memberikan pembelajaran pada rombongan belajar untuk pedulli terhadap masalah, terutama masalah lingkungan dan berlatih untuk menyusun sebuah positive action dalam upaya meminimalisasi permasalahan yang timbul.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke lokasi pembelajaran. Kota kaimana memang kota yang menyajikan pesisir pantai cukup panjang dan sangat repesentatif dijadikan lokasi belajar. Masing-masing rombongan belajar kembali mengecek anggotanya dan perlengkapannya.
Rupanya, yang disepakati menjadi modul yang dipraktekkan dalam proses belajar mengajar bersama pramuka penggalang adalah modul detektif mangrove/bakau dan modul padang lamun.
Dimulai masing-masing pembina memberikan pengarahan tentang tujuan pembelajaran dari modul yang diajarkan, seperti; pengenalan jenis, nilai penting dan manfaat dari jenis yang diajarkan, ancaman terhadap jenis tersebut, dampak bagi manusia dan alam jika jenis tersebut tidak ada di ekosistem serta hal-hal yang dapat dilakukan oleh tiap individu dalam rombongan belajar agar dapat meminimalkan masalah.
Anak-anak bergembira selama proses pembelajaran. Baru kali ini mereka mengalami proses belajar yang menyenangkan seperti ini. “Saya senang bisa belajar seperti ini, saya dikasih materi, terus bisa lihat apa yang saya pelajari secara langsung di alam. Saya jadi tau kalau mange-mange itu ada banyak jenis,’’ jelas Andini, salah satu penggalang putri, dengan bersemangat.
Waryono dan Didit (2001) menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang kritis sebagai generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Jika pengetahuan dan cara yang ditanamkan pada masa kanak-kanak itu benar, dapat diharapkan ketika ia mencapai masa remaja dan dewasa, maka bekal pengetahuan, pemahaman dan pembentukan perilaku semasa masa kanak-kanak akan membawa pengaruh positif yang sangat besar yang akan mempengaruhi kehidupannya.
Apa itu Pendidikan Lingkungan Hidup?
Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif , untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah timbulnya masalah baru. (UNESCO, Deklarasi Tbilisi, 1977)
Kategori PLH yang dilaksanakan bersama Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3306 Kaimana ini adalah Pendidikan Lingkungan Hidup non-formal yang dilakukan diluar sekolah yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang dengan pendekatan prisip Memanfaatkan beraneka ragam situasi pembelajaran (learning environment) dan berbagai pendekatan dalam pembelajaran mengenai dan dari lingkungan dengan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya praktis dan memberikan pengalaman secara langsung (first – hand experience).** (MRS/ KAIMANA)














