Pencinta Kopi Wajib Tau! Ada Wamena Kopi Festival di Bulan Agustus Nanti

Biji kopi asli Wamena yang tumbuh subur dan dibudidayakan di Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Papuainside.id/RF)

Oleh: RF  I

PAPUAINSIDE.ID, WAMENA–Jayawijaya selain tersohor karena budaya dan alamnya yang eksotis, Lembah Baliem juga terkenal dengan kualitas kopinya yang autentik. Kopi Wamena bahkan diakui sebagai salah satu kopi Arabika premium terbaik di dunia, dengan tingkat keasaman yang rendah serta aroma bunga dan coklat yang kuat.

Kopi ini tumbuh di pegunungan Jayawijaya pada ketinggian 1.200-1.600 mpdl, dibudidayakan secara alami tanpa pupuk kimia, dengan jumlah produksi 12 hingga 240 ton pertahun.

Untuk mempromosikan sumber daya alam yang satu ini pemerintah Jayawijaya rutin menggelar even-even bersama UMKM lokal untuk terus mengenalkan kopi Wamena, salah satunya dengan digelarnya Wamena Kopi Festival pada tanggal 7-10 Agustus nanti. Wamena Kopi Festival ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 Tahun 2026 ini.

“Fokusnya adalah kopi Wamena, kita ingin mengajak orang untuk menkonsumsi kopi Wamena,” ungkap Naftali Rumbiak, Wakil Ketua Pelaksana FBLB ke-34 Tahun 2026 dan Wamena Kopi Festival, Rabu (15/7/2026).

Panitia berharap pameran UMKM yang dikemas dalam Wamena Kopi Festival dapat membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap produk-produk lokal, khususnya Kopi Wamena.

Naftali mengatakan, sepanjang Agustus 2026 akan digelar tiga agenda besar, yakni Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB), Wamena Kopi Festival, dan Karnaval Budaya.

“Ada tiga agenda besar pada Agustus ini. FBLB berlangsung hingga pukul 13.00 WIT, kemudian sore harinya dilanjutkan dengan Wamena Kopi Festival di depan Kantor Bupati yang juga menghadirkan panggung hiburan. Puncaknya, pada 10 Agustus akan digelar Karnaval Budaya,” ujarnya.


Naftali Rumbiak, Wakil Ketua Pelaksana FBLB ke-34 Tahun 2026 (Foto: Papuainside.id/RF)

Ia berharap rangkaian kegiatan tersebut mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan asli daerah (PAD).

Naftali menjelaskan, konsep FBLB tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Atraksi perang-perangan diganti dengan sosiodrama yang dibawakan sanggar tari untuk mengangkat berbagai tradisi masyarakat Baliem yang mulai ditinggalkan.

“Tahun ini kami tidak lagi menampilkan perang-perangan, tetapi sosiodrama yang mengangkat budaya Baliem yang mulai terkikis, seperti prosesi berkabung, dimana kerabat tidak boleh keluar honai selama batas waktu tertentu hingga tradisi potong jari. Kami ingin wisatawan melihat dan memahami kehidupan masyarakat Baliem pada masa lalu melalui pertunjukan yang sarat makna,” katanya.

Selain sosiodrama, FBLB tetap menghadirkan berbagai perlombaan dan pertunjukan tari. Lima sanggar yang terlibat akan mengatur alur pementasan sesuai waktu yang tersedia.

Untuk memperluas jangkauan promosi, panitia menggandeng Diskominfo, media massa, dan media sosial agar informasi mengenai seluruh rangkaian festival dapat menjangkau masyarakat dan wisatawan lebih luas. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *