Oleh: Vina Rumbewas |
PAPUAInside.com, WAMENA— Dalam rangka menjaga harga dan ketersediaan BBM di pasaran sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah Kabupaten Jayawijaya menggelar pertemuan bersama para pengusaha BBM Industri, yang berlangsung di Lantai 3 Gedung Otonom, Senin (06/12/2021).
“Tadi saya panggil Disnakerindag dan pengusaha BBM industri yang kami berikan ijin, supaya mereka juga membantu masukan BBM industri, karena beda industri itu tidak ada subsidi sama sekali,” ungkap Bupati Jayawijaya Jhon R. Banua usai rapat bersama pengusaha BBM Industri.
Menurut Banua, sembilan pengusaha BBM Industri yang dipanggil ini diharapkan nantinya bisa membantu memasok BBM untuk dijual dengan harga BBM industri yang telah disepakati yakni Rp 20.000 per liter.
“Pertamax juga ada subsidi angkutan, jadi kami akan minta Pak Anwar (pemilik APMS) untuk naikan dan dijual dengan harga Rp 9.500 Jadi kita akan ada harga yang berbeda-beda karena yang subsidi itu tetap dilakukan normal sesuai kupon yang ada, tapi kita membackup dengan BBM industri agar tidak ada harga BBM Rp 50 ribu,” jelas Banua.
Bupati berharap dalam kurun waktu satu atau dua hari dapat segera terealisasi, karena sembilan pengusaha ini telah memiliki ijin industri. “Pengusaha BBM industri tadi sepakat menjual BBM industri paling tinggi Rp 20 ribu,” ungkapnya.
Dengan harga BBM yang berfariasi ini bupati berharap masyarakat dapat memahami dan tidak keliru. “Jadi ada beberapa perbedaan harga, jadi jangan salah paham. Yang Rp 7.800 itu BBM subsidi, tapi kalau harga pertamax yang dinaikan dijual Rp 9.500 karena itu masih angkutan subsidi, dan kalau ada BBM yang dijual dengan harga Rp 20 ribu itu adalah BBM industri, sedangkan eceran Rp 15 ribu,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, bupati kembali mengingatkan pedagang BBM eceran untuk dapat berjualan sesuai HET BBM eceran yang ditetapkan pemerintah.
“Pengecer tanpa ijin yang mungkin mendapat BBM dari subsidi yang ditap dari kendaraan untuk dijual lagi. Nah, itu yang kami buatkan harga sebesar Rp 15 ribu, karena mereka beli bukan harga industri,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu pengusaha BBM Industri, Hayatudin mengatakan siap mendukung kebijakan pemerintah Jayawijaya untuk memasok BBM.
Ia juga menilai ketersediaan BBM di Jayawijaya tergantung dari ketersediaan penerbangan.
Namun untuk masalah harga BBM Industri yang ditetapkan pemerintah daerah menurutnya sudah sesuai.
“Sebelumnya harga BBM industri Rp 18 ribu cuman kemarin penerbangan tidak naik, menurut aviasi karena avtur naik jadi ongkos angkut juga naik,” katanya.
Pihaknya tidak keberatan dengan harga BBM industri yang ditetapkan pemda Jayawijaya sebesar Rp 20 ribu per liter. “Kami siap membantu pemda terkait ketersediaan BBM di Wamena,” pungkasnya. **














