Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024, BUMMA Namblong Perkenalkan Vanila

Suasana Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Birawako, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, KOKODA—Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 berlangsung di sejumlah kampung di wilayah Suku Kokoda, antara lain, Migori, Kasuweri, Arbasina, Nebes dan Tarof di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya 13-20 Desember 2024.

Nokeners berangkat dari Pelabuhan Ampera di Teminabuan menuju ke sejumlah kampung di wilayah Kokoda menggunakan speed boat. Perjalanan sungguh menantang, lantaran jarak tempuh yang cukup jauh selama empat jam, dan melewati sejumlah sungai, muara serta lautan lepas.  

Warga Kokoda sebagian besar membangun rumah diatas air. Bangunan rumah menggunakan tunas pohon sagu, yang ada disekitarnya. Rumah berjejer dua deretan, untuk menyeberang kesebelah menggunakan jembatan kayu.   

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 berturut-turut di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024), Birawako, Arbasina pada Selasa (17/12/2024) dan Nebes pada Rabu (18/12/2024).

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Arbasina, dihadiri warga Kampung Kasuweri, Birawako dan Arbasina, Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) Sorong, Komunitas Menoken di beberapa wilayah adat Domberai, Mamta, Mitra Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMMA), BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dan Komunitas Menoken Lintas Budaya dari luar Papua, seperti Bogor, Yogyakarta dan Jakarta.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori dan Birawako, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua memperkenalkan tanaman vanila kepada warga setempat.

Direktur BUMMA PT Yombe Namblong Nggau Yohana Tarkuo, memperkenkan vanila kering grade A didalam kemasan plastiK kepada warga, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Lima Unit Usaha

Direktur BUMMA PT Yombe Namblong Nggau Yohana Tarkuo mengatakan  warga suku Kokoda tertarik dengan tanaman vanila, hanya saja mereka belum mengetahui  tata cara penananam dan pemeliharaa tanaman yang dijuluki emas hijau itu.

“Warga suku Kokoda semangat dan senang vanila bagus sekali kayaknya perlu dikembangkan. Jadi mereka tanya bisakah kita menanam bikin polybag, karena mereka beraktifitas diatas air,” tukas Ana panggilan akrab Yohana Tarkuo, sembari menunjukan vanila kering grade A didalam kemasan plastik, yang dibawahnya dari Namblong.  

Ana menjelaskan, menanam vanila sangat gampang hanya menggali lubang tak terlalu dalam, seperti menanam singkong.

“Saya juga sampaikan vanila tanaman yang manja. Jadi perlu perawatan khusus,” tutur Ana.

Ana menambahkan, warga suku Kokoda didukung pemerintah kampung telah membentuk kelompok tani, untuk diusulkan melalui Musrembang, sehingga mendatangkan bibit vanila.

BUMMA Namblong cukup banyak vanila, sehingga bisa mendatangkan bibit vanila, untuk membantu warga suku Kokoda.

Ana memaparkan, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, resmi berdiri setelah terbit Akte Notaris tanggal 30 September 2024.

BUMMA PT Yombe Namblong Nggua telah menggelar Rapat Umum Pemegang Sahan (RUPS) di  Kampung Nimbokrang Sari, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 30 Oktober 2024.  

Pemilik dan pemegang saham BUMMA PT Yombe Namblong Nggua adalah 44 Iram atau Kepala Suku dan 52 marga, yang ada  di wilayah Namblong, untuk mengembangkan 53.000 hektar lahan.  

BUMMA PT Yombe Namblong Nggua telah membentuk lima unit usaha, yakni kehutanan, ekowisata, peternakan, perikanan dan carbon trade atau perdagangan karbon.   

Ana menjelaskan, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua kini telah mengembangkan vanila dan ekowisata Kali Biru di Kampung Berap, Distrik Nimbokran, Kabupaten Jayapura.

Dalam kesempatan itu, Ana menyerahkan noken kepada Servina, seorang warga setempat.

Servina mengungkapkan ia menerima noken ini dan akan mengajak kaum wanita merajut noken dan menjual, untuk menopang ekonomi rumah tangga.    

“Noken ini untuk mengisi pikiran dan hati, supaya kita bisa melatih kaum wanita merajut noken,” tandas Servina.

Nokeners menunjuk noken, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Birawako, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Belum Dikelola Maksimal

Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius mengatakan wilayah adat suku Kokoda memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA)  yang menjanjikan, tapi belum dikelola dengan maksimal.

Oleh karena itu, kedepan warga Kokoda didukung pemerintah kampung, gereja, masjid bersama BUMMA Namblong dapat mengelola SDA di wilayah adat Kokoda.

Roki mengatakan, pihaknya tak menjanjikan program, tapi tak menutup kemungkinan dengan adanya kegiatan kegiatan ini ada program yang akan dilanjutkan disini.

Roki pun memberikan apresiasi di wilayah adat suku Kokoda memiliki budaya dan hutan mirip dengan daerah lain di wilayah Tanah Papua, seperti pohon kayu putih dan lain lain.

Pohon kayu putih seperti di wilayah suku Kanum di Merauke, warga setempat telah mengolah minyak kayu putih dalam kemasan botol, untuk kesehatan tubuh. Bahkan harganya pun cukup tinggi Rp 350.000 perliter.

“Di Kokoda juga bisa asalkan ada kemauan tinggal disampaikan kepada pemerintah daerah kami punya potensi kira-kira bagaimana kami memulai, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk,” ujar Roki.

Direktur BUMMA PT Yombe Namblong Nggau Yohana Tarkuo, mengalungkan noken kepada Servina, seorang wanita ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Arbasina, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Nilai-Nilai Noken

Roki mengatakan menoken diinisiasi Samdhana adalah suatu gerakan dari nilai-nilai atau filosofi noken, yakni kelenturan, kuat, berbagi cerita dan pengalaman, kasih kerahiman dan lain-lain.

“Jadi menoken bukan buat-buat noken, tapi kami ingin berbagi dari apa yang kami punya kepada saudara-saudari kami di suku Kokoda,” terang Roki.

Roki mengatakan, UNESCO tahun 2012 memberikan pengakuan terhadap noken ini sebagai situs warisan tak benda.

“Kita bersyukur ini nilai kebanggan dari kita orang Papua,” ungkap Roki.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 adalah bagian dari program 3 M Samdhana Institute, yang berkolaborasi dengan KOMPIPA. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Samdhana adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait dengan lingkungan hidup.

Sementara itu, KOMPIPA sendiri adalah sebuah organisasi/komunitas yang  sejak lebih dari 5 tahun terakhir ini melakukan pendampingan berupa kegiatan sosial dan lingkungan hidup kepada warga asal suku Kokoda, yang berdomisili di sekitar Kabupaten Sorong, antara lain di Kampung Kurwato, Maibo, Usili dan Warmon.

Suasana makan bersama di sela-sela Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Arbasina, Selasa (17/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Anak Angkat Suku Kokoda

Ketua KOMPIPA Sorong Triantoro mengatakan, pihaknya ingin pulang kampung ke Kokoda 2024, untuk bertemu, silaturahmi, melihat dari dekat dan berinteraksi dengan keluarga di suku Kokoda.

Menurut Triantoro, KOMPIPA sejak berdiri 18 Maret 2017 belum pernah mengunjungi Kokoda. Oleh karena itu, KOMPIPA menyambut baik gagasan Samdhana melakukan kegiatan Menoken Domberai, khususnya kegiatan Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024.

Triantoro menuturkan, dua anggota KOMPIPA, masing-masing Triantoro dan Ustad Agus Setiabudi resmi diangkat menjadi anak adat suku Kokoda melalui upacara adat sekaligus penyerahan piring gantung.

Momen pengangkatan anak adat suku Kokoda berlangsung pada saat peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato. Bahkan Pendiri dan Mantan Ketua KOMPIPA pertama adalah Hamzah Edoba, warga suku Kokoda.

Suasana Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Mendukung Penuh

Kepala Kampung Persiapan Doyo Maro Lukas Keramu menyampaikan pihaknya mendukung penuh dan menerima kegiatan-kegiatan Komunitas Menoken, untuk membantu warga mengelola potensi Sumber Daya Alam (SDA) di wilayah adat suku Kokoda.

Terkait dua anggota KOMPIPA, yang telah diangkat menjadi anak adat suku Kokoda, Lukas menyambut baik, karena anak adat itu bagian dari suku Kokoda.

“Kalau menjadi anak adat kami di Kokoda ini berarti barangkali apa yang ada dibenak dan di hati itu perlu disampaikan semua itu baru kami bisa bilang kami punya anak adat. Jadi kalau masih simpan-simpan berarti kami angkat dia jadi anak adat, tapi tak ada bukti kerja tak ada transparan begitu, karena kami ingin keterbukaan saja,” tandas Lukas.

Triantoro mengungkan, pengangkatan dua anggota KOMPIPA sebagai anak adat suku Kokoda membuat dirinya memiliki komitmen dan tanggungjawab moril, untuk terus mendampingi warga suku Kokoda.   

“Saya cinta dan telah menjadi bagian dari suku Kokoda,” tukas Triantoro.

Sejumlah wanita penganyam noken dan tikar, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Langkah Awal

Nokeners Bogor Yuniken Mayangsari mengatakan Menoken Pulang Kampung Kokoda 2024 adalah langkah awal untuk mulai memikirkan mengembangkan wilayah adat suku Kokoda.

“Saya sangat senang sekali bisa menemani KOMPIPA hadir di tengah-tengah warga suku Kokoda,” ucap Niken sapaan akrab Yuniken Mayangsari.

Niken bilang, pihaknya ketika kembali ke Namblong akan menyampaikan kepada Iram, bahwa telah mengikuti Menoken Pulang Kampung ke Kokoda sekaligus memperkenalkan tanaman vanila.  

Nokeners Yogyakarta Ambrosius Ruwindrijarto mengaku senang dan terkesan, untuk pertama kalinya  menoken pulang kampung ke Kokoda.

Ruwi panggilan Ambrosius Ruwindrijarto menjelaskan, Samdhana cukup banyak bekerja di Tanah Papua, misalnya di wilayah budaya Animha di Kabupaten Merauke dan sekitarnya dengan suku Kanum, suku Malind dan suku Yei.

Kemudian di wilayah budaya Mamta di Jayapura bekerja dengan suku Namblong, Buyaka, Klesi, Kemtuk, Manirem di Sarmi.

“Jadi beruntung sekali hari ini kami bisa berkenalan dengan suku Kokoda. Moga-moga dukungan silaturahmi kita berlanjut dan bersama membangun kebaikan, untuk masyarakat kita dan untuk lingkungan hidup kita,” tandasnya.  

Tim Komunitas Menoken, Ambrosius Ruwindrijarto, Yuniken Mayangsari dan Piter Roki Aloisius, ketika Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Arbasina, Selasa (17/12/2024). (Foto: Komuniats Menoken)

Sejalan Visi GKI d Tanah Papua

Vikaris GKI Solafide Kampung Kasuweri, Michael Saflesa mengatakan pihak pemerintah kampung, gereja dan masjid menyambut kedatangan dan niat baik Komunitas Menoken, untuk bersama membangun kampung dan umat Tuhan di Kokoda.

Michael menyampaikan nilai-nilai menoken sejalan dengan visi Gereja Kristen Injili (GKI) d Tanah Papua, yakni program lingkungan hidup dan kearifan lokal.

“Kami ada program lingkungan hidup, yakni tak boleh buang sampah sembarang, dilarang bakar hutan, menjaga alam ciptaan Tuhan, untuk kelangsungan hidup manusia,” ucap Michael.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 diakhiri dengan menyanyi lagu Kokoda diiringi gitar dan ukulele serta makan bersama menu khas suku Kokoda. **  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *