Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, SENTANI—Kegiatan menoken sejak tahun 2021 digelar di Kampung Abar Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Kali ini, melibatkan kelompok kaum perempuan menggusung Tema Menoken Mama Mama Kampung Abar: Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata, Jumat (28/3/2025) lalu.
Menoken mama-maka tersebut didukung Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar, Komunitas Menoken Mamta, The Samdhana Institute, Sama Sama Learning Community Jayapura, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura dan Komunitas lainnya.
Dibuka Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Fred Modouw, SSos, didampingi Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius, Ketua Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar Naftali Felle, dan Founder Sama Sama Learning Community Edo Pattiradjawane.
Kegiatan Menoken ini diampu Founder Sama Sama Learning Community Jayapura Edo Pattiradjawane, berupa permainan atau game “Tepuk Duit” Rp 1 Miliar, Rp 2 Miliar, Rp 3 Miliar, Rp 4 Miliar, Rp 5 Miliar Cair.
Game ini membuat mama mama makin semangat dan termotivasi.
Edo membagi 3 kelompok masing-masing 4-5 mama mama, untuk menjawab pertanyaan potensi-potensi yang ada di Kampung Abar, harapan dan Rencana Tindaklanjut atau RTL.
Masing-masing kelompok menginventarisir sejumlah potensi-potensi yang ada di Kampung Abar, seperti tanah liat untuk bahan gerabah, kerambah, rumput laut, hutan sagu, kebun sayur, kuliner lokal, pondok wisata, sanggar budaya, suling tambur, tarian adat, Festival Helay Mbay Hote Mbay atau pesta makan papeda dalam gerabah atau sempe dan lain-lain.

Founder Sama Sama Learning Community Jayapura Edo Pattiradjawane, menunjuk hasil presentasi kelompok, ketika Menoken Mama Mama Kampung Abar Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Pelatihan Digital Marketing
Dalam presentasi, Jubir Kelompok 1, Sarlota Dayopo dan Orpa Felle mengharapkan kedepan kampung Abar menjadi kampung wisata yang dikenal dengan potensi gerabah.
Selain itu, tutur Sarlota, Festival Helay Mbay Hote Mbay setiap bulan September bisa lebih dikenal bukan hanya di Kabupaten Jayapura atau Provinsi Papua, tapi juga di seluruh Indonesia.
Orpa Felle menuturkan, pihaknya aktif membuat aneka gerabah, tapi sering kali muncul kendala, terutama keterbatasan pemasaran.
“Kami buat gerabah, tapi tak ada yang beli. Kami kecewa dan tak kerja lagi. Mungkin dari Pemkab Jayapura atau lembaga lain datang beri semangat kita kerja lagi,” kata Orpa.
Oleh karena itu, ucap Orpa, pihaknya berharap kedepan terus membuat gerabah.
Jubir Kelompok 2 Sartika Ibo mengharapkan adanya pelatihan digital marketing bagi warga, untuk mempromosikan potensi-potensi, yang ada di Kampung Abar ke seluruh masyarakat.
Jubir Kelompok 3 Beatriks Felle mengatakan, pihaknya sekaligus memperkenalkan paket wisata dan kuliner ala Abar.
“Para tamu yang datang belanja gerabah sekaligus menikmati kuliner ala Abar,” terang Beatriks.
Edo mengatakan, game yang disertai diskusi ini, untuk melihat potensi-potensi yang ada di kampung Abar, dimana idenya muncul dari mama mama, supaya mereka bersuara dalam mempersiapkan kampung Abar menjadi kampung wisata.
“Tahapan-tahapan diskusi adalah RTL jangkah pendek, seperti pengelolaan sosial media, untuk mempromosikan rencana menjadikan kampung Abar menjadi kampung wisata,” tukas Edo.

Founder Sama Sama Learning Community Jayapura Edo Pattiradjawane, ketika Menoken Mama Mama Kampung Abar Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Program Kampung Wisata di Danau Sentani
Fred Modouw, mengatakan Menoken Mama Mama Kampung Abar: Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata hingga game dan diskusi ini seiring dan sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura.
Fred mengutarakan, pihaknya mempunyai tugas menggali potensi-potensi dari budaya, melakukan pembinaan terhadap kesenian-kesenian tradisional, merencanakan program-program promosi pariwisata, mengangkat kebudayan, membentuk kampung-kampung wisata di sekitar Danau Sentani, termasuk juga situs dan cagar budaya.
“Ternyata program-program pemerintah juga sudah ada didalam pikiran masyarakat melalui mama mama di Kampung Abar, untuk menuju perubahan yang lebih baik,” ujar Fred.
Fred menerangkan, produk gerabah ini mesti terpadu dan keberlanjutan, sehingga masyarakat juga mendapat manfaat ekonomi.
Oleh karena itu, jelas Fred, Pemkab Jayapura, Komunitas Menoken Mamta, The Samdhana Institute dan komunitas lainnya berkolaborasi beberapa program, untuk mencoba menjawab kerinduan masyarakat, agar produk gerabah ini bisa lebih dikenal dan laku terjual.
Fred mengatakan, pihaknya telah melakukan uji sampling tanah liat di kampung Abar dibandingkan dengan beberapa daerah produksi tanah liat, ternyata kwalitasnya jauh diatas.
“Ini berarti kita jangan puas hanya dengan hasil-hasil olahan gerabah, yang dipanjang di rumah-rumah masyarakat, tapi diharapkan harus lebih dari pada itu,” imbuh Fred.
Fred sepakat bahwa kegiatan menoken mama mama ini, untuk mempromosikan kampung Abar menjadi kampung wisata, sesuai program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura out-putnya adalah promosi.

Menoken Mama Mama Kampung Abar Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Tour Wisata Danau Sentani
Untuk mempromosikan kampung-kampung wisata di sekitar Danau Sentani, terang Fred, pihaknya merencanakan program Tour Wisata Danau Sentani.
Fred menyampaikan Pemkab Jayapura memiliki fasisilitas 3 unit armada kapal, yang berlabuh di Dermaga Khalkote. Salah-satunya Kapal Foi Moi.
“Program Tour Wisata Danau Sentani, yang kami rencanakan mudah-mudahan tahun ini dengan kepemimpinan bupati Jayapura yang baru saya berharap mungkin bisa diakomodir,” tandasnya.
Fred merindukan menjadikan kampung wisata Khalkote dan Abar, karena syaratnya kampung tersebut sudah mempunyai dermaga, untuk kapal sandar.
Fred menuturkan, pihaknya merencanakan mengundang para kepala kampung atau Ondoafi, yang kampungnya bisa disinggahi kapal, untuk berbicara bersama, dan menentukan kapal ini beroperasi masuk ke kampung-kampung.
Selanjutnya akan dipresentasikan kepada Bupati Jayapura terkait rencana program Tour Wisata Danau Sentani.
“Kita akan bawa tamu atau wisatawan secara rutin dalam satu minggu mungkin akan ditetapkan dua kali seminggu Selasa dan Jumat,” ucapnya lagi.
Dikatakan pihaknya akan mengajak tamu-tamu datang ke salah satu kampung yang disinggahi kapal.
“Kami akan minta mereka turun selama 30 menit, untuk melihat dan berbelanja gerabah dan potensi-potensi lainnya di kampung Abar,” tukasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Fred Modouw, SSos, dan Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius, ketika Menoken Mama Mama Kampung Abar Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Wajib Gunakan Gerabah Kampung Abar
Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius mengatakan untuk mendorong kampung Abar menjadi kampung wisata, maka beberapa hal penting, Pertama,perlu ada diversifikasi usaha tak hanya gerabah, tapi juga keramik, porselin, interior rumah dan lain-lain.
“Aneka gerabah atau kerami dibuat dengan lukisan atau gambar, sehingga membuat orang tertarik membeli,” ungkap Roki.
Kedua, pihaknya mengusulkan agar Pemda Jayapura membuat kebijakan atau aturan bahwa setiap hotel, restoran, café, kedai dan lain-lain diwajibkan mengunakan produk gerabah dari Kampung Abar.
Ketiga, untuk melindungi hasil kerajinan gerabah asli kampung Abar, maka perlu mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), agar tak ditiru pihak lain.
Keempat, perlu ada fasilitas penunjang di kampung wisata, seperti air bersih, MCK, listrik, pengelolaan sampah, transportasi dan lain-lain.

Menoken Mama Mama Kampung Abar Peluang, Tantangan dan Harapan Menuju Kampung Wisata di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Produsen Gerabah Tradisional
Di Kabupaten Jayapura terdapat 139 Kampung dan 5 Kelurahan. Kampung Abar membentang di pinggiran Danau Sentani, merupakan salah-satu destinasi wisata di Papua, yang dikenal sebagai produsen gerabah tradisionil atau warga setempat menyebutnya dengan nama sempe.
Gerabah adalah kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, yang dibentuk dan dibakar. Gerabah memiliki berbagai fungsi, seperti wadah penyimpanan, alat memasak, dan alat makan.
Untuk memperkenalkan kerajinan gerabah tradisional, maka Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar dan Komunitas Menoken Mamta berkolaborasi membuka kelas gerabah 23-27 September 2023, dilanjutkan pada 8 Pebruari 2025. Kelas gerabah ini diikuti sejumlah komunitas, bahkan anak-anak.
Bahkan sejumlah anggota Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar difasilitasi Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Jayapura, mengikuti pelatihan membuat keramik 1-14 Desember 2023, dengan instruktur dari Surabaya (Jawa Timur).
Sebelumnya, Kelompok Gerabag Titian Hidup Kampung Abar mengirim 10 orang pengrajin gerabah, didampingi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura mengikuti pelatihan membuat gerabah dari tanah liat di Desa Pulutan, Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.
Selanjutnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Jayapura, mengirim 7 anggota KGTH, untuk belajar membuat souvenir di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2015.
Selanjutnya, sejumlah anggota Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar ikut pelatihan membuat keramik, yang difasilitasi BBPPKS Jayapura, 1-14 Desember 2023 lalu.
Usai pelatihan, Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar mendapat bantuan BBPPKS Jayapura berupa 1 unit oven atau pemanggangan.
Jika sebelumnya, Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar masih menggunakan cara manual, tapi kini sudah menggunakan mesin, seperti mesin meja putar modern dan oven.

Festival Helay Mbay Hote Mbay ke IV di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 28-30 September 2023. (Foto: Dok/ Papuainside.id)
Festival Helay Mbay Hote Mbay
Untuk mempertahankan tradisi gerabah tradisional, yang telah diwariskan para leluhur sejak delapan generasi lalu, maka Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar sejak tahun 2017, menggelar Festival Helay Mbay Hote Mbay.
Pada pelaksanaan festival ke III tahun 2019 telah dicanangkan oleh Pemkab Jayapura sebagai salah satu festival tahunan di Kabupaten Jayapura.
Festival ini sempat tertunda selama beberapa tahun, akibat pandemi Covid-19. Selain itu, pelaksanaannya juga sempat tertunda akibat ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 yang berlangsung pada tahun 2021 di Provinsi Papua.
Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar kini mempersiapkan Festival Helay Mbay Hote Mbay ke V, yang direncanakan pada 28-30 September 2025 mendatang.
Masyarakat Kampung Abar sebagian besar memiliki mata pencaharian bercocok tanam dan nelayan. Mama-mama menyalurkan ikan mujair di Dermaga Yahim, untuk dijual di sejumlah pasar disekitarnya.
Perjalanan menuju Kampung Abar ditempuh selama 45 menit menggunakan speed boat dari Dermaga Yahim, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Seorang anak menunjukan sempe, ketika Festival Helay Mbay Hote Mbay ke IV di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 28-30 September 2023. (Foto: Dok/Papuainside.id)
Filosofi Menoken
Sekedar diketahui, menoken adalah bagian dari program 3 M The Samdhana Institute. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.
Menoken diinisiasi The Samdhana Institute adalah suatu gerakan bersama, yang terinspirasi dari nilai-nilai atau filosofi tas noken di Tanah Papua, yakni merajut tindakan dan membangun wadah, untuk menyambungkan komunitas, produk, pengetahuan, dan solidaritas.
Dengan demikian, menoken terdapat nilai-nilai yaitu kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, kedayagunaan, keterbukaan, memelihara kehidupan.
The Samdhana Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait lingkungan hidup. **














