Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, SENTANI—Masyarakat adat bersama komunitas lokal menghijaukan alam, dengan menanam ratusan pohon bertepatan dengan Hari Penanaman Nasional, 28 November, guna memulihkan kawasan yang kian gersang di Kawasan Bukit Hena, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kegiatan ini didukung Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua, Pusat Pembelajaran Komunitas Hena Uwakhe Imea (Hena Uwakhe Imea CLC), serta The Samdhana Institute.
Sejumlah jenis pohon ditanam dalam aksi tersebut, mulai dari sundacarpus amarus, bentangur, merbau, hingga matoa dan alpukat.
Penanaman ini dilakukan untuk memulihkan Bukit Hena, yang mengalami degradasi akibat perubahan iklim, penebangan, dan kekeringan dalam beberapa tahun terakhir.

Masyarakat adat bersama komunitas lokal menanam ratusan pohon pada Hari Penanaman Nasional di Bukit Hena, Sentani, Jayapura. (Foto: The Samdhana Institute)
Bukit Hena merupakan area penting dengan daerah aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Menipisnya tutupan vegetasi mendorong warga melakukan restorasi demi memulihkan keanekaragaman hayati dan memperbaiki kondisi ekologis di wilayah itu.
Gerakan ini juga melibatkan perempuan adat dan generasi muda. Masyarakat berharap kampung-kampung sekitar Danau Sentani, seperti Asei dan Yahim, dapat menggelar kegiatan serupa untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan.
Perempuan adat mengambil peran melalui Hena Uwakhe Imea CLC yang dipimpin Agustha Kopeuw. Mereka menerapkan pengelolaan lahan berkelanjutan, termasuk memproduksi pupuk organik cair berbahan kotoran hewan dan tumbuhan di pusat pelatihan komunitas tersebut.
“Penanaman dan pelatihan produksi pupuk cair organik merupakan bagian penting dari upaya mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan di wilayah Bukit Hena,” kata Agustha.

Meski medan terjal, masyarakat adat dan komunitas lokal tetap bersemangat menanam ratusan pohon di Bukit Hena, Sentani, Jayapura. (Foto: The Samdhana Institute)
The Samdhana Institute turut memberikan dukungan agar masyarakat adat memiliki akses dan kontrol atas ruang hidupnya.
Kepala Lifespace Samdhana, Ita Natalia, menegaskan pengakuan hak masyarakat adat menjadi kunci kelestarian lingkungan.
“Keberlanjutan dimulai dari masyarakat adat yang mampu mempraktikkan kearifan lokal mereka, di mana hak-hak mereka diakui dan kendali atas wilayah adat menjadi milik mereka,” ujar Ita dalam siaran pers, 28 November 2025.
Ita menambahkan, dukungan Samdhana bertujuan memastikan upaya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. **














