Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id. SENTANI—Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) menyampaikan keluhannya terkait masih ada diskriminasi terhadap mereka, terutama saat melamar kerja.
Hal ini disampaikan Guru Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dari KTJ, Leny Yulia Sinurat dibantu penerjemah Relawan Juru Bahasa Isyarat, Grace Victoria Ratu di sela-sela Festival dalam rangka peringatan HUT KTJ ke-5 Tahun dan menyambut Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII), yang jatuh pada 23 September 2023.
Kegiatan ini adalah kolaborasi antara Komunitas Noken Mamta, KTJ dan Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC) di Kampung Hena, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (16/9/2023).
Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura, Eqberth C Kopeuw dan Staf.
Grace mengatakan, KTJ mengharapkan makin berkurangnya diskriminasi terhadap teman-teman tuli di bidang apapun, terutama di pekerjaan.
Pasalnya, diskriminasi terhadap teman tuli terlihat jelas di saat mereka ingin mencari pekerjaan, yakni ada persyaratan yang kurang inklusi yang tentu membebankan mereka.
Oleh karena itu, kata Grace, KTJ menghimbau Pemerintah Daerah (Pemda), untuk menjembatani mereka dan pengusaha, agar diterima kerja.
“Teman-teman tuli ingin dipermudah, saat melamar pekerjaan, yang tak beda dengan teman-teman dengar,” katanya.

Ketua KTJ Stephany Chrisma Lydia Woen (kiri), memperkenalkan BISINDO kepada teman dengar di sela-sela Festival dalam rangka perayaan HUT KTJ ke-5 Tahun dan menyambut Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) di Hena Uwakhe Imea Community Learning Centre (CLC) di Kampung Hena, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (16/9/2023). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Anggota Komunitas Noken Mamta, Naomi Waisimon berharap Pemda bisa lebih mengaplikasikan akses-akses khusus untuk kaum disabilitas, agar mereka memiliki akses yang sama dengan teman dengar. Apalagi mereka juga sebenarnya memiliki komunikasi yang bagus tak beda dengan teman dengar.
Dari pengalaman KTJ, tutur Naomi, ada perusahaan Mini Market yang sedang berkembang di Jayapura minta mereka untuk bekerja. Namun belum ada tindakan lanjut.
“Nah terkadang teman tuli juga bingung bagaimana cara nanti berkomunikasi, karena di Papua sendiri belum punya akses, untuk teman tuli bisa kerja setara dengan yang lain,” tandasnya.
Ada juga teman KTJ saat melamar pekerjaan ia tak bisa komunikasi dengan teman dengar, akhirnya tak bisa diterima kerja.
Meski demikian, terang Naomi, ada beberapa teman tuli yang mempunyai referensi, bisa memahami dan bisa membaca akhirnya bisa bekerja.
Eqberth C Kopeuw menyampaikan permohonan maaf, lantaran selama ini hanya memperhatikan teman-teman normal. Padahal mereka juga mempunyai hak untuk belajar dan membutuhkan perhatian yang sama.
“Saya harap kepada KTJ bisa membuat surat kepada kami, sehingga kami bisa beri support dan bantuan, agar kegiatan mereka bisa berjalan,” ujar Eqberth.
Ketua KTJ Stephany Chrisma Lydia Woen menuturkan, festival ini merupakan bagian dari gerakan menoken, dengan filosofi noken dan melalui kegiatan ini ingin membagikan isi noken mengenai budaya tuli dan budaya dengar, BISINDO dan menikmati kopi barista tuli dan penganan lokal. **














