Komunitas Tuli Jayapura Hadir di FDS 2024

Para Barista Kopi Tuli, ketika meracik kopi di Stand Samdhana di FDS ke XIV Tahun 2024. (Foto: Samdhana)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—Festival Danau Sentani (FDS) XIV Tahun 2024 yang berlangsung sejak tanggal 19 Juni telah resmi ditutup oleh Penjabat Gubernur Papua Muhammad Ridwan Rumasukun, yang diwakili Plt Asisten Bidang Pemerintahan Sekda Papua, Yohanes Walilo di Pantai Khalkote, Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Minggu (23/6/2024).

FDS XIV Tahun 2024 menyisakan kenangan manis bagi anggota Komunitas Tuli Jayapura (KTJ), yang hadir di sana melalui Stand Samdhana.

Ketua KTJ Stephany Chrisma Lidya Woen mengatakan ia dan teman-temannya merasa senang bisa ikut berpartisipasi dalam pameran produk-produk lokal di FDS XIV Tahun 2024.

“Cukup banyak pengunjung, yang mampir kesini, untuk menyeduh kopi. Apalagi mereka sampaikan kopinya enak. Lumayan ada penghasilan tambahan, untuk modal usaha walaupun sedikit,” ujar Stephany, sembari menuturkan keuntungan disimpan, untuk ikut pameran di tempat lain.

Stephany menuturkan, pihaknya menjual aneka rasa kopi dengan harga V60 Rp 20.009, Vietnam Drip Rp 20.000 dan kopi gula aren Rp 30.000.

Selama FDS, terang Stephany, Kopi Tuli dibantu 8 orang terdiri dari 3 wanita dan 5 pria, termasuk 5 barista, untuk meracik kopi dan melayani pengunjung.

Untuk modal usaha Kopi Tuli, terang Stephany, teman-teman KTJ urunan untuk membeli bahan-bahan, seperti kopi, gula dan susu kental.

Stephany mengharapkan FDS terus dilaksanakan setiap tahun, agar UMKM bisa ikut pameran dan mendapat penghasilan tambahan.

Stephany menyampaikan kepada stakeholder, agar secara rutin menggelar pameran UMKM, agar pengunjung bisa mengenal dan membeli produk.

Teman-teman KTJ mengajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada pengunjung di Stand Samdhana di FDS ke XIV Tahun 2024. (Foto: Samdhana)

Di tengah keramaian pengunjung menyeduh kopi, nampak teman-teman KTJ yang lain sibuk menyiapkan cinderamata, antara lain, noken, gelang dan kalung dari bahan manik-manik.Untuk berkomunikasi dengan para pengunjung, ucap Stephany, Kopi Tuli dibantu penerjemah dari Juru Bahasa Isyarat (JBI), yakni Nur Alfi Tri Irianto dan Miftahul Jannah.

Petronela Giay mengaku membawa 19 noken, dengan harga bervariasi tergantung ukuran. Kalau noken besar Rp 300.000, dan noken kecil Rp 100.000.

“Respon pengunjung cukup bagus. Kami bisa mendapat penghasilan tambahan, meskipun tak seberapa. Tapi saya senang produk kami dihargai,” terang Nela panggilan Petronela Giay.

Sementara itu, Novia Oktora Deda tengah menunjukan cara menganyam kalung dan gelang.

Teman teman KTJ menjual dengan harga gelang Rp 10.000, kalung Rp 15.000 dan noken Rp 150.000.

Di sela-sela FDS 2024, teman-teman KTJ juga menggelar kegiatan menoken, yang membahas seni dan budaya serta memperkenalkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada para pengunjung.

Diketahui, Stand Samdhana diisi Komunitas Menoken Mamta, termasuk Komunitas Tuli Jayapura, produk gerabah dari Kampung Abar, kerajinan kulit kayu dari Kampung Asei, kerajinan noken, topi, tepung sagu, teh gaharu, minyak kelapa, bibit gaharu dari kelompok Mama-Mama di Lembah Grime yaitu dari Kampung Imeno, Benyom, Ombrop di Distrik Nimboran. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *