PAPUAInside.com, JAYAPURA— Boven Digoel, salah satu wilayah di Indonesia yang sudah terkenal sejak jaman perjuangan kemerdekaan karena menjadi tempat pengasingan bagi tahanan politik yang dianggap sangat berbahaya bagi penjajah saat itu.
Di Boven Digoel, Belanda membangun penjara untuk menampung para tahanan politik dan saat ini sudah menjadi cagar budaya.
Dalam kunjungannya ke Boven Digoel, Kabaintelkam Komjen Paulus Waterpauw bersama rombongan mengunjungi tempat bersejarah tersebut Cagar Budaya Penjara Boven Digoel Kamis (21/04/2021).
‘’Jika tidak ada Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kita saat ini tidak akan menikmati kemerdekaan, untuk itu kita harus menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan,’’ ujar Komjen Pol Paulus Waterpauw.

Dalam kunjungan tersebut Komjen Waterpauw bersama rombongan Direktur Politik Baintelkam Polri Brigjen Pol Drs Antony MT Siahaan MH, Direktur Kamsus Baintelkam Polri Brigjen Pol Drs Rudi Pranoto, Direktur Intelkam Polda Papua Kombespol Guntur Supono, Plt Bupati Boven Digoel Yosep Awunim, S.Sos, Kapolres Boven Digoel AKBP Syamsurujal S.IK, dan Dandim 1711//BVD Letkol inf czi Daniel Panjaitan, serta Dansatgas Yonif 122/TS Letkol Inf Raden Hendra Sukmadjibrata.
Di Penjara Boven Digoel, Proklamator Bung Hatta pernah dipenjara sejak 16 November 1934 kemudian November 1935 dipindahkan ke Penjara Banda Naira.
Salah satu ruangan yang dikunjungi adalah Cel 01 tempat Bung Hatta tinggal selama masa pengasingan.
Dalam sel Bung Hatta terdapat perabotan yang digunakannya saat itu, ada bangku panjang, lemari tempat menyimpan pelaratan makan, seperti piring, cangkir dan lainnya.
Komjen Paulus memasuki ruangan tersebut dan melihat peralatan yang ada di dalam. ”Ini rantang ya,ini piring,” ujar Komjen Paulus menunjuk rantang dan piring dalam lemari kepada petugas yang mengantarnya.
Untuk diketahui, Kamp pengasingan Digoel dibangun untuk mengasingkan mereka yang dianggap terlibat ataupun bersimpati pada pemberontakan tahun 1926-1927 tanpa melalui putusan pengadilan. Kewenangan penangkapan dan pengasingan dilakukan berdasarkan exorbitante rechten (hak-hak istimewa Gubernur Jenderal) yang diturunkan pada para residen yang wilayahnya dilanda pemberontakan pada tahun-tahun tersebut dan sesudahnya. (Cerita dari Digul, Penyunting Pramoedya Ananta Tur).
Kamp Boven Digoel sangat ditakuti saat itu, karena letaknya yang sangat jauh dengan ancaman serangan penyakit malaria. ‘’Penyakit yang paling berbahaya adalah malaria hitam, bila air kencing sudah mulai berwarna hitam, pertanda ajal sedang menjemput,’’ seperti yang ditulis dalam buku Cerita dari Digul, penyunting Pramoedya Ananta Toer.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kabaintelkam Polri Komjen Pol Paulus Waterpauw mengunjungi Boven Digoel jelang pemilihan suara ulang (PSU) untuk memastikan kamtibmas di daerah itu tetap kondusif.
Dalam pertemuannya di Mapolres Boven Digoel, Kabaintelkam menyebutkan personel TNI Polri selalu bersiap dan siaga jelang PSU.
“Boven Digoel itu masuk daerah rawan 2, tentu saja penempatan personel TNI Polri dan jajaran Kodim teritorial, serta batalyon harus bersatu padu,” katanya.
Komjen Paulus menyebutkan situasi global saat ini sulit untuk ditebak, misalnya saja kejadian di satu daerah ada kaitannya dengan kejadian di daerah lain, ini yang harus diwaspadai. “Kejadian pada satu titik di daerah, bisa tiba-tiba memiliki indikasi atau bisa membuat permasalahan identik dengan daerah lainnya dan ada relevansinya. Misalnya persoalan di Ilaga, Puncak saat ini dengan adanya kekerasan terhadap warga sipil, bisa saja ada kaitannya dengan daerah lainnya di Wamena, Biak atau daerah lainnya dan ini harus diwaspadai,” ujarnya.
Kepada tiga pasang kandidat yang akan bersaing di PSU, Komjen Paulus siap menandatangani deklarasi damai yang salah satunya berisi siap terpilih dan siap tidak terpilih. “Jadi bukan siap menang atau kalah. Tapi siap terpilih dan tidak terpilih. Kalimat ini ada faktor energi psikologinya,” jelasnya. **














