Kisah Dibalik Dua Anggota KOMPIPA Sorong Diangkat jadi Anak Adat Suku Kokoda

Dua Anggota KOMPIPA Sorong diangkat menjadi anak adat Suku Kokoda, melalui penyerahan piring gantung, ketika momen peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. (Foto: Dok/KOMPIPA Sorong)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, KOKODA—Dua Anggota Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) Sorong diangkat menjadi anak adat Suku Kokoda, masing-masing Ust Agus Setiyabudi dan Triantoro, berlangsung pada saat momen peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.  

Ust Agus Setiyabudi saat itu adalah Pembina KOMPIPA dan Triantoro Sekertaris KOMPIPA.

Hal ini disampaikan Ketua KOMPIPA Triantoro di sela-sela Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024).

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 berlangsung di sejumlah kampung di wilayah Suku Kokoda, antara lain, Migori, Kasuweri, Arbasina, Nebes dan Tarof di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya 13-20 Desember 2024.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 berturut-turut di Kampung Migori, Minggu (15/12/2024), Kasuweri Senin (16/12/2024), Birawako, Arbasina pada Selasa (17/12/2024) dan Nebes pada Rabu (18/12/2024).

Dampingi Suku Kokoda

Triantoro menjelaskan, KOMPIPA berdiri pada 18 Maret 2017 di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya adalah sebuah organisasi/komunitas yang melakukan pendampingan berupa kegiatan sosial dan lingkungan hidup kepada warga asal suku Kokoda, yang berdomisili di sekitar Kabupaten Sorong, antara lain, di Kampung Kurwato, Maibo, Usili dan Warmon.

Menurut Triantoro, selama mendampingi suku Kokoda tersebut, pihaknya belum pernah sekali pun ke lokasi wilayah adat suku Kokoda yang asalnya berada di area Sorong Selatan.

Saat kegiatan Menoken Pertukaran di Jayapura, perwakilan Kompipa diundang untuk turut hadir mengikuti kegiatan Menoken tersebut. Hadir pula penoken dari suku Maya di Raja Ampat Domberai dan juga penoken dari suku Malind dan suku Kanum di Merauke Animha.

Cerita isi noken Meita Sapta Diana/Perwakilan KOMPIPA mengenai Kompipa dan suku Kokoda di Sorong sangat menarik bagi semua penoken, sehingga timbul gagasan saat akhir kegiatan berkumpul di CLC Hena Sentani untuk menoken ke Kokoda Sorong Selatan.

Gagasan tersebut dikemas oleh tim menoken Samdhana dan mengajak diskusi Kompipa yang juga ingin sekali mengunjungi kampung asli Kokoda, karena sejak berdiri KOMPIPA belum pernah mengunjungi kampung asli Kokoda. “Kami ingin bertatap muka, silaturahmi bersama saudara-saudari kami di Kokoda,” ungkap Triantoro.

Gayung bersambut, dan “misi mulia” ini kemudian terlaksana dimana Samdhana mendukung dan sekaligus menemani KOMPIPA Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024.

Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 adalah bagian dari program 3 M Samdhana Institute. 3 M kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Samdhana adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sejak 10 tahun terakhir ini bekerja di wilayah Papua. Samdhana bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait dengan lingkungan hidup.

Prosesi Pengangkatan Anak Adat Suku Kokoda

Triantoro menjelaskan, pengangkatan dua anak adat suku Kokoda itu saat momen peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato, melalui prosesi adat penyerahan piring gantung sebagai tanda pengangkatan sebagai  anak adat suku Kokoda.

Triantoro mengkisahkan, KOMPIPA pada momen peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 di Kampung Kurwato, menggelar rangkaian kegiatan dengan model upacara adat sesuai visi lingkungan hidup.

Menurut Triantoro, KOMPIPA membuat membuat perahu dari bahan botol-botol bekas, kolam-kolam galian ini mendapat sambutan meriah warga suku Kokoda dengan tarian tifa gong, untuk mengantar dan mengibarkan bendera merah putih pada upacara peringatan HUT RI ke 17 Agustus 2018.

Peringatan HUT RI ke 17 Agustus 2018, diisi dengan pelbagai perlombaan, pentas seni budaya dan menonton dokumentasi perlombaan.

Dikatakan, KOMPIPA agak kaget, karena tanpa pemberitahuan tiba-tiba warga Kampung Kurwato membawa piring gantung dan tiba di depan panggung mereka mengumumkan bahwa ada dua anak KOMPIPA akan diangkat menjadi anak adat Suku Kokoda.

Tanggungjawab Lebih Besar

Triantoro menyambut positif pengangkatan dua anggota KOMPIPA menjadi anak adat Suku Kokoda. 

“Mungkin itu apresasi dari warga suku Kokoda sendiri. Saya merasa bangga dan terhormat, karena saya orang Jawa, yang hanya mungkin berpindah atau bermukin di Sorong diberi kehormatan menjadi anak adat. Saya bukan hanya  cinta suku Kokoda, tapi saya sangat cinta Papua,” ungkap Triantoro.

Dengan dua anggota KOMPIPA diangkat sebagai anak adat suku Kokoda, tutur Triantoro dirinya mempunyai konsekuensi dan tanggungjawab yang lebih besar.

“KOMPIPA bukan cuma mendampingi warga Kokoda, tapi warga Papua secara umum, karena kami sudah menjadi bagian dari suku Kokoda,” tutur Triantoro.  

Sementara itu, Koordinator The Samdhana Instutute Papua, Piter Roki Aloisius menyambuat positif penangkatan dua anggota KOMPIPA Sorong menjadi anak Adat adat suku Kokoda.

“Selamat atas pemberian gelar anak adat, untuk dua anggota KOMPIPA dari masyarakat adat suku Kokoda. Teruslah berkerja, berkarya untuk masyarakat adat suku Kokoda,” sebut Roki. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *