Oleh: RF I
PAPUAINSIDE.ID, WAMENA–Lokasi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 Tahun 2026 resmi dialihkan ke Distrik Welesi. Bukan tanpa alasan, pergantian lokasi festival tahunan ini bertujuan agar terciptanya pemerataan ekonomi masyarakat.
Seperti diketahui, even budaya yang masuk 10 besar Karisma Even Nusantara (KEN) ini selalu berhasil menarik wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Sehingga dengan begitu tentu ikut memutar roda ekonomi warga di sekitaran lokasi dan kabupaten Jayawijaya pada umumnya.
“Tujuannya adalah bagaimana membuat festival ini jadi daya tarik pariwisata, dan bisa terjadi pertumbuhan ekonomi. Sehingga dilaksanakan secara bergantian, dari satu distrik ke distrik lain, dengan tujuan menumbuhkan ekonomi dibeberapa kawasan,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Engelberth Surabut kepada wartawan, Jumat (9/7/2026).
Festival tertua di Papua ini tercatat pernah diselenggarakan di beberapa distrik, seperti Distrik Piramyd, Asotipo, Wosi Limo, Libarek dan Distrik Welesi.
Menurut Kadispar, saat menggelar even FBLB di salah satu distrik tidak hanya menumbuhkan ekonomi di distrik tersebut, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi distrik tetangga.
“Tahun ini FBLB dilaksanakan di Welesi, bukan dipindahkan tetapi kita lakukan sistemnya rolling agar asas pemerataan dampak dari FBLB ini bisa dirasakan semua, dan pertumbuhan ekonomi bisa merata tidak hanya di satu titik saja tapi di seleuruh kabupaten bisa bertumbuh dengan baik,” jelasnya.

Pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) beberapa tahun lalu. (Foto: Papuainside.id/RF)
Lagi Engelbert menekankan, rolling lokasi FBLB ini demi pemerataan dampak manfaat di semua distrik. Apalagi jika dikaitkan dengan pemindahan lokasi FBLB berkaitan dengan jarak, tegas Engelbert hal tersebut tidaklah benar.
“Jadi bukan karena jarak, tapi ini murni asas keadilan atau pemerataan pembangunan,” tegasnya.
Pada festival tahun 2026 ini dinas terkait membeberkan bahwa jumlah peserta kemungkinan tidak sebanyak tahun lalu, mengingat kebijakan efisiensi yang tengah diberlakukan oleh pemerintah pusat hingga daerah.
“Peserta festival berkurang karena ini juga berdampak dari efisiensi anggaran dimana anggarannya sangat terbatas sehingga mengurangi peserta. Ini kebijakan pemerintah,” katanya.
Bahkan dibocorkan kadispar, dampak dari efisiensi yang terjadi festival tahun ini hampir tidak dapat dilaksanakan. Namun karena FBLB masuk dalam KEN, sehingga harus tetap dilaksanakan. **













