Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, JAYAPURA—Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 digelar The Samdhana Institute, sekaligus Menoken Mambesak bersama warga Kampung Pupehabu, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (9/8/2024).
Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 dan Menoken Mambesak merupakan rangkaian kegiatan Peringatan HUT ke 46 Tahun 2024 mengusung Tema Menoken Mambesak berlangsung di Pelataran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Senin (5/8/2024).
Sebelumnya, 7 Agustus 2024 dilakukan Menoken Mambesak di Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.
Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 juga dilakukan pencanangan penanaman pohon di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) di Kampung Hyansi, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Turut hadir Komunitas Menoken Mamta, Komunitas Menoken Samdhana, Komunitas Tuli Jayapura, Komunitas Pemuda Yotoro, Komunitas EcoDefender Jayapura dan Komunitas Rumah Bakau Jayapura.

Nokeners Samdhana Yuniken Mayangsari, bersama anak-anak menanam pohon di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) di Kampung Hyansi, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Klisi, Dorteis Udam mengatakan dengan peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 ini diharapkan masyarakat adat diberikan kesempatan berkarya, menikmati sumber daya alam yakni sumber daya hutan bahkan apa saja yang menjadi milik masyarakat adat.
Dorteis menjelaskan, pihaknya juga mengharapkan pemerintah dapat membantu masyarakat adat dari beberapa aspek. Dengan demikian, masyarakat adat dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan memperhatikan dampak-dampak lingkungan.
“Untuk masyarakat adat tetap menjaga hutan, karena hutan adalah harapan masa depan untuk keberadaan masyarakat adat secara berkelanjutan,” ujar Dorteis.
Dorteis juga mengharapkan agar gerakan- gerakan rehabilitasi hutan, penanaman hutan dan pelestarian hutan bersama isinya tetap terjaga dan dilestarikan.

Nokeners Samdhana Ambrosius Ruwindrijarto melantunkan lagu Kaumku sambil bersimpuh di kaki seorang Mama, ketika peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024, sekaligus Menoken Mambesak bersama warga Kampung Pupehabu, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (9/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Tokoh Gerakan Masyarakat Adat Nusantara, Abdon Nababan mengatakan peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024, untuk mengingatkan dan menyelesaikan atau paling tidak bisa mengurangi dampak krisis global, yang hari ini sedang dihadapi dan diperkirakan masih akan terus meningkat dampak dari krisis tersebut.
“Ini adalah refleksi perjalanan perjuangan masyarakat adat selama 50 tahun lebih. Hari ini kita coba melihat kondisi riil, yang dialami suku Klisi,” ungkap Abdon.
Selain itu, tutur Abdon, pencanangan penanaman pohon sebenarnya tindakan simbolik saja, untuk mengatakan bahwa masyarakat adat adalah solusi terhadap perubahan iklim, ancaman kepunahan keanekaragaman hayati, ancaman krisis pangan dan ancaman krisis air bersih.

Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 digelar The Samdhana Institute, sekaligus Menoken Mambesak bersama warga Kampung Pupehabu, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (9/8/2024). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Yang menarik dari peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2024 ini adalah Nokeners Samdhana Ambrosius Ruwindrijarto melantunkan lagu “Kaumku” dan mengajak warga yang hadir menyanyikan lagu “Jauh Dekat Hulu Grime”. Lagu ini membuat Ketua DAS Klisi, Dorteis Udam meneteskan air mata.
Melalui lagu Kaumku dan Jauh Dekat Hulu Grime, Ruwindrijarto ingin menggambarkan bahwa filosifi menoken adalah mama yang berada dibawah kakinyalah dan tanah-tanah yang tumbuh tumbuh sagu, ubi, kelapa, kakao, vanili dan hutan-hutan kayu yang berdiri tegak semuanya ada di tanah ini.
Ruwindrijarto mengutarakan, jika tanah-tanah, hutan-hutan dan semua tanaman diatasnya yang sangat kaya ini perlu dijaga dan dipelihara. Semua orang yang sehari-hari mencari di hutan, meramu, menokok sagu, menebang kayu, berburu dan lain-lain sebenarnya perlu menjaga dan memelihara hutan.
“Kalau sesuatu tak dijaga dan kalau tak ada yang punya, maka akan diambil orang lain. Jadi kita harus hadir disana dan menjaga hutan,” tandasnya.
Kemudian yang kalah penting, menurut Ruwindrijarto adalah berkarya.
“Jadi yang kita bangkitkan adalah berkarya. Kita adalah ciptaan dan kemudian mendapat mandat untuk menjadi ciptaan dan menciptakan dengan cinta,” tuturnya.
“Cinta adalah bagian yang paling dahsyat, dimana adat ada disana, noken ada disana, kasih kerahiman ada disana dan dasarnya selalu pada cinta. Kemudian ternyata ada juga aspek kolaborasinya, yakni kita harus lihat semua ini bagian kita, seperti menoken sebagai jalinan rajutan menjadi satu,” tuturnya lagi. **














