Oleh: Ignas Doy I
PAPUAInside.com, JAYAPURA–Focus Group Discussion (FGD) mengusung tema Mensejahterakan Masyarakat Papua Dalam Bingkai NKRI, diinisisi Kepolisian Daerah (Polda) Papua di Hotel Aston Jayapura, Rabu (29/07/2020).
FGD mensejahterakan masyarakat Papua dalam bingkai NKRI dipandu Ketua Cenderawasih Reading Center Michael Jhon Yarisetouw, dengan Keynote Speaker (Pembicara Utama) Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Paulus Waterpauw.
Para Panelis antara lain Ketua DPRD Kota Jayapura Abisay Rollo, SH, Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesra Setda Provinsi Papua DR. Drs Muhammad Musa’ad, M.Si, Dosen Akademisi Magister Hukum Universitas Yapis Papua Dr. Ahmad Rifai Rahawarin, SH,MH.
Waterpauw menjelaskan hari ini kita hadir disini, karena kita cinta dengan NKRI, yang sudah di bangun dengan perjuangan oleh para pahlawan terdahulu kita.
Dikatakan, tempat paling bermartabat adalah NKRI. NKRI adalah rumah bagi semua rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Papua, rumah Indonesia kita ini harus terus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
“Itu adalah hasil kerja keras kita bersama memikul tanggungjawab penghuni tuan rumah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, membangun harmonisasi sosial yang dibina dan drawat dengan kasih sayang,” tukasnya.
Abisay Rollo mengatakan, pihaknya mengajak warga Papua sepakat bahwa sesuai dengan tema FGD mensejahterahkan masyarakat Papua dalam bingkai NKRI.
“Kita hapus kata bingkainya menjadi mensejahterahkan masyarakat Papua dalam NKRI dan NKRI Sampai Mati bukan NKRI Harga mati,” terangnya.
Muhammad Musaad menerangkan kita tahu Covid-19 ini sudah menjadi pandemi dunia di Indonesia sudah lebih seratus ribu. “Jadi ini nyata dan bukan rekayasa seperti isu-isu yang berkembang,” tuturnya.
Dikatakan kalau dilihat dari-data dampak ini di bidang pendidikan bagaimana mahasiswa dapat menerima pendidikan atau dosen dan ternyata mahasiswa yang bisa mengikuti pembelajaran hanya tujuh ribuan dari yang terdaftar ada puluhan ribu.
Ahmad Rivai Rahawarin mengatakan, Papua mempunyai kearifan lokal yang lahir dari orang-orang tua kita.
“Kita ingin sejahtera, tapi kita tak mengubah pola pikir atau mindset diri kita sendiri. Saudara-saudara kita dari luar Papua yang gigih dan ulet, karena mereka mempunyai spirit dan motivasi untuk bangkit dan mandiri, karena hal itu kita yang menentukan,” ujarnya.**














