Fenomena Alam, Hujan Es di Ilaga, Kabupaten Puncak

Butiran es yang turun bersamaan dengan hujan di Ilaga, Puncak. (foto: istimewa)

Oleh:  Nethy DS |

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Fenomena alam hujan es terjadi di Ilaga, Ibukota Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (21/11) sekitar pukul 14.25 WIT.

Butiran es yang turun bersama hujan, sebesar bijih jagung, berlangsung sekitar dua menit.

Sebelum turun hujan disertai es, angin bertiup cukup kencang selanjutnya turun hujan deras membawa butiran-butiran es sebear bijih jagung. ‘’Kami sedang rapat di kantor kemudian turun hujan disertai es, kami semua kaget karena di halaman kamtor sudah terhambur butiran es, ada yang takut namun tidak lama kemudian teman-teman malah keluar dan mengambil butiran-butiran es sebesar bijih jagung tersebut,’’ ujar Ricky Siwi Kepala Dinas Hubungan Masyarakat Kabupaten Puncak yang dihubungi, Jumat (22/11).

Menurut Ricky fenomena alam ini jarang terjadi namun pernah terjadi beberapa kali. ‘’Kejadian ini jarang terjadi tetapi sudah pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Informasi yang saya dapat pernah terjadi tahun 1989 di Kampung Beoga itu skalanya besar, selanjutnya hujan es terkadi si tahun-tahun berikutnya yang sempat saya catat tahun 2010, 2013, 2016 dan kemarin,’’ jelasnya.

butiran es yang turun bersama hujan di Ilaga, Puncak Papua. (foto: istimewa)

Saat turun hujan es, kata Ricky suhu di Ilaga mencapai 14 dejarat Celcius, lebih dingin dari suhu normal yang berkisar antara 16-18 derajat Celcius.

Hujan es ini menurut Ricky terjadi di awal musim hujan, karena baru sekitar tiga hari turun hujan.

Hujan es ini kata Ricky tidak menimbulkan kerusakan baik bagunan maupun tanaman milik warga. ‘’Kalau hujan es tidak ada menimbulkan kerusakan, kami di wilayah pegunungan ini yang ditakutkan adalah hujan salju, karena akan merusak tanaman warga,’’ jelasnya.

Lalu apa yang menyebabkan terjadinya hujan es, berikut hasil analisis BMKG seperti yang disampaikan Kepala BMKG Wilayah V Jayapura Petrus Demon Sili:

  1. Hasil monitoring peta angin lapisan atas menunjukkan terjadi gangguan pada skala regional yakni terbentuknya sirkulasi eddy di wilayah Papua bagian tengah. Gangguan pada skala regional berinteraksi dengan kondisi lokal dimana wilayah Ilaga terletak di wilayah pegunungan sehingga faktor orografis sangat mempengaruhi pola hujannya. Interaksi antara gangguan pada skala regional dan lokal menyebabkan labilitas atmosfer di wilayah Ilaga dan sekitarnya sangat labil dan mendukung pertumbuhan awan Cumulunimbus yang cukup luas/masif dan menjulang tinggi dan dapat menyebabkan Hujan Es. Hujan es disebabkan oleh Awan Cumulonimbus. Awan Cumulunimbus yang tumbuh menjulang tinggi, memiliki tinggi dasar 400 meter dan tinggi puncak awan bisa mencapai 9000 meter (9 Km) di wilayah equator. Titik beku di wilayah tropis terjadi pada ketinggian sekitar 5000 meter (5 Km), sehingga awan cumulunimbus yang berada pada ketinggian di atas 5 Km sudah tidak terdiri atas tetes-tetes air lagi tetapi berupa butiran hingga bongkahan es.
  2. Butiran-butiran es juga turun sebagai hujan mencapai tanah karena didukung oleh suhu udara permukaan di Ilaga dan sekitarnya yang juga cukup rendah sehingga hujan yang turun dari awan Cumulunimbus yang masih dalam bentuk butiran es masih dapat mencapai tanah karena kondisi suhu lingkungan yang rendah. **