Faktor El Nino Tingkatkan Intensitas Kekeringan di Wilayah Puncak, Papua Tengah

Bupati Puncak, Willem Wandik, SE, M.Si membawa bantuan makanan ke Distrik Agandugume dan Lambewi untuk membantu warga yang terancam kelaparan akibat bencana kekeringan. (foto: Diskominfo Puncak)

Oleh: Faisal Narwawan|

PAPUAinside. id, JAYAPURA – Stasiun Klimatologi Jayapura membeberkan kekeringan di Distrik Agandugume dan Lambewi, Puncak, Papua Tengah sudah terjadi sejak Mei 2023.

Sulaiman selalu Kepala Stasiun Klimatologi Jayapura kepada PAPUAinside. Id mengatakan, daerah Puncak, merupakan daerah  zona musim, artinya kemarau dan hujannya jelas. Kekeringan yang ada, merupakan fenomena iklim yang selalu berulang setiap tahun. “Namun faktor El Nino bisa meningkatkan intensitas kekeringan di Wilayah Pegunungan,” ungkap Sulaiman, Sabtu (29/7/2023) malam.

El Nino kata dia, biasanya memberikan dampak ke wilayah yang musim kemaraunya jelas.

El nino adalah suatu fenomena alami di Wilayah Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di wilayah tersebut yang semakin meluas.

“El Nino sdh mulai terjadi dari Bulan April/Mei  dan diperkirakan akan bertahan hingga Desember akhir tahun ini. Sementara Kekeringan diperkirakan terjadi hingga Agustus sampai dengan September, ” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa mengenai suhu dingin ekstrim di daerah tersebut  terjadi karena faktor ketinggian yang tentu membuat suhu lebih rendah.  Karena kondisi kemarau yang menyebabkan berkurangnya awan, suhu menjadi lebih rendah disebabkan hilangnya panas yang lebih cepat dan banyak.

Awan  biasa berfungsi  untuk menahan panas agar tak hilang dari permukaan bumi. Meski begitu, fenomena kekeringan di wilayah Pegunungan adalah fenomena rutin dan almiah yang terjadi setiap tahun. “Ya tentu  intensitasnya yang berbeda, ” ujarnya.

Dengan masih terjadinya kemarau tersebut, pihaknya mengimbau agar masyarakat di wilayah terdampak dapat mempersiapkan makanan pokok dan bergizi, mempersiapkan penyimpanan air, menyediakan pakain yg lebih tebal untuk menahan dingin pada malam dan pagi hari. Tak lupa juga ketersediaan obat dan vitamin untum menjaga ketahanan tubuh.

“Warga dapat berkumpul ke Pemda, TNI dan Polri agar lebih terjaga dalam kondisi apapun dan selalu mengikuti info BMKG,” tutupnya.

Kekeringan di dua distrik itu terjadi sejak Mei 2023. Pemerintah Kabupaten Puncak menjelaskan, enam orang meninggal dunia akibat iklim yang ekstrim tersebut.

Dari data Pemda Puncak, tiga korban meninggal dunia berasal di Distrik Agandugume dan tiga warga lainnya dari Distrik Lambewi. Bahkan, salah satu korban adalah bayi prematur yang berusia satu hari.

Kondisi ini diperparah dengan sulitnya pendistribusian bantuan bahan makanan di dua distrik terdampak karena alasan keamanan. Bantuan hanya dapat didistribusikan hingga ke daerah Sinak, distrik terdekat dengan dua wilayah terdampak. **

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *