PAPUAInside.com, JAYAPURA— Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua terus mempromosikan kehadiran destinasi wisata Tracking Sagu di Kampung Yoboi, Danau Sentani, Kabupaten Jayapura Papua.
Wisata jembatan tracking sagu di Kampung Yoboi dibuka bersamaan dengan pelaksanaan PON XX tahun 2021 di Papua.
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Jan Jap Ormuseray saat berkunjung ke Kampung Yoboi, Minggu (27/03/2022) lalu menjelaskan bahwa pembangunan spot wisata jembatan tracking di hutan sagu ini bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat yang hidup di sekitar hutan.

Dikatakan, sumber ekonomi masyarakat dari hutan bukan hanya dengan menebang pohon lalu dijual tetapi juga hasil hutan lainnya, salah satunya mengolah keindahan atau keunikan wilayah menjadi obyek wisata.
‘’Jadi ekonomi masyarakat bersumber dari wisatanya, yaitu kawasan hutan dikelola menjadi obyek wisata, seperti di Yoboi ini kita bangun jembatan di tengah hutan sagu, sehingga wisatawan bisa melihat secara langsung pohon sagu, juga merasakan kesejukan alamnya,’’ jelasnya.
Objek wisata jembatan tracking sepanjang 420 meter dibuka bersamaan dengan pelaksanaan PON XX tahun 2021 saat Provinsi Papua menjadi tuan rumah dan diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

Dikatakan, 70 persen peserta PON XX mengunjungi jembatan tracking sagu. ‘’Peserta PON mulai dari Aceh sampai Kalimantan datang berkunjung. Ada yang ingin melihat pohon sagu yang merupakan makanan khas Papua serta cara pengolahannya. Daya tariknya ya di pohon sagu itu. Saat kunjungan itu juga Mama-mama mempraktekkan cara menokok sagu dan megolahnya,’’ terangnya.
Tercacat, kata Ormuseray, uang yang masuk ke Kampung Yoboi saat PON XX sebanyak Rp 3,5 M. ‘’Itulah salah satu pengembangan ekonomi masyarakat yang hidup di sekitar hutan,’’ tegasnya.
Untuk masuk ke kawasan wisata tersebut untuk saat ini tidak dipungut biaya namun dengan kehadiran wisatawan bisa membeli berbagai hasil kerajinan tangan warga kampung, kuliner dan lainnya. ‘’Belum ada tarif, namun kehadiran wisata bisa membeli hasil kerajinan mama-mama, juga kuliner-kuliner khas yang ditawarkan, sehingga ada pemasukan ekonomi bagi warga,’’ terang Jimmy Mahue, warga Kampung Yoboi.
Sebelum ada jembatan tracking sagu, Kampung Yoboi sudah terkenal dengan tanaman sayuran, obat-obatan yang ditanam diatas air.

Warga membuat kebun di atas permukaan air dan menanaminya dengan berbagai jenis sayuran dan kebutuhan dapur lainnya.
Untuk membantu mama-mama mengembangkan kebun sayur Kepala Dinas Kehutanan Jan Ormuseray didampingi Ketua DWP Dinas Kehutanan dan LH Ny Ida Ormuseray menyerahkan dana Rp 10 juta untuk pengadaan bibit sayuran.
Mama Debora Tokoro yang mewakili Mama-mama mengatakan akan menggunakan dana tersebut untuk membeli bibit sayuran, tanaman yang disebut apotik hidup untuk dikembangkan dan dijual bagi pengunjung yang datang ke Yoboi. **














