Oleh: RF|
PAPUAINSIDE.ID, WAMENA – Ratusan kepala kampung dan masa pendukung datangi kantor bupati Jayawijaya, mempertanyakan alasan dibalik kebijakan pergantian sebagian besar dari 328 kepala kampung di kabupaten Jayawijaya, Senin (08/09/2025).
Sebelum memasuki halaman kantor bupati masa diminta oleh aparat keamanan untuk menanggalkan berbagai jenis senjata tajam yang dibawa serta dalam aksi tersebut.
Setelah berhasil memasuki kantor bupati pada pukul 11.30 WIT, pimpinan massa baik koordinator maupun ketua asosiasi kepala kampung mulai menyampaikan orasi dan aspirasi yang menjadi tuntutan dihadapan Wakil Bupati Jayawijaya, Ronny Elopere, yang siang itu menerima langsung para kepala kampung.

Setelah sempat diwarnai kericuhan, massa dengan tertib menyampaikan aspirasi di halaman Kantor Bupati Jayawijaya. (foto: RF)
Namun kurang lebih tiga puluh menit setelah memasuki halaman kantor bupati massa tiba-tiba langsung bertindak anarkis dengan melempari pintu kaca bagian depan kantor bupati, tidak hanya itu kaca depan mobil dinas dan salah satu jendela ruang wakil bupati pun tampak pecah akibat aksi itu.
Guna meredam aksi tersebut, aparat keamanan baik polisi maupun brimob yang berjaga-jaga mengawal jalannya demo terpaksa harus melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan masa.
“Tadi ricuh itu karena wakil bupati dia keluarkan bahasa dia suruh kita keluar, dia bilang ‘ini kantor saya bapa-bapa keluar’. Kantor ini kita punya, kenapa ko (wakil bupati) anak kita baru ko suru kita keluar,” ungkap Teten Narigi Ketua Asosiasi Kepala Kampung Kabupaten Jayawijaya.
Menurutnya, sebagai wakil kepala daerah dirinya (wakil bupati) harus menerima penyampaian aspirasi dari para kepala kampung dengan baik.
“Dia (wakil bupati) harus datang dan terima, dia tidak boleh kasi bahasa ke orang-orang tuanya dengan kekerasan. Akibatnya itu yang tadi ada aksi pelemparan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan reaksi spontan dan bukan direncanakan. Sehingga sebelum bubar sebagai ketua asosiasi dirinya menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. “Kami mohon maaf skali dari ujung kaki sampai ujung kepala,” ungkapnya.
Sekedar diketahui, akibat insiden tersebut wakil bupati nyaris menjadi korban pelemparan.
Setelah masa berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan, para kepala kampung pun kembali menyampaikan orasi-orasi dan menyampaikan 4 poin tuntutan yang diterima Plt.Sekda Jayawijaya, Petrus Mahuse. Selanjutnya massa membubarkan diri dengan tertib dari halaman kantor bupati.
Sementara itu, ketika hendak dimintai tanggapan mewakili pemerintah daerah terkait aksi dan insiden yang terjadi Plt Sekda Petrus Mahuse, menolak memberikan keterangan. **














