Oleh: Vina Rumbewas |
PAPUAInside.com, WAMENA— Puluhan mama-mama pedagang asli Papua yang sehari-hari berjualan di jalan Irian dan juga berjualan makanan tradisional Bakar Batu, mendatangi gedung otonom pemerintah Jayawijaya, Rabu (30/09/2020).
Mereka menuntut agar pemerintah Jayawijaya mengkaji kembali rencana penertiban pedagang di sepanjang jalan Irian dan jalan Safri Darwin.
Selain itu mama-mama ini juga meminta pemerintah Jayawijaya untuk menyediakan sebuah tempat khusus bagi mama-mama yang setiap malam berjualan makanan tradisional Bakar Batu di jalan Irian.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian dan Perdagangan, Lukas Kosay, yang menerima aspirasi mama-mama pedagang ini menyampaikan bahwa hal tersebut telah menjadi kesepakatan pemerintah untuk menertibkan pegadang di sepajang jalan irian tanpa terkecuali.
“Ini susah keputusan pemerintah sehingga penertiban akan tetap kami lakukan, karena mama-mama ini seharusnya berjualan di Pasar Potikelek, pasar tradisional yang telah dibangun pemerintah,” ungkapnya.
Sementara, alasan mama-mama pedagang enggan berjualan di Pasar Potikelek karena sering ada oknum warga yang mabuk-mabukan di lingkungan pasar.
Di tempat terpisah, Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengatakan dirinya belum mendapat laporan pasti hasil pertemuan sekda, kadisnakerindag dan mama-mama pedagang asli Papua terkait aksi tersebut.
Namun diakuinya aksi tersebut masih berkaitan dengan penertiban pedagang jalan Irian Bawah dan jalan Safri Darwin.
“Pedagang didua jalan ini memang harus ditertibkan, semua pedagang harus kembali ke Pasar Potikelek, mungkin mereka kurang setuju hingga melakukan protes,” ungkap Banua.
Sementara, untuk mama-mama Papua yang sehari-hari berjualan makanan tradisional menurut bupati, mereka juga harus kembali ke Pasar Potikelek karena pasar tersebut dibangun untuk mama-mama pedagang Papua.
“Jadi kita upayakan supaya semua pedagang terutama mama-mama Papua semuanya harus berjualan di dalam lingkungan Pasar Potikelek,” pungkasnya. **














