Image  

BPL GIDI di Merauke Bahas Tiga Agenda Utama

Bupati Merauke Frederikus Gebze, didampingi President GIDI Pdt. Dorman Wandikbo dan Ketua PGLII DR. Ronny Mandang, menabuh Tifa, ketika membuka Rapat BPL GIDI tahun 2019 di Lapangan Klasis Maro, Wilayah Kaswari, Kabupaten Merauke pada tanggal 23 November 2019. (foto: istimewa)

Oleh:  Ignas Doy |

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) tahun 2019 menggelar evaluasi BPL GIDI tahun 2018 di Bokondini, yang berlangsung di Lapangan Klasis Maro, Wilayah Kaswari, Kabupaten Merauke pada tanggal 23-27 November 2019.

Turut hadir Bupati Merauke Frederikus Gebze, Bupati Yahukimo Abock Busup, Bupati Tolikara Usman Wanimbo, anggota DPRP Yunus Wonda, Ketua PGLII (Persekutuan Gereja -Gereja Lembaga Injili Indonesia) DR. Ronny Mandang, sejumlah wakil rakyat yang merupakan kader GIDI serta perwakilan masyarakat Papua New Guinea (PNG).

President GIDI Pdt. Dorman Wandikbo  di Kompleks STAKIN (Sekolah Teologia Atas dan Kejuruan Injili),  Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (30/11), mengatakan pihaknya dalam BPL GIDI tahun 2019 itu membahas tiga agenda utama.

President GIDI Pdt. Dorman Wandikbo, didampingi para Bupati, ketika memasuki kegiatan Rapat BPL GIDI tahun 2019 di Lapangan Klasis Maro, Wilayah Kaswari, Kabupaten Merauke pada tanggal 23 November 2019. (foto: istimewa)

Pertama, membahas GIDI resmi masuk anggota tetap Dewan Gereja-Gereja Pasifik atau Konferensi  Gereja-Gereja Pasifik atau Pasific Conference of Churches (PCC)  di Suva, Fiji pada akhir November  2019. ‘’Sekaligus membahas rekomendasi Dewan Gereja-Gereja Pasifik kepada delegasi gereja dari Tanah Papua yang terdiri dari gereja GKI di Tanah Papua, GIDI, Baptis Papua dan Kingmi di Tanah Papua, untuk  membentuk Forum atau Dewan Gereja Papua (West Papua Church Council),’’ jelasnya.

Kedua, membahas tentang bagaimana gereja keluar dari ketergantungan kepada bantuan pemerintah.  “Jadi kita bicara tentang keuangan gereja. Dan saatnya tiba GIDI harus mandiri,” ujarnya.

Ketiga, tentang penginjilan lintas budaya orang-orang bangsa Melanesia atau antara hitam dengan hitam, seperti Suku Aborigin atau penduduk asli Australia, Uganda, Afrika, Papua New Guinea (PNG), Fiji, Vanuatu dan lain-lain.

“Jadi kita lebih banyak bicara bagaimana membangun penginjilan lintas budaya. Budaya yang sama, kehidupan ekonomi yang sama dan cara berpikir yang sama menjadi penginjilan lintas budaya,” ujar Dorman.  ** (adv)