BP2DK Gelar Pekan Literasi Digital Wilayah Adat Lapago

Pekan Literasi Digital Wilayah Lapago yang berlangsung di Hotel Pilamo Wamena (Foto : Istimewa)

Oleh: Vina Rumbewas |

PAPUAInside.com, WAMENA – Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) menggelar Pekan Literasi Digital di wilayah adat Lapago pada Senin, 22 November 2021 di Hotel Pilamo, Wamena, Jayawijaya.

Pekan literasi digital ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong kreaktifitas juga produktifitas masyarakat dalam menggunakan teknologi digital.

Plt. Sekda Jayawijaya, Drs. Tinggal Wusono, M.A.P melalui sambutan bupati Jayawijaya mengapresiasi kehadiran BP2DK di wilayah Lapago, dan khususnya di kabupaten Jayawijaya.

“Dilihat dari literasi ini sebenarnya untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan terkait dengan bagaimana mempelajari digital termasuk juga cara memanfaatkan untuk saudara kita di Lapago, dan lebih khusus untuk kita di Jayawijaya,” katanya

Melalui kegiatan ini, kata Wusono, ada hal-hal positif yang bisa didapatkan. Namun, dia juga berpesan agar dalam kegiatan ini disampaikan juga hal-hal negatif yang harus dihindari ketika menggunakan media sosial sehingga nantinya manfaat dari apa yang dipelajari bisa diterima dengan baik.

Menurutnya, sekarang merupakan era digitalisasi dan ada banyak entrepreneur (pengusaha) muda dengan jiwa kewirausahaan dengan berbagai inovasi yang ada daerah sehingga dengan mempelajari literasi digital ini mereka bisa memanfaatkannya dengan baik.

“Harapan saya, mereka bisa promosikan dan menghasilkan uang, karena dengan era digitalisasi ini, banyak hal yang bisa dapatkan dengan mereka hanya di tempat tinggal masing-masing tidak perlu kemana-mana,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator BP2DK Papua, Carles Imbir mengatakan, dengan kegiatan literasi itu diharapkan dapat terjadi komunikasi dan konsultasi di komunitas-komunitas masyarakat adat yang akan menggunakan alat digital untuk keadaan positif di masa depan.

“Karena kalau mereka tidak siap hari ini mereka bisa mendapatkan masalah besar, karena digital ini tidak bisa ditolak dan tidak bisa ditahan, untuk itu kita harus meyakinkan masyarakat adat, untuk lebih siap menghadapi hal-hal yang positif,” harapnya.

Menurutnya, alat digital tidak hanya memberikan pengaruh positif tetapi lebih dari itu, dapat digunakan untuk komunitas adat dan usaha-usaha ekonomi rakyat di daerah.

“Miisalnya untuk promosi-promosi wisata, masyarakat tidak kehilangan akan kampungnya, dan sumber daya alamnya namun masyarakat akan terlibat pekerjaan di era digital ini,” pungkasnya. **