BI Papua Bantu Hand Traktor untuk Perluasan Lahan Jagung di Keerom

Deputi Kepala Perwakilan BI Papua, Dedy Irianto, ketika menyerahkan bantuan secara simbolis 1 unit hand traktor, 1 unit mesin penggiling jagung dan 1 unit peralatan sensor. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.com)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, ARSO—Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua menyerahkan bantuan 1 unit hand  traktor, 1 unit mesin penggiling jagung dan 1 unit  peralatan sensor kepada kelompok tani binaan Koperasi Maju Berkarya Keerom.

Alat tersebut nantinya akan digunakan untuk memperluas lahan jagung seluas 28 hektar.
Diketahui, Koperasi Maju Berkarya Keerom adalah binaan BI Papua, yang didirikan sejak tahun 2014 silam. Kini beranggotakan 28 petani.

Kelompok tani ini awalnya menanam jagung seluas 5-6 hektar. Kini telah berkembang menjadi 28 hektar, dengan hasil 4-4,5 ton perhektar.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua, Dedy Irianto menyerahkan bantuan alat pertanian tersebut kepada Ketua Koperasi Maju Berkarya Keerom Marojahan Siahaan.

Kegiatan ini berlangsung di Dusun Tuwi, Kampung Yowong, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom, Papua, Kamis (6/10/2022).

Turut hadir Wakil Bupati Keerom Wahfir Kosasih, SH, MH, MSi, Ketua DPRD Kabupaten Keerom Bambang Mujiono, Perwakilan TNI/Polri dan Anggota Koperasi Maju Berkarya Keerom.

Dedy Irianto mengatakan, pihaknya ingin melihat keberhasilan warga, khususnya kelompok tani.

Kolaborasi antara BI Papua, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Keerom dan Koperasi Maju Berkarya Keerom, dimulai dari pendampingan dalam bentuk pelatihan pelatihan. Salah satunya digitalisasi.

Deputi Kepala Perwakilan BI Papua, Dedy Irianto, didampingi Wakil Bupati Keerom Wahfir Kosasih, SH, MH, MSi, Ketua DPRD Keerom Bambang Mujiono, Perwakilan TNI/Polri dan Anggota Koperasi Maju Berkarya Keerom, ketika panen jagung. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.com)

“Kami berupaya sebagai benefit creator. Jadi bagaimana kami membuat sesuatu itu bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Kami memberikan stimulus, agar mereka punya inpact atau dampak ekonomi yang bagus,” ujarnya.

Wahfir Kosasih mengatakan, kehadiran BI Papua di Koperasi Maju Berkarya Keerom betul betul menjadi penyemangat. Jika kali ini baru satu koperasi yang dibina, kedepan akan muncul koperasi koperasi binaan yang lain.

“Selama ini kelompok tani ibarat ayam kehilangan induknya, tapi kini kehadiran BI Papua melalui digitalisasi diharapkan membimbing, mengarahkan dan memberikan support, sehingga program koperasi ini dapat terealisasi. Apalagi digitalisasi sebagai suatu keniscayaan saat ini, karena itu wajib dimiliki sebuah usaha yang ingin berkembang,” jelasnya.

Yang paling penting, tutur Kosasih, terkait peluang peluang pasar. “Apa yang bisa ditangkap oleh koperasi,  dan apa yang bisa  sama sama kita jual setidaknya untuk internal kita syukur syukur nanti bisa produksi kita melimpah bisa kita jual. Apalagi peluang pasarnya memang sudah terbuka tinggal action,” tandasnya.

Bambang Mujiono mengatakan, pihaknya mengapresiasi keterlibatan semua stake holder dalam pengendalian inflasi. Hal  ini merupakan sinergitas dan kolaborasi yang luar biasa, baik Pemkab Keerom, BI Papua maupun Koperasi Maju Berkarya.

Tapi yang menjadi persoalan hari ini adalah memecahkan bagaimana ada industrialisasi pertanian apakah dalam bentuk produk olahan, penggunaan pakan ternak dan pemasaran atau marketing.

Deputi Kepala Perwakilan BI Papua, Dedy Irianto, ketika menyampaikan pengarahan. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.com)

Menurutnya, ini juga membutuhkan peran serta dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat  berkaitan dengan tol laut.

“Sehingga produk Papua itu jangan container masuk penuh pulang kosong. Slogan container tra kosong lagi itu harus kita wujudnyatakan bahwa Papua tak tergantung hanya pada hasil produk hutan, tapi produk olahan alam dari pertanian juga bisa kompetitif di pasar lain,” ucapnya.

“Apakah pasar yang dimungkinkan dari Asia Pasific ataukah memang pasar didalam negeri sendiri, terutama jagung untuk penyediaan pakan ternak,” ungkapnya.

Marojahan Siahaan mengatakan, pihaknya yakin dengan dukungan dari BI Papua, maka hasil panen jagung meningkat pesat.

Ia menjelaskan, pihaknya panen jagung 3-4 kali setahun. Tapi kedepannya ia ingin mengatur, agar lahan 28 hektar ini tak langsung sekali panen. Tapi selang seling.

“Kalau panen berlebihan, maka akan mempengaruhi harga jual,” tandasnya.

Dikatakan pihaknya saat ini memasarkan jagung masih di lokal di Jayapura dan sekitarnya.

“Pedagang yang datang membeli lebih banyak dari pada kami menjual langsung kepada konsumen,” pungkasnya.

Setelah penyerahan bantuan ini Perwakilan BI Papua, Pemkab Keerom dan Kelompok Tani binaan Koperasi Maju Berkarya Keerom melangsungkan panen jagung. **