Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, KOKODA—Anak-anak usia sekolah di Kampung Migori menyampaikan belum adanya pembelajaran Bahasa Kokoda secara khusus di sekolah lokasi mereka tinggal.
Seperti diketahui bersama di banyak lokasi di Indonesia, pembelajaran bahasa daerah sebenarnya sudah dimasukan dalam muatan lokal (mulok) dan diajarkan di sekolah-sekolah formal.
Hal ini terungkap di sela-sela Menoken Pulang Kampung ke Kokoda 2024 di Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu (15/12/1024).

Tampak Gedung SD Negeri 17 Kampung Migori, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. Siswa-siswi bersekolah diatas air. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Ahmad Biowa, Siswa Kelas VI SD Negeri 17 Migori, menuturkan akan senang jika Bahasa Kokoda diajarkan di sekolah, sehingga anak-anak bisa terus belajar untuk menuliskan, membaca dan mengucapkan bahasa Kokoda.
“Kalau di sekolah kami bicara bahasa Indonesia, tapi kalau di rumah bahasa Kokoda,” ujar Ahmad.
Anak ke-2 dari 6 bersaudara ini bercita-cita menjadi guru, supaya bisa mengajar anak anak Suku Kokoda.

Anak-anak berada di rumah di Kampung Nebes, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. Siswa bersekolah diatas air. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Yuniken Mayangsari, atau biasa dipanggil Niken, Nokeners dari Bogor turut urun berpendapat bahwa bahwa Kepunahan bahasa daerah atau bahasa ibu biasanya disebabkan, karena tidak ada pembiasaan penggunaan sehari-hari, dan akan baik jika masuk mulok di sekolah, jika tidak dikwatirkan akan mengalami kepunahan, seperti yang dialami bahasa daerah atau bahasa ibu lainnya di wilayah Tanah Papua.
Sedangkan Solder Simurut, Siswa Kelas VI SD Negeri 17 Migori juga menimpali bahwa senang jika bahasa Kokoda wajib diajarkan di sekolahnya, agar bahasa tak hilang.
“Kalaupun bicara bahasa Kokoda hanya nyanyi lagu Kokoda,” katanya.
Anak ke 4 dari 7 bersaudara ini bercita-cita menjadi Polisi, biar bisa menjaga kampung.
Ahmad dan Solder dalam kesehariannya juga ikut membantu orang tua mencari ikan memakai bubu, sayur paku, kangkung dan sagu. Mereka lakukan sepulang sekolah dengan mendayung sampan.
“Ini makanan pokok kami disini, yang kami temukan di kampung kami ini, dan membuat kami sehat dan kuat ada bergizi,” tutur Ahmad.
“Kami cari udang, kalau lagi musim. Udangnya besar-besar satu sampan penuh. Sebagian kami bawa pulang ke rumah, sisanya kami jual untuk beli buku tulis,” ungkap Solder.
Ahmad mengatakan ia dan teman-temannya senang di sekolahnya ada program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS), berupa susu dan biskuit secara berkala.
“Tapi kami lebih senang, kalau makanannya yang sudah terbiasa saja… ala kitorang saja,” ungkap Ahmad.
Solder menambahkan, program makanan tambahan yang ala kitorang sukai ini juga bisa membantu orang tua mereka dalam memenuhi kebutuhan kelengkapan makanan tercukupi ada dan seimbang untuk anak-anak mereka.
Istilah dan pemahaman tentang stunting yang diperkenalkan kepada Ahmad dan Solder, ditanggapi mereka dengan kritis.
“Kondisi stunting itu di Kokoda kami tidak tahu, kami juga masih belajar dari ibu guru, dan untuk yang melayani kesehatan di kampung kami jika kami sakit, juga masih sedikit orangnya,” ucap Solder.

Seorang anak melewati jembatan kayu di Kampung Nebes, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Rahya Simurut sebagai anak suku asli Kokoda yang lahir besar di kampung Migori ini, juga menyampaikan kekwatirannya setiap hari anak-anak lebih suka bicara bahasa Indonesia dari pada bahasa ibu.
“Setidaknya bahasa Kokoda diajarkan di sekolah, dalam waktu seminggu sekali, misalnya saat mata perlajaran kesenian. Kami senang, kalau makin banyak orang memakai bahasa Kokoda sehari-hari, sehingga tetap terjaga dan lestari,” tandasnya.
Direktur Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) PT Yombe Namblong Nggua, Yohana Tarkuo menyambut gembira bahasa Kokoda masih sangat terjaga.
“Anak anak disini pakai bahasa ibu dalam keseharian bermain, beda jauh sekali dengan wilayah lain yang lebih banyak bicara bahasa Melayu,” tukasnya.
Yohana menyampaikan, bahasa ibu harus tetap dipertahankan, walaupun budaya lain sudah masuk hingga kampung-kampung.

Anak-anak berpose bersama di Kampung Nebes, Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Sekedar diketahui, di kegiatan Menoken area Merauke, Papua Paradise Center (PPC) berkolaborasi dengan Komunitas Menoken AnimHa, The Samdhana Institute dan Para Guru Penutur Bahasa Malind ikut menjaga dan melestarikan bahasa ibu. Mereka telah menerbitkan buku saku bahasa Malind, dan memperkenalkan di sekolah- sekolah formal di Merauke.
Buku Saku Bahasa Malind meliputi Dialek Wanggali Milah, Dialek Duh Milah Mayan, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Bahkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Mulok Bahasa Malind, untuk diajarkan di sekolah-sekolah formal.
Beberapa Bahasa daerah atau bahasa ibu di wilayah Tanah diketahui perlahan punah, lantaran penuturnya makin sedikit. Antara lain, Bahasa Tobati, Kayu Pulo, Nafri dan Skouw di Kota Jayapura. Bahasa Malind di Kabupaten Merauke penuturnya tinggal satu generasi. Bahkan Bahasa Marori kini hanya tinggal seorang penutur. Dan masih banyak lagi. **














