Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Yayasan Menoken Indonesia Sejahtera Bumi Semesta (Mitra BUMMA) dan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan Universitas Ottow Geissler Papua (UOGP) menandatangani kerja sama penyelenggaraan Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat.
Pada tahap awal, 15 calon mahasiswa anak adat disiapkan untuk mengikuti pendidikan selama empat tahun dengan dukungan beasiswa.
Penandatanganan kerja sama berlangsung di ruang rapat UOGP, kawasan Kotaraja, Kota Jayapura, Selasa (11/8/2026).
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia masyarakat adat agar generasi muda memiliki bekal akademik untuk mendukung pengembangan ekonomi adat dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah adat.

UOGP Buka Akses Pendidikan
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UOGP Triana M Kubelaborbir mengatakan, UOGP mengapresiasi kerja sama tersebut karena membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat adat.
Tahap awal program difokuskan bagi masyarakat adat di wilayah Suku Namblong. Namun, model tersebut diharapkan dapat dikembangkan untuk masyarakat adat di wilayah lain di Tanah Papua.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat adat, khususnya Suku Namblong, dan ke depan dapat membantu kampung-kampung serta masyarakat adat lainnya dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” kata Triana.
Kerja sama tersebut juga mencakup peluang riset dan pengabdian kepada masyarakat, terutama untuk mendukung pembangunan kampung serta pengelolaan dan pemeliharaan sumber daya alam.
Perkuliahan akan dilaksanakan secara daring dan luring. Teknis pelaksanaannya akan disepakati program studi, fakultas, dan Mitra BUMMA sesuai ketentuan akademik UOGP.

15 Calon Mahasiswa Dapat Beasiswa
Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan UOGP Efraim Mangaluk mengatakan, tahap awal Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat akan diikuti 15 calon mahasiswa anak adat.
Mereka akan mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan reguler selama empat tahun. Biaya pendidikan mencakup biaya kuliah, SKS, dan komponen pembiayaan semester lainnya. Perkuliahan perdana direncanakan mulai pada tahun ajaran 2026.
“Kami memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak adat untuk berkuliah, menggali ilmu sebanyak-banyaknya, dan mendapatkan manfaat dari proses perkuliahan,” ujar Efraim.
Calon mahasiswa akan dijaring bersama UOGP dan Mitra BUMMA melalui proses seleksi. Mereka harus memenuhi persyaratan akademik dasar yang ditetapkan perguruan tinggi.
Kemampuan membaca, menulis, dan matematika menjadi bagian dari kualifikasi yang harus dipenuhi agar calon mahasiswa dapat mengikuti proses pembelajaran di perguruan tinggi.

Menggunakan Kurikulum Berbasis OBE
Efraim mengatakan, program tersebut sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam penguatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.
Di sisi akademik, penyelenggaraan pendidikan menggunakan pendekatan Outcome-Based Education (OBE) yang menitikberatkan pada capaian pembelajaran dan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kurikulum berbasis OBE dapat mendorong kemampuan dan kapasitas talenta generasi muda Papua sehingga mereka mampu mengikuti perkembangan dan perubahan zaman,” katanya.
Menurut Efraim, program tersebut telah dipersiapkan UOGP sejak tiga tahun lalu. Pelaksanaannya pada 2026 menjadi realisasi dari rencana yang telah disusun secara bertahap.
“Kami sangat bersyukur rencana yang sudah kami siapkan selama tiga tahun ini akhirnya bisa terwujud pada 2026. Ini menjadi kabar gembira dan catatan sejarah bagi kami,” ujar Efraim.
Disiapkan untuk Ekonomi Adat
CEO Mitra BUMMA Ambrosius “Ruwi” Ruwindrijarto mengatakan, standar akademik dan penyelenggaraan pendidikan menjadi kewenangan UOGP. Sementara Mitra BUMMA bersama BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dan Dewan Adat Suku (DAS) Namblong berperan memilih, menominasikan, dan mendaftarkan calon mahasiswa.
Calon mahasiswa berasal dari anak-anak muda yang bekerja di BUMMA atau dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia bagi kelembagaan ekonomi adat.
“Tujuannya membangun ekonomi adat dan BUMMA. Anak-anak muda ini disiapkan kapasitasnya melalui kuliah khusus agar nantinya mampu membangun ekonomi adat melalui BUMMA suku,” kata Ruwi.
Menurut Ruwi, Suku Namblong telah memiliki BUMMA melalui PT Yombe Namblong Nggua. Sementara Suku Mare, Kanum, dan Knasaimos sedang membangun BUMMA.
Ia berharap semakin banyak suku di Tanah Papua membangun BUMMA sehingga generasi muda dari berbagai wilayah adat dapat memperoleh akses pendidikan untuk memperkuat ekonomi berbasis masyarakat adat.

Penelitian Hormati Mekanisme Adat
Komisaris BUMMA PT Yombe Namblong Nggua Abraham Yenatawa menyambut kerja sama tersebut atas nama masyarakat adat Namblong. Ia berharap para calon mahasiswa yang mengikuti program mendapat bimbingan dengan baik dan kelak memberikan manfaat bagi BUMMA serta masyarakat di wilayah adat Namblong.
Abraham menjelaskan, masyarakat adat memiliki sistem pemerintahan dan mekanisme pengambilan keputusan tersendiri, termasuk dalam penggunaan wilayah adat. Karena itu, kegiatan pihak luar, termasuk penelitian mahasiswa, perlu dikomunikasikan dengan masyarakat dan mengikuti mekanisme persetujuan adat.
“Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Saya harus duduk rembuk dengan warga untuk mendapatkan persetujuan, kemudian hasilnya kami sampaikan kepada UOGP dan Mitra BUMMA,” kata Abraham.
Ia membuka peluang bagi UOGP untuk mengembangkan penelitian mengenai hutan dan sumber daya alam di wilayah adat Namblong. Namun, pelaksanaannya harus tetap menghormati struktur pemerintahan adat dan hak masyarakat atas wilayahnya. **













