Mengintip “Dapur Rupiah” di Peruri Karawang: Begini Proses Pencetakan Uang Indonesia

Puluhan wartawan Jayapura berpose bersama saat kunjungan ke Perum Peruri, Karawang, yang difasilitasi Bank Indonesia Papua, Rabu (8/10/2025). (Foto: Humas Bank Indonesia Papua)

Oleh: Makawaru da Cunha  I


PAPUAINSIDE.ID, KARAWANG—
Tak semua orang bisa melihat langsung bagaimana rupiah lahir dari tangan-tangan terampil di balik tembok tinggi Perum Peruri atau Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia. Dalam rangkaian kegiatan Capacity Building Wartawan Jayapura 2025 yang digelar Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua, kami berkesempatan langka menyusuri “dapur rupiah” di Karawang, tempat setiap lembar uang Indonesia dicetak dengan standar keamanan kelas dunia, Rabu (8/10/2025).

Perum Peruri  terletak di Jalan Tarum Barat, Desa Parung Mulya, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat atau 76 km dari Jakarta jika menggunakan jalur kendaraan.

Kepala Perwakilan BI Papua, Faturachman, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman wartawan terhadap sejarah dan peran Bank Indonesia, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai kebijakan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kami berharap kegiatan ini mempererat hubungan BI dengan media dan membantu wartawan memahami peran BI secara utuh,” ujar Faturachman saat memberikan pemaparan di Hotel Sari Pasific, Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Kegiatan ini juga diikuti oleh puluhan wartawan dari Provinsi Papua Barat dan Kalimantan Tengah, yang difasilitasi oleh masing-masing Kantor Perwakilan Bank Indonesia.

Setibanya kami di kompleks Perum Peruri, bus yang kami tumpangi langsung dihentikan di pos pemeriksaan utama. Petugas keamanan melakukan pemeriksaan ketat terhadap setiap penumpang. Barang bawaan seperti kamera dan telepon genggam diminta untuk tak dibawa masuk ke dalam gedung produksi demi menjaga kerahasiaan proses pencetakan uang.

Dua petugas gadis cantik dengan rambut sebahu berdiri di depan pintu utama, melakukan security screening terhadap seluruh pengunjung. Setelah melalui pemeriksaan tersebut, kami mengikuti upacara pembukaan singkat yang diisi sambutan dari pimpinan Perum Peruri dan perwakilan Bank Indonesia dari Papua, Papua Barat, serta Kalimantan Tengah. Acara dilanjutkan dengan pertukaran cinderamata sebelum rombongan diajak berkeliling fasilitas produksi.

Dipandu oleh seorang petugas, kami menaiki tangga menuju lantai dua area tempat berlangsungnya proses pencetakan uang kertas (banknote). Di sinilah kami menyaksikan bagaimana setiap lembar rupiah dicetak dengan tingkat presisi dan keamanan tinggi sebelum akhirnya siap diedarkan oleh Bank Indonesia.

Kompleks Perum Peruri dibangun di atas lahan seluas 202 hektar. Pembangunan pabrik dimulai pada 1991, mulai beroperasi pada 1994, dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2 Pebruari 2005. Fasilitas megah ini menjadi pusat utama pencetakan uang kertas dan logam negara, menggantikan sebagian fungsi fasilitas lama di Jakarta.

Proses pencetakan uang kertas di Peruri dimulai dari tahap perencanaan dan pemesanan. Bank Indonesia menentukan jumlah, desain, dan fitur keamanan uang yang akan dicetak, sementara bahan kertas khusus disediakan sesuai standar yang sangat ketat.

Selanjutnya, tim engraving Peruri membuat desain dan pelat ukir (intaglio plate) dengan teknik garis halus berpresisi tinggi. Setelah itu dilakukan offset printing, yaitu pencetakan warna dasar pada kedua sisi lembaran besar uang. Proses berikutnya adalah intaglio printing, yang memberikan tekstur timbul pada gambar utama dan teks ciri khas uang asli.

Fitur keamanan tambahan seperti watermark, benang pengaman, hologram, microtext, tinta UV, hingga optically variable ink (OVI) ditambahkan untuk mencegah pemalsuan. Setelah itu, dilakukan penomoran dan serialisasi, diikuti dengan inspeksi kualitas otomatis dan manual. Uang yang lolos pemeriksaan dipotong, dikemas dalam bundel sesuai permintaan BI, dan diserahkan dengan pengamanan berlapis.

Seluruh proses produksi di Peruri dilakukan dalam area dengan pengawasan keamanan tinggi. Akses dibatasi, setiap langkah diawasi melalui sistem CCTV, dan semua bahan baku maupun hasil cetak dilacak ketat. Peruri hanya mencetak uang atas pesanan resmi dari Bank Indonesia. Kebijakan jumlah, desain, dan waktu pencetakan ditentukan sepenuhnya oleh BI.

Melihat langsung bagaimana uang rupiah lahir dari proses panjang, teliti, dan penuh kehati-hatian memberi kami pemahaman baru tentang nilai di balik setiap lembar rupiah yang beredar. Ada ketelitian, tanggung jawab, dan dedikasi tinggi dari para teknisi dan pekerja Peruri.

Kami pun meninggalkan kompleks Peruri dengan hati damai dan suka cita serta membawa pulang pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga kepercayaan terhadap mata uang nasional kita, Rupiah. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *